Adi Ankafia
Adi Ankafia Makhluk Millenial

Ordinary People; Sabrang Noelliam Bagaskara Mandjer Kawuryan; Grá Sabrina Laniakea Myristica Naira; Facebook : Adi Ankafia; Instagram : @adiankafia

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Kenangan Menginap di Tan Son Nhat International Airport

12 Januari 2019   18:18 Diperbarui: 12 Januari 2019   19:35 289 7 2
Kenangan Menginap di Tan Son Nhat International Airport
Menginap Di Tan Son Nhat Internasional Airport - Dokumentasi Pribadi - Foto Diambil Oleh Basir

03 Januari 2012 Malam itu udara di Ho Chi Minh City berkisar antara 24 hingga 26 derajat celcius. Lumayan sejuk. Saya dan Basir masih terduduk di tengah hiruk pikuknya orang-orang dengan bahasa yang tidak bisa kami mengerti dan pahami. Suasana di Tan Son Nhat International Airport begitu ramai seiring kedatangan berbagai penerbangan dari Asia, Australia, maupun Eropa.

Sedianya saya dan Basir hendak langsung menuju Pam Ngu Lao Street, suatu kawasan yang menjadi tempat bertemunya para backpacker dari seluruh penjuru dunia di Ho Chi Minh City. 

Namun, bis nomor 152 jurusan terminal Ben Thanh Market telah habis jam operasinya. Waktu menunjukkan pukul 22.30 dan tidak ada perbedaan dengan Jakarta. Naik taksi jelas --bukan tidak mungkin- melainkan tidak mau karena tujuan saya dan Basir adalah bereksperimen melakukan perjalanan ala backpacker dengan budget minimal. Terpaksa, menunggu sampai besok paginya adalah pilihan paling rasional, logis, dan realistis.

Tan Son Nhat International Airport termasuk bandara yang nyaman walaupun tidak terlalu besar. Sekilas, desain Tan Son Nhat International Airport mirip dengan Juanda International Airport Surabaya. Menurut informasi dari beberapa teman yang pernah kesini, saya dan Basir bisa saja tidur di dalam bandara untuk menunggu pagi. Masalahnya, saya dan Basir sudah berada di luar bandara dan dilarang masuk lagi oleh beberapa petugas yang bahasa inggrisnya kacau banget. Bahasa inggris saya dan Basir juga sama kacaunya, sih. Terbayang bakal tidur di emperan bandara berselimut angin dingin, saya dan Basir pasrah saja. Sementara Basir merokok di pojokan, saya mondar-mandir menikmati keriuhan. Sempat terbesit penyesalan karena tidak bawa gitar yang mungkin bisa digunakan untuk ngamen biar bisa nambahin uang jajan.... Hehehe.. tapi, ngamen di bandara apa boleh? Kecuali saya dan Basir adalah personel NOAH. Ngarep! Hehehe..

Saat saya berada di lantai dua Tan Son Nhat International Airport, saya mengamati orang-orang yang keluar masuk ke dalam bandara. Saya sempat mengira tempat tersebut adalah pintu kedatangan juga sebagaimana di lantai satu. Setelah saya cermati lebih seksama ternyata yang tidak bawa tiket pun (pengantar, misalnya atau sopir taksi/ojek yang mencari penumpang/menawarkan jasa) bisa keluar masuk macam di rumah sendiri. Waktu menunjukkan pukul 23.45 WHCMC (Waktu Ho Chi Minh City = Waktu Indonesia Bagian Barat). Saya turun ke lantai satu memanggil Basir.

Andri Sofyan Husein a.k.a. Basir - Partner In Crime - Dokumentasi Pribadi
Andri Sofyan Husein a.k.a. Basir - Partner In Crime - Dokumentasi Pribadi
Saya dan Basir masuk dengan se-rileks mungkin. Berusaha tidak menunjukkan kecanggungan/kegrogian agar tidak terlihat seperti orang yang baru main ke Ho Chi Minh City. Karena, biar bagaimanapun saya dan Basir belum tahu betul seluk beluknya. Dari sudut mata, saya lihat seorang petugas agak curiga dan mengikuti dari belakang. Saya langsung berakting pura-pura mencocokkan jadwal di layar plasma yang terpampang di salah satu tiang bangunan bandara. Dan, seolah seperti penumpang yang terburu-buru takut ketinggalan pesawat, saya dan Basir langsung masuk ke antrian chek in bandara. Petugas tersebut berbalik arah tak jadi mengejar.

Di tengah antrian saya melihat ke sekeliling. Di bangku tunggu yang berjajar di belakang ternyata sudah banyak bule-bule gembel yang menyabotase tempat untuk tidur. Asem! Dan, sebelum benar-benar tidak kebagian, pelan-pelan saya dan Basir melipir keluar dari antrian. Mengambil posisi di salah satu sudut. Biar lebih meyakinkan seperti sedang menunggu pesawat, saya berinisiatif ambil troli meski sejatinya tidak dibutuhkan sama sekali. Sekedar buat naruh tas ransel. Properti buat akting. Sekali lagi, biar bagaimanapun, saya dan Basir belum benar-benar merasa aman.

Perlahan antrian pun mulai habis. Para penumpang menuju gate masing-masing menunggu untuk boarding. Saya merasa agak lega ketika melihat beberapa bule gembel tadi keluar masuk cari makanan dan minuman. Petugas yang ada di dalam pun hanya lalu lalang tanpa menghiraukan kami semua. Alhamdulillah saya dan Basir jadi merasa aman.

Lagi asik ngobrol sama Basir, seorang petugas konter chek in dari Cebu Pacific Air, perempuan, menghampiri dan menanyakan kenapa saya dan Basir keluar dari antrian. Saya kaget karena tidak menyangka jika ada petugas yang memperhatikan gerak-gerik saya dan Basir. Saya pun menjelaskan dengan berbohong bahwa saya telah salah melihat jadwal chek in. Setelah terlibat obrolan ringan diselingi canda tawa garing, petugas konter chek in dari Cebu Pacific Air tersebut mempersilahkan saya dan Basir untuk melanjutkan istirahat.

Suasana di dalam bandara sudah mulai terasa sunyi. Bule-bule gembel sudah pada tidur. Begitupun Basir. Saya menyandarkan badan di kursi. Mencoba rileks agar bisa mengantuk dan --berharap- akhirnya tertidur. Tapi susah. 

Saat memperhatikan detil bangunan sambil membayangkan proses pengerjaannya dan fungsinya sebagai bandara militer di masa lalu juga sebagai titik sentral dalam Perang Vietnam yang terjadi pada tahun 1957 - 1975, tiba-tiba pandangan saya berhenti pada sepasang kekasih yang sedang bercumbu mesra tepat beberapa meter saja di samping tempat saya duduk. Desah nafas mereka yang berpacu cukup mengganggu saya. Saya berpikir norak sekali pasangan tersebut. Sebegitu gembelnya kah mereka sehingga harus memilih bandara sebagai tempat mencurah nafsu?