Mohon tunggu...
Ade Syaeful Bahri
Ade Syaeful Bahri Mohon Tunggu... Praktisi Pendidikan

Guru & Dosen

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Teori Keynes Fakta, Konsumsi Menjawab di Tengah Pandemi Covid-19 (Anomali Kebijakan)

26 April 2020   11:11 Diperbarui: 26 April 2020   11:10 4280 0 0 Mohon Tunggu...

Teori Ekonomi keynes Fakta, Konsumsi  menjawab ditengah pandemi covid19 (anomali kebijakan) 

Pandemi covid 19 menjadi sebuah mahluk yg menakutkan bagi negara-negara yg tiap harinya terjadi lonjakan kasus positif dan yang meninggal dunia terlebih negara yang dalam kemampuan moneter dan fiscalnya tidak begitu kuat dan terkategori negara berkembang atau tinggal landas, tak terkecuali Indonesia yang tiap harinya selalu meningkat kasus positif dan yang meninggal dunia dari covid 19, yg cenderung banyak pengamat menilai langkah-langkah kebijakan yg di ambil negara sudah terlambat karena virus ini sudah bnyak menyebar di indonesia dampak dari kurangnya antisipasi negara bahkan cenderung menganggap enteng dengan statements-statement para pejabat negara di awal-awal sebelum kasus pertama covid 19 terjadi di depok Jawa Barat,  yg resmi di umumkan Presiden Jokowi tanggal 2 maret 2020. 

Pasca kejadian itu, himbauan dan maklumat negara dengan social dan phsyical distancing serta slogannya bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah menjadi kebijakan untuk rakyatnya memutus mata rantai covid 19, di tambah lagi dengan diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang sudah banyak di usulkan oleh pemerintah daerah dan sudah di setujui oleh pemerintah pusat melalui kementerian kesehatan. 

Walaupun pada kenyataannya rasa-rasanya tidak cukup efektif membatasi gerak masyarakat dalam memutus mata rantai penyebaran covid 19, karena masih banyak masyarakat yang beraktivitas di luar rumah untuk menyambung hidup memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari. 

Walaupun banyak lembaga lambaga pemerintah dan pendidikan serta fasilitas umum yg di liburkan agar  membatasi kegiatan masyarakat di luar rumah, tapi slogan dan himbauan ini tidak berlaku bagi masyarakat menengah kebawah dan cenderung miskin serta masyarakat yang berpenghasilan rendah pekerja harian atau buruh lepas dan pekerja informal yang suka tidak suka mereka tidak bisa makan kalau sehari tidak bekerja apalagi hanya mengandalkan bantuan sosial alias bansos yang tidak tepat guna dan cenderung salah sasaran bagi yang menerima karena ketidakakuratan dan biq data yang di punya negara tidak relevan. 

Dalam situasi saat ini di tengah datangnya bulan ramadhan 1441 H, kita harus akui fakta di lapangan antara kebijakan negara dan kenyataan di lapangan berbanding terbalik dengan keadaan masyarakat, dimana negara menginginkan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah guna memutus mata rantai penyebaran covid19, tetapi masyarakat ingin tetap beraktivitas dalam memenuhi kebutuhan ekonominya sehari-hari, hal ini karena ketidaktegasan dan keambiguan negara dalam menerapkan kebijakan terkait masalah covid19 ini, dan ini menjadi history teori keynes relevan dalam keadaan kehidupan ekonomi saat ini.

 EKONOMI KEYNESIAN: adalah nama suatu teori ekonomi yang diambil dari John Maynard Keynes, seorang ekonom Inggris yang hidup antara tahun 1883 sampai 1946. Beliau dikenal sebagai orang pertama yang mampu menjelaskan secara sederhana penyebab dari Great Depression. 

Teori ekonominya berdasarkan atas hipotesis siklus arus uang, yang mengacu pada ide bahwa peningkatan belanja (konsumsi) dalam suatu perekonomian, akan meningkatkan pendapatan yang kemudian akan mendorong lebih meningkatnya lagi belanja dan pendapatan. 

Pada Teori Keynes, konsumsi yang dilakukan oleh satu orang dalam perekonomian akan menjadi pendapatan untuk orang lain pada perekonomian yang sama. Sehingga apabila seorang membelanjakan uangnya, ia membantu meningkatkan pendapatan orang lain. 

