Kang Ade
Kang Ade profesional

Driver 1k km Palu - Mamuju - Tana Toraja ajang Datsun Risers Expedition 2 Etape 2 Sulawesi. www.kliksoreang.com | Email: info@individualis.me | http://individualis.me

Selanjutnya

Tutup

Hijau

Lebih Mengenal Balitbang PU Sambil Ber-Zumba Ria di CFD Dago Bandung

5 Desember 2017   23:56 Diperbarui: 6 Desember 2017   00:31 477 0 1
Lebih Mengenal Balitbang PU Sambil Ber-Zumba Ria di CFD Dago Bandung
mengeluarkan-keringat-dengan-ber-zumba-5a26cccd756db5564b7f1a94.jpg

Artikel yang akan saya share kali ini merupakan artikel beberapa minggu yang silam. Saat itu saya mencoba untuk Lebih Mengenal BalitbangPU Sambil Ber-Zumba Ria di CFD Dago Bandung

Berawal dari ajakan BalitbangPUPR kepada Kompasianer untuk hadir di hari Minggu pada 19 Nopember 2017 yang lalu untuk berkumpul di Car Free Day Dago. Dan tempat yang disepakati untuk berkumpul adalah di depan pelataran Eduplex Dago - sebuah co-working space yang lumayan populer dewasa ini di Bandung.

Bicara program pemerintah kota Bandung dengan menggelar rutin CFD setiap minggu pagi di Dago, sebelum pemerintahan Ridwan Kamil pun - CFD Dago sudah bergulir. Car Free Day(CFD) atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor(HBKB) ini selain di Dago, juga diselenggarakan di titik keramaian lain di Bandung - lebih tepatnya di sepanjang jalan Buahbatu.

Sepengalaman saya, sekira 3 tahun ke belakang - kalau saya datang ke HBKB di Dago. Pukul 6 kurang mulai dari jalan Cikapayang hingga sampai ke rumah sakit Boromeus atau ke tempat lebih atasnya lagi, kepadatan pengunjung sangat signifikan. Berbeda saat kemarin (Minggu, 19/11) pukul 6 ruas jalan raya Dago tidak sepadat yang saya bayangkan. 

Berangkat dari Soreang, saya sudah menyusun rencana - salah satunya akan menuntun sepeda motor dari mulut jalan Hasanudin hingga ke lokasi acara atau di Eduplex Dago. Namun, ternyata ruas jalan Dago masih terlihat sepi dan beberapa kendaraan baik roda 2 atau 4 masih leluasa untuk melewati jalan tersebut. Akhirnya, rencana menuntun sepeda motor pun saya urungkan. 

Padahal dulu nggakbakalan bisa melakukan hal seperti itu, tetap saja kita harus menuntun kendaraan roda dua bermotor saat melalui keramaian HKBK Dago. Tak lama usai memarkirkan sepeda motor, saya pun menemui teman-teman yang sudah janjian beberapa hari sebelumnya. Kami semua sepakat mengikuti sebuah event yang digagas oleh BalitbangPUPR (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat).

Dalam rangka memperingati Hari Bakti PU ke-72, Balitbang PU mengambil tempat di Car Free DayDago menggelar beberapa aktifitas olahraga seperti; jalan santai, games, senam aerobik, akustik serta photobooth. Benar saja, kemarin dari yang semula suasananya cukup tenang, di depan jalan persis dengan Eduplex -- tempat saya dan teman-teman blogger serta kompasianer berkumpul.


Tibalah saatnya untuk Mengeluarkan Keringat dengan ber-Zumba

Rupanya, senam aerobik yang dimaksud adalah senam zumba. Beruntung sekali di panggung mentor senamnya begitu profesional sehingga yang di bawah mampu mengikuti dengan penuh semangat bergerak sesuai dengan arahan.

Dan tidak lama saat kami semua melakukan senam zumba, rombongan longmarch yang bergerak dari PUSAIR (Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air) yang berlokasi di bilangan Coblong, Dago memasuki kawasan HBKB Dago dan turut berbaur bersama kita semua. Keriuhan pun menjadi takterelakkan.

Barulah setelah usai senam zumba dan beristirahan sejenak, acara diskusi pun dimulai. Dan saya senang sekali bisa berkesempatan ngobrol bareng Pejabat BalitbangPUPR, salah satunya dengan Arief Sabaruddin selaku Kepala Pusat Litbang PUPR Puskim.

Cukup larut juga saya dan beberapa teman blogger serta Kompasianer yang berkesempatan berbincang-bincang bersama pak Arief. Dan saya sempat menanyakan permasalahan sampah dan banjir.

Saat ditanya tentang persoalan banjir dan sampah yang terjadi di kota Bandung, menurut Arief- sudah saatnya saat ini masyarakat mengubah pola pikir dari membuang sampah menjadi mengelola sampah.

Pemerintah berusaha memberdayakan program 3R(reduce, reuse, recycle) praktiknya dengan mengajarkan masyarakat untuk mampu memilah sampah. 

"Ketika menemukan sampah yang memiliki nilai kompos bisa dijadikan kompos. Jadi bagi ibu-ibu yang mampu melakukan pemilahan sampah dan mengelola sampah dengan baik, di situ bisa menghasilkan ekonomi," tegas Arief.

