Mohon tunggu...
Adian Saputra
Adian Saputra Mohon Tunggu... Jurnalis

Jurnalis, penulis, editor, pengajar jurnalisme

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Serunya Reporter Cilik Meliput Pilpres

11 Juli 2014   01:41 Diperbarui: 18 Juni 2015   06:43 0 1 2 Mohon Tunggu...
Serunya Reporter Cilik Meliput Pilpres
1404992218674196946

[caption id="attachment_333061" align="aligncenter" width="300" caption="Azzahra, didampingi Adam dan Aulia, sedang mewawancarai Ketua KPPS TPS 26 Hajimena, Natar, Lampung Selatan, Ahmad Muslih. (Foto: Ikhsan Dwi Nur Satrio)"][/caption] Preambule: Tulisan ini semestinya saya posting kemarin, pas 9 Juli. Namun, lantaran ada pekerjaan lain, baru sekarang bisa saya unggah. Semoga masih hangat. Tabik Di koran tempat saya bekerja, Lampung Post, saban Minggu ada rubrik Reporter Cilik. Sudah tiga bulan belakangan ini, saya dimutasi ke desk ini dari ranah kerja sebelumnya: desk Online. Reporter cilik ini sesuai dengan namanya dikerjakan oleh dua sampai tiga siswa SD kelas III sampai kelas V. Setiap minggu, sekolah kami gilir. Lantaran musim liburan, agak sulit mencari siswa yang mau dijadikan reporter cilik. Pada edisi minggu ini, saya melibatkan tiga anak dekat rumah. Karena minggu ini ada peristiwa penting Pilpres, destinasi liputan pun soal itu. Saya kemudian memilih tiga anak. Muhammad Adam Firdaus (SD Tri Sukses, Natar, Lampung Selatan), Dheanova Talitha Azzahra (SD Tri Sukses), dan Aulia Dwi Arlianti (SDN 2 Hajimena). Aulia adalah yang termuda. Ia baru naik kelas III. Objek liputan pun saya pilih. Kebetulan dekat rumah ada TPS 26 Hajimena. Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara-nya tetangga kami juga, Ahmad Muslih. Tugas saya berikutnya adalah memberikan pelatihan singkat kepada tiga reporter cilik ini. Cukup setengah jam memberikan taklimat kepada mereka. Ada delapan pertanyaan yang saya berikan kepada mereka. Adam dan Azzahra dapat tiga, Aulia dapat dua. Saya berikan tips bagaimana melakukan wawancara. Anak-anak tampak sangat tak sabar untuk bertugas. Saya pinjami sebuah tape recorder juga sebagai alat bantu. Ketiganya juga kami pinjami rompi biru khas reporter cilik. Mereka girang. Yang agak gugup Aulia, maklum paling kecil. Tapi saya yakinkan bahwa mereka bisa. Kuncinya, kata saya, berani bertanya dengan suara yang jelas. Perhatikan apa yang dijawab oleh narasumber. Dekatkan tape recorder di mulut narasumber. Cuaca sedikit hujan. Tapi kami tetap berjalan. Tak jauh dari rumah, TPS itu berada. Ahmad Muslih sudah saya kontak sejak semalam. Jadi, saat kami datang, ia sudah siap. Anak-anak kemudian berdialog dengan Ahmad Muslih. Azzahra memulai pertanyaan, antara lain soal jumlah mata pilih, persiapan, dan kendala saat mempersiapkan TPS. Ahmad Muslih menjawab dengan lugas dan terang. Kata Muslih, tidak ada kendala sama sekali dalam mempersiapkan TPS. Tempat yang dipakai ialah ruangan yang saban sore dipakai anak-anak untuk mengaji. Kursi untuk duduk calon pencoblos, juga dipinjam dari warga sekitar. Sound system juga diambil dari masjid. Adapun jumlah mata pilih, kata Muslih, di kisaran 400-an orang. Beberapa anak yang ada di situ, ikutan nimbrung. Beberapa bapak dan ibu juga ikut memotret. Barangkali baru kali ini mereka lihat ada reporter cilik. Momennya pas pula: Pilpres. Usai Azzahra, Adam bertanya. Dari soal arti pentingnya pilpres sampai tata cara pencoblosan. Anak-anak memperhatikan secara saksama. Mereka manggut-manggut. Tape recorder bekerja dengan baik. Muslih menuturkan, pilpres ini penting untuk memilih pemimpin bangsa. Sebab, regenerasi kepemimpinan harus berjalan untuk kebaikan anak-anak bangsa. Ia pun menjelaskan ringkas tata cara pencoblosan. Usai menerima surat undangan, calon pemilih datang ke TPS. Usai mendaftar, mereka mendapat surat suara, melakukan pencoblosan, memasukkan surat suara ke boks, mencelup jari ke tinta, dan pulang. [caption id="attachment_333062" align="aligncenter" width="300" caption="Ahmad Muslih sedang menjelaskan tata cara pencoblosan kepada tiga reporter cilik. (Foto: Ikhsan Dwi Nur Satrio)"]

1404992288268970186
1404992288268970186
[/caption] Reporter cilik ketiga, Aulia, giliran bertanya. Suaranya paling kecil. Ia agak gugup. Saya beri tanda dengan mata supaya dia tenang. Alhamdulillah, dua pertanyaan mengalir lancar. Ia bertanya soal golput dan harapan untuk presiden mendatang. Kata Muslih, sedapat mungkin setiap warga tidak golput atau tidak memilih. Sebab, itu hak warga negara. Soal harapan, Muslih bilang, presiden mendatang harus mampu bekerja dengan baik untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Sesi wawancara pun usai. Fotografer kami, Ikhsan Dwi Nur Satrio, kemudian mengajak tiga repoter kanak-kanak itu masuk ke ruang pencoblosan. Ikhsan mengajak ketiganya untuk berpose. Anak-anak rupanya masih ingin bertanya. Mereka pun bertanya, di luar konsep yang saya jelaskan. Saya senang. Mereka bertanya bagaimana kalau calon pemilih tidak dapat undangan, sampai bagaimana menjaga keamanan pilpres kali ini. Anak-anak tampak menikmati tugas baru mereka sebagai reporter. Saya hanya memperhatikan dari jauh. Kurang lebih satu jam, reportase kami berakhir. Usai pamit, kami balik kandang. Saya memandu mereka untuk menyalin jawaban dari tape recorder. Azzahra, Adam, dan Aulia lumayan terampil menyalin jawaban dari tape recorder. Meski jawabannya padat, saya memaklumi. Toh, nanti saya juga yang akan menyempurnakan untuk naik siar. Tugas berakhir. Rompi yang saya pinjamkan, ditanggalkan. Kertas hasil tulisan mereka, saya simpan. Besok hasil reportase ini mesti kelar. Serunya reporter cilik meliput pilpres. Dari depan pintu rumah, saya menyaksikan ketiganya menjadi bintang. Mereka ditanyai teman mainnya. Mereka antusias menjawab. Setidaknya, mereka dapat pelajaran baru hari itu. Belajar menjadi reporter, belajar bertanya, belajar berani. Salam damai untuk pemilu presiden kali ini.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x