Adi Ankafia
Adi Ankafia Makhluk Millenial

Ordinary People; Sabrang Noelliam Bagaskara Mandjer Kawuryan; Grá Sabrina Laniakea Myristica Naira; Facebook : Adi Ankafia; Instagram : @adiankafia

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Kenangan Sarapan di 23/9 Park, Ho Chi Minh City, Vietnam

12 Januari 2019   19:56 Diperbarui: 15 Januari 2019   14:12 320 3 2
Kenangan Sarapan di 23/9 Park, Ho Chi Minh City, Vietnam
Suasana Pagi di Salah Satu Sudut Ho Chi Minh City, Vietnam - Dokumentasi Pribadi

Setelah menjalani malam penuh drama, saya dan Basir melanjutkan perjalanan menuju Pham Ngu Lao Street menggunakan bis nomor 152 dengan trayek Tan Son Nhat International Airport -- Terminal Ben Thanh Market. Matahari mulai naik dan terasa terik. Waktu telah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Suasana jalanan di Ho Chi Minh City penuh dengan hiruk pikuk kendaraan bermotor, khususnya roda dua. Lalu lintas tampak semrawut. Polanya sangat tidak teratur. Belakangan saya melihat kondisi tersebut mulai terjadi di kota tempat saya berdomisili, Bogor.

Kenek bis menarik uang tiket untuk saya dan Basir. Seharusnya harga tiket per orang adalah 4000 VND (Viet Nam Dong), saat itu (tahun 2012) senilai sama dengan Rp. 2000,-. Tapi, saya dan Basir harus membayar total jenderal 16000 VND (2 x 8000 VND) karena ransel saya dan Basir dianggap sebagai penumpang juga. 

Seorang pemuda yang baru naik dari salah satu shelter bis langsung mengambil tempat duduk bersebelahan dengan saya dan Basir. Melihat saya dan Basir tampak seperti turis, pemuda tersebut menawarkan dirinya untuk menjadi guide. Saya dan Basir menolak halus. Pemuda tersebut masih terus melakukan determinasinya dengan menawarkan harga guide yang menurutnya sudah sangat murah dibanding lainnya. Saya dan Basir tetap bergeming. Merasa kalah dan putus asa, beberapa saat kemudian pemuda tersebut turun. Tapi, salutnya, pemuda tersebut masih berpamitan kepada saya dan Basir dengan cara yang sopan sekali.

Perjalanan dari Tan Son Nhat International Airport ke Terminal Ben Thanh Market memakan waktu kurang lebih 45 menit. Ben Thanh Market adalah pasar besar yang terletak di Distrik 1, Ho Chi Minh City. Ben Thanh Market adalah landmark atau ikon atau simbol penting bagi Ho Chi Minh. Pusat peradaban masyarakat Ho Chi Minh City. Ben Thanh Market telah menjadi saksi sejarah sebagian besar perubahan Ho Chi Minh City dari mulai invasi Prancis dan Amerika Serikat hingga perang saudara antara dua kubu ideologi besar, yakni Komunis dan South East Asia Treaty Organization (SEATO). Ben Thanh Market merupakan pusat perekonomian masyarakat setempat yang di dalamnya banyak menyediakan cinderamata seperti caping, tekstil, ao dai (pakaian khas perempuan Vietnam), dan beberapa masakan lokal yang otentik.

Dari Terminal Ben Thanh Market, saya dan Basir menyeberang melalui semacam bundaran menuju 23/9 Park, sebuah taman kota yang cukup rindang dan asri. Saya dan Basir memilih untuk istirahat sebentar sambil sarapan. Saya dan Basir membuka bekal ransum yang sengaja dibawa dari Indonesia, berupa roti tawar, keju Kraft, Silver Queen, dan susu Bear Brand. Saya dan Basir memilih duduk di salah satu bangku taman.

Belum sampai sarapan potongan pertama tertelan, dua orang pengemudi becak motor mendatangi saya dan Basir lalu menawarkan semacam one day tour ke beberapa tempat wisata paling banyak dikunjungi di Ho Chi Minh City. Becak Motor di Vietnam dikenal dengan sebutan Cyclo. Saya dan Basir sangat tidak antusias menyambut tawaran mereka. Disamping karena mereka datang disaat saya dan Basir sedang sarapan juga karena tempat wisata yang ditawarkan sangat tidak menarik. Berkisar antara museum dan lokasi-lokasi sejarah peninggalan Perang Vietnam, seperti -salah satunya- Cu Chi Tunnels yang menurut saya pribadi masih kalah cantik jika dibandingkan dengan Lobang Jepang di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. 

Lubang Jepang di Kota Bukittingi, Sumatera Barat - Dokumentasi Pribadi - Photo Taken by A.D.U.
Lubang Jepang di Kota Bukittingi, Sumatera Barat - Dokumentasi Pribadi - Photo Taken by A.D.U.
Saya yang mengidap Claustrophobia jelas menolak mentah-mentah mencoba Cu Chi Tunnels. Museum-museum peninggalan perang di Indonesia juga sangat banyak. Apalagi di kota kelahiran saya dan Basir, Madiun. Saya dan Basir hanya berniat menikmati keseharian warga lokal. Memposisikan atau mengambil sudut pandang dari kacamata sebagai warga asing yang mencoba membaur dengan adat-istiadat atau kebiasaan warga setempat sambil membuat dokumentasi menggunakan handycam dan kamera. Mencatat hal-hal menarik atau unik atau aneh jika diperlukan.

Andri Sofyan Husein a.k.a. Basir dengan Latar Belakang Pham Ngu Lao Street - Dokumentasi Pribadi
Andri Sofyan Husein a.k.a. Basir dengan Latar Belakang Pham Ngu Lao Street - Dokumentasi Pribadi
Setelah mengemasi bekal sarapan, saya dan Basir melanjutkan perjalanan menuju Pham Ngu Lao Street yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari 23/9 Park. Saya dan Basir segera mencari tempat penginapan. Saya dan Basir menjatuhkan pilihan pada Saigon Backpackers Hostel sebagai tempat menginap. Saigon Backpackers Hostel beralamat di 373/20 Pham Ngu Lao, Phuong Pham Ngu Lao, Quan 1, Ho Chi Minh City, Vietnam, nomor telepon +84 28 3837 0230. Saat itu saya dan Basir mendapatkan penawaran harga 300000 VND atau senilai 150 ribu per malam. Karena chek in baru bisa dilakukan pukul 12 siang, setelah menyelesaikan pembayaran, saya dan Basir menitipkan ransel kepada resepsionis. Berbekal handycam, kamera, serta dompet pastinya, saya dan Basir melanjutkan petualangan menelusuri tiap inchi Ho Chi Minh City dengan....... jalan kaki.