Saat ditanya ada ataukah tidak pelatihan tentang bagaimana melakukan pemilahan dan mengelola sampah, pak Arief kembali menjawab bahwa pemerintah biasanya melakukan sosialisasi tentang 3R tersebut.

Dan di Indonesia termasuk di Bandung, pemahaman tentang pemilahan sampah merupakan 'pekerjaan rumah' besar. Pasalnya, masyarakat memiliki pengetahuan yang minim tentang cara pemilahan sampah. Padahal, pemilahan sampah adalah kunci utama dalam pengelolaan sampah.

"Jangan pernah memiliki anggapan, 'sampah itu harus dibuang' akan tetapi 'harus dikelola'," ujar Arief.

Pemahaman tersebut terjadi karena sampah dianggap tidak memiliki nilai ekonomi. Orang-orang cenderung membuang sampah. Cara membuang sampah pun sembarangan, kadang ke sungai, ke parit, dibiarkan berserakan di jalanan.

"Akibatnya sungai menjadi mampet kemudian di saat musim hujan seperti sekarang (Nopember 2017) menjadi banjir. Lalu yang disalahkan pemerintah padahal semua itu ulah manusianya sebagai warga masyarakat," tambah Arief.

Bila melihat sungai-sungai di Bandung masih banyak dicampuri sampah. "Siapa itu yang membuangnya? Tidak mungkin Dinas Kebersihan membuang sampah sembarangan ke sungai?" kata Arief yang disambut tawa saya dan teman-teman.

Masyarakat terkecil yaitu keluarga bisa memulai untuk memahami tentang pemilahan dan pengelolaan sampah. Setidaknya di rumah tangga kita, sedikitnya ada 2 tempat sampah; sampah organik dan sampah non organik.

Arief menambahkan, "Sampah yang bisa dijual, seperti botol-botol, plastik dikumpulkan dalam tempat yang sama. Lalu sampah berupa kompos juga dikumpulkan. Ketika satu RT bisa mengumpulkan kompos bisa dijual ke petani. Paling tidak sebagai pupuk di rumah kita masing-masing."

Jadi yang paling penting selain mensosialisasikan 3R, tugas pemerintah yang lain adalah bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan. Dan tidak kalah penting sikap kepedulian, "Percuma saja pemerintah mensosialisasikan tentang 3R misalnya -- namun masyarakatnya sangat tidak peduli," pungkas Arief.

Usai berbincang-bincang serius tapi santai dengan Arief Sabaruddin, saya dan teman-teman pun memiliki kesempatan emas berbicara seputar pembangunan jalan dan jembatan bersama seorang pakar di bidang tersebut yaitu ibu Natalia Tanan.

Bersama dengan Natalia, saya dan teman-teman kian faham tentang Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH). Ternyata, program yang dikelola oleh ibu berkacamata ini sangat berhubungan erat dengan fasilitas pejalan kaki.

"Ada beberapa kriteria fasilitas pejalan kaki yang mendukung program kota hijau," tegas Natalia.

Natalia berkantor di Bandung dan saat ini tengah fokus menggalakkan Fasilitas Pejalan Kaki Menuju Kota Hijau. Sebagai bagian dari transportasi berkelanjutan atau biasa disebut juga dengan istilah Green Transportation, penyediaan pejalan kaki turut berperan dalam mewujudkan kota hijau.

Salah satu upaya yang kini tengah dilakukan oleh ibu Natalia adalah bagaimana cara mewujudkan moda pejalan kaki dengan memberikan ruang publik yang menarik. Sehingga bila moda pejalan kakinya bagus maka tidak akan sulit menarik minat warga masyarakat untuk membiasakan berjalan kaki kemana-mana.

Apabila ini terwujud maka pejalan kaki bisa membantu pemerintah dalam mewujudkan kota hijau kemudian mampu mendorong pengembangan sistem transportasi. Termasuk kelayakan berjalan atau walkability. Upaya yang dilakukan dalam mendukung para pejalan kaki. Apa saja yang diperhitungkan?

Pusjatan berusaha untuk memperhitungkan konektivitas jalur berjalan, kualitas fasiltas pejalan kaki, kondisi jalan, pola penggunaan lahan, dukungan masyarakat, keamanan dan kenyamanan untuk berjalan.

Dari memperhitungkan hal-hal tersebut, membuahkan prinsip-prinsip Fasilitas Pejalan Kaki, antara lain;

  1. Aksesbilitas dan konektivitas,
  2. Daya Tarik,
  3. Kenyamanan dan kesetaraan,
  4. Keselamatan,
  5. Keamanan.

Saat kemarin pun terdapat literasi di ruang publik HBKB Dago, semua yang kami bicarakan sudah dirangkum dalam beberapa poster, baik itu saat berbincang-bincang dengan bapak Arief atau dengan Ibu Natalia.

Wah ... tidak saja hiburan, saya pun pulang ke rumah dengan membawa wawasan baru seputar PUPR dan Pusjatan. Jadi ya ... Taksekadar Ajakan Zumba dari BalitbangPU di Depan Eduplex Dago pada hari itu.


Kalau begitu ... Itu saja yang bisa dilaporkan tentang kehadiran saya di Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Dago (Minggu 19 Nopember 2017 yang lalu).