Mohon tunggu...
Adella Rihga Amelka
Adella Rihga Amelka Mohon Tunggu... Mahahasiswi Ekonomi Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017

by doing what she loves for a living

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Puasa dalam Perspektif Teknologi Modern

26 Juni 2019   18:25 Diperbarui: 26 Juni 2019   18:27 100 0 0 Mohon Tunggu...

Pada zaman modern ini, yang sangat berpengaruh dalam kehidupan dan pemikiran manusia adalah aspek materiil dan ilmu. Bahkan ini telah menjadikan manusia cenderung tidak menerima sesuatu kecuali telah melalui eksperimen laboratorium dan perhitungan matematis. Kondisi ini yang mendorong para Sarjana Muslim untuk mendalami fakta-fakta dan ajaran-ajaran seperti sholat, puasa, cinta kasih dan toleransi guna mengetahui pengaruhnya terhadap kelenjar tubuh dan otak manusia.

Penelitian ilmiah saat ini telah sampai kepada hasil yang menakjubkan, bahkan telah menambah khazanah pengetahuan dan iman para ilmuwan akan kebijakan Sang Pencipta, yang kemudian kembali dan berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran agama. Begitupun pada penelitian mengenai keistimewaan kesehatan pada saat berpuasa.

Ada satu bulan dimana umat muslim diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh, yaitu bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling dinanti umat muslim. Dimana bulan yang dianggap penuh dengan berkah dan rahmah. Seluruh umat muslim yang sehat dan sudah akhil balik diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh. Meskipun bagi sebagian orang ibadah puasa merupakan suatu ibadah yang cukup berat, tetapi terdapat banyak keistimewaan didalamnya, yaitu akan mendapat hikmah dari Allah berupa kebahagiaan, pahala berlipat, dan bahkan suatu mukjizat dalam kesehatan.

Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan pada sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu'aim: "Berpuasalah maka kamu akan sehat.". Maka dengan berpuasa akan bermanfaat secara biopsikososial berupa sehat jasmani, rohani, dan sosial. Rahasia kesehatan ini yang menjadi daya tarik para ilmuwan modern untuk meneliti berbagai aspek kesehatan di dalam berpuasa.

Hasil penelitian para dokter menunjukkan bahwa manusia bukanlah satu-satunya makhluk hidup yang menjalankan puasa, bahkan seluruh makhluk hidup di bumi ini juga melakukan puasa. Hewan berpuasa, seperti ada beberapa jenis burung yang tetap tinggal di sarangnya pada musim-musim tertentu setiap tahunnya tanpa makan. Begitupun pada sebagian jenis ikan yang mengurung dirinya di suatu tempat tertentu di dalam lautan atau sungai untuk beberapa masa tertentu tanpa makan.

Yang perlu menjadi catatan yaitu ternyata begitu makhluk-makhluk tersebut selesai dari puasa mereka, mereka menjadi lebih cerdas dengan segala aktifitasnya. Mayoritas mereka menjadi bertambah baik perkembangannya, begitupun pada kesehatannya setelah berpuasa. Maka tumbuhlah kulit bulunya yang baru yang lebih indah, ia mulai mengawini dan mulai berkicau, demikian juga pada serangga, ia berkembang biak dengan sangat cepat setelah berpuasa.

Jika makhluk hidup yang berperilaku sebagai fitrahnya dan berpuasa dianggap sebagai ekspresi psikologis dan memenuhi faktor alamiah, yang oleh para ilmuah diistilahkan sebagai "hipernation", maka bagaimana halnya dengan manusia yang berperilaku dengan akalnya yang lebih besar daripada berdasarkan instingnya?

Menurut seorang sarjana Antropologi, manusia telah mengenal puasa dengan fitrah dan instingnya sebelum turunnya agama-agama Samawi. Orang-orang Mesir Kuno telah mengenal puasa 5000 tahun sebelum agama Samawi diturunkan. Oleh orang-orang Yunani dan Roma juga telah mengenalnya sebelum lahirnya agama Nasrani. Mereka mengenal puasa dengan segala macam tujuannya, seperti untuk mensucikan ruh, melatih kesabaran, sebagai upaya pengobatan dan menjaga dari penyakit.

Fakta-fakta yang mendorong para ilmuan untuk berasumsi bahwa puasa merupakan ekspresi psikologis yang menurut karakteristiknya bukanlah semata-mata untuk orientasi amaliah ibadah. Puasa merupakan pemicu kehidupan dan kesehatan manusia secara komprehensif, seperti makan, bernapas, bergerak dan tidur. Makhluk hidup apa pun jenisnya, jika tanpa tidur dan bergerak tubuhnya akan menderita suatu jenis penyakit tertentu. Demikian juga tanpa puasa, maka tubuh akan terserang berbagai penyakit, karena keduanya merupakan kebutuhan biologis bagi makhluk hidup. Apa yang berlaku pada makhluk lain berlaku pula pada manusia.

Penelitian dengan analisis proses kimiawi dan proses biologis yang terjadi dalam tubuh manusia ketika dalam keadaan lapar atau sedang berpuasa yaitu, tubuh manusia mulai menghancurkan benda-benda makanan yang masuk dalam usus. Ketika benda-benda itu habis, maka protein-protein yang terbentuk mulai disebarkan ke seluruh tubuh yang berbeda-beda, yang pertama kali adalah ke hati dan otot. Maka puasa dalam keadaan tertentu dan tidak melebihi proporsi sebagaimana puasa Ramadhan, tersebarnya protein ke seluruh tubuh akan selalu dalam kondisi yang baru.

Puasa ini berfungsi sebagai pembaruan atau penggerak sel-sel dalam tubuh, terutama kelenjar-kelenjar yang mendorong pertumbuhan dan gerak yang mendorong aktivitas pencernaan dan pembinaan. Hal ini memberi pemahaman juga akan adanya pertumbuhan jasmani yang cepat pada hewan-hewan setelah mereka berpuasa. Ringkasnya, puasa akan memperpanjang umur makhluk hidup, mempercepat masa pertumbuhan, menambah kemampuan aktivitas berpikir, menambah kekuatan penghancuran dan memperbaiki sel-sel tubuh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x