Siklus ini terus berlanjut dan membuat perekonomian dapat berjalan secara normal. Ketika Great Depression melanda, masyarakat secara alami bereaksi dengan menahan belanja dan cenderung menimbun uangnya. Hal ini berdasarkan Teori Keynes akan mengakibatkan berhentinya siklus perputaran uang dan selanjutnya membuat perekonomian lumpuh. 

Solusi Keynes untuk menerobos hambatan pereknomian ini adalah dengan campur tangan dari sektor publik dan pemerintah. Ia berpendapat bahwa pemerintah harus campur tangan dalam peningkatan belanja masyarakat, baik dengan cara meningkatkan suplai uang atau dengan melakukan pembelian barang dan jasa oleh pemerintah sendiri. Selama terjadi Great Depression, hal ini bagaimanapun merupakan solusi yang tidak populer. 

Aliran Ekonomi Keynesian menganjurkan supaya sektor publik ikut campur tangan dalam meningkatkan perekonomian secara umum, dimana pendapat ini bertentangan dengan pemikiran ekonomi yang populer saat itu pemerintah dalam perekonomian. 

Teori ini percaya bahwa pasar yang bebas campur tangan akan mencapai keseimbangannya sendiri. Keynes berpendapat bahwa dalam perekonomian, fihak swasta tidak sepenuhnya diberikan kekuasaan untuk mengelola perekonomian, karena pada umumnya seperti yang dikatakan oleh pemikir beraliran sosialis, pihak swasta bertujuan utama untuk mencari keuntungan untuk dirinya sendiri dan apabila hal itu dibiarkan maka perekonomian akan menjadi tidak kondusif secara keseluruhan. 

Teori Keynes mengecam kebijakan pemerintah yang terlalu mendorong tabungan dan tidak mendorong konsumsi. Keynes juga mendukung pendistribusian kekayaan secara terkendali ketika diperlukan. 

Teori Keynes kemudian menyimpulkan bahwa ada alasan pragmatis untuk pendistribusian kemakmuran: jika segment masyarakat yang lebih miskin diberikan sejumlah uang, mereka akan cenderung membelanjakannya daripada menyimpannya yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Menurut teori yang telah saya sampaikan, sekiranya narasi terkait teori keynes yang mengakibatkan kebijakan pemerintah kita dalam menangani kasus covid 19 ini cenderung ke arah mencari jalan tengah yg suka tidak suka hasilnya pun menjadi di tengah-tengah, dimana satu sisi negara ingin menyelamatkan warganya dari dampak pandemi covid 19 ini agar tidak terus bertambah kasus positif dan meninggal.

Sisi lain negara juga memikirkan dampak perekonomian yg akan menggangu bahkan bisa mengalami resesi yg ditakutkan para pemimpin negeri ini,  apabila negara secara tegas menutup semua akses pergerakan aktivitas manusia dengan memberikan asupan ekonomi yang cukup kepada seluruh rakyat indoneisa.

Tetapi rasa-rasanya tidak akan mungkin cukup dan berdaya karena kemampuam moneter kita jauh dari kata cukup Menurut Sri mulyani Akibat wabah penyakit virus korona di Tiongkok, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksikan berada di bawah 5 persen. yang disampaikan di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/2/2020). 

Bahkan Sri Mulyani mengakui laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama akan melambat di bawah 5 persen, akibat wabah virus korona di Tiongkok. Kondisi tersebut sudah dilaporkan ke Presiden Joko Widodo, ungkapnya. 

Ini menjadi sinyal merah yang buruk bagi perekonomian kita yang pastinya jangan sampai terjadi yang di katakan oleh keynes yaitu terjadi "great depresion". 

Oleh karena itu cara yang paling efektif sekarang ini dalam memutus mata rantai penyebaran covid 19 ini adalah perlu adanya kerjasama yang kuat sesama komponen bangsa untuk masing-masing mengedepankan kebersamaan (ta'awun) kolektif kolegial dan berpikir positif serta berkhusnuzhan kepada semua pihak serta mengesampingkan ego sektoral dan egosentris, history ideologis dan politis untuk sama-sama berjuang menghadapi bersama virus ini agar hilang dari muka bumi dan indonesia, agar kehidupan bisa berjalan normal kembali, dan kita mulai membangun kembali negara ini menjadi bangsa yang semakin baik perekonominya..Aamiin Penulis : ketua Guru Ekonomi Kota Bekasi (Ade Syaeful Bahri, M.Pd)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x