Adica Wirawan
Adica Wirawan Wiraswasta

Founder of Gerairasa | "Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Supaya Pertanian di Indonesia "Awet Muda"

12 Mei 2019   11:11 Diperbarui: 15 Mei 2019   10:59 377 14 2
Supaya Pertanian di Indonesia "Awet Muda"
sawah-sawah di kota yang terus dikepung pembangunan (sumber: dokumentasi Adica)

Pada tahun 2015, saya sempat terpapar "demam" urban farming. Semua itu bermula sewaktu saya membaca artikel yang memperlihatkan sebuah gerakan bercocok tanam di perkotaan. Hati saya tergugah setelah membaca artikel tadi karena umumnya kegiatan bercocok tanam dilakukan di desa-desa, bukan di kota-kota besar.

Saya pun tertarik mencoba bertani di rumah. Hal awal yang saya coba adalah bertani selada di akuarium. Mungkin ini terdengar "aneh", "nyentrik", dan agak "gila"! 

Namun, hal itu sangat mungkin dilakukan. Asalkan kita tahu caranya, semua media bisa dipakai untuk bercocok tanam, termasuk akuarium sekalipun. Dengan menggunakan metode hidroponik dan memanfaatkan akuarium bekas, saya pun mulai menanam selada. Hasilnya? Selada itu ternyata bisa tumbuh!

menanam selada di akuarium (sumber: dokumentasi Adica)
menanam selada di akuarium (sumber: dokumentasi Adica)

Sesaat saya bisa menikmati rasanya jadi petani. Ketika apa yang kita tanam membuahkan hasil, senangnya luar biasa! Kini saya paham bagaimana perasaan petani di desa-desa sewaktu melihat upaya tani mereka menuai sukses.

Sayangnya, perasaan tersebut hanya bertahan sebentar saja. Cerita tadi rupanya bukan "Dongeng Cinderella", yang selalu berujung bahagia. Sebab, ada waktunya saya juga menanggung kerugian, terutama ketika hama menyerang tanaman yang baru berumur beberapa minggu.

Parahnya, kejadian itu tak hanya terjadi sekali. Pada kesempatan berikutnya, hama kembali menyerang tanaman saya. Usaha yang saya lakukan selama berminggu-minggu kembali jadi sia-sia!

Kesulitan Para Petani

Biarpun menuai banyak kerugian, bukan berarti tidak ada hikmah yang bisa saya petik. Lewat pengalaman tersebut, mata saya jadi terbuka bahwa bertani itu "berat". Ternyata ada banyak kesulitan dalam bertani.

Makanya, saya kemudian jadi salut dengan para petani. Meskipun usahanya sering "dihantui" beragam risiko, mereka tetap berjuang menghadirkan bahan makanan untuk kita.

Kalau diuraikan secara lebih rinci, mungkin ada tiga risiko utama yang sering "menghantui" petani.

Yang pertama adalah risiko gagal panen. Harus diakui, tidak semua kegiatan pertanian punya cerita yang indah pada akhirnya. Seperti yang saya alami, ada waktunya petani waswas menghadapi beragam kemungkinan yang bisa menyebabkan gagal panen.

Hama, cuaca, dan bencana alam bisa menjadi ancaman serius yang mengintai sewaktu-waktu. Secermat apapun upaya pencegahan yang dilakukan, kalau memang sudah waktunya terjadi, ya terjadi. Musibah memang sulit sekali ditolak, dan jika sudah begitu, petani mesti siap memetik banyak kerugian: rugi waktu, rugi tenaga, dan tentunya rugi biaya.

Yang kedua adalah masalah distribusi. Upaya distribusi produk pertanian memang masih terbatas di kalangan petani. Maklum, selama ini, para petani sering "terbelenggu" oleh sistem distribusi yang kurang sehat. Pasalnya, tengkulak kerap "menggencet" harga jual produk pertanian.

Akibatnya, petani tidak mendapat harga yang adil atas kerja kerasnya. Hal itu jelas menambah beban yang dipikul para petani. Sudah bertani itu susahnya bukan main, tapi begitu hasilnya jadi, jerih payahnya tidak dihargai dengan pantas!

Yang ketiga adalah soal permodalan. Seperti bisnis pada umumnya, sektor pertanian juga butuh modal. Bila diibaratkan, modal adalah "napasnya" bisnis pertanian. Tanpa modal yang mumpuni, jangan harap roda traktor akan berputar, pupuk berkualitas akan mudah didapat, dan para petani akan hidup dengan nyaman.

Sayangnya, mendapatkan modal itu tidaklah gampang. Bank belum tentu berani kasih pinjaman kalau tidak ada jaminan. Kalau pemilik sawah tentu bisa "menyekolahkan" sertifikat tanahnya untuk memperoleh modal dari bank. Namun, bagaimana kabarnya dengan para buruh tani, yang hidupnya hanya bergantung pada sistem bagi hasil dengan pemilik sawah? Mereka itulah yang jarang "tersentuh" oleh perbankan.

Masalah Regenerasi Petani

Persoalan-persoalan itulah yang bikin anak muda enggan merintis karier di bidang pertanian. Mereka lebih memilih profesi lain, macam guru atau karyawan kantor. Hal itu kemudian menimbulkan masalah regenerasi petani. Orang yang berprofesi jadi petani semakin langka, dan kalau terus terjadi, hal itu bisa mengancam sektor pertanian tanah air.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3