Mohon tunggu...
ADE SURIYANIE
ADE SURIYANIE Mohon Tunggu... Guru - Guru

Senang belajar tentang kepenulisan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Semua Tak Sama, Ojo Dibandingke

6 September 2022   22:54 Diperbarui: 6 September 2022   22:58 207
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Siapa yang tak kenal Farel Prayoga, Bocah kecil yang tengah viral ini?

Sebuah tembang lagu yang akhir-akhir familier didengar akrab di telinga dengan lirik bahasa daerah. Lagu tersebut mendadak hit dan semua sontak berdendang bila sebuah intro lagu ini mulai dinyanyikan. Begitulah para penikmat lagu akan dengan lantang menyanyikan lirik lagunya. Dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa.

Sepertinya pencipta lagu ini terinspirasi dari sebuah kisah seseorang yang tidak mau dibanding-bandingkan. Coba andai kita berada di posisi seperti itu, bagaimana perasaannya?

Dalam kehidupan semua diciptakan berpasang-pasangan. Ada malam ada siang. Ada laki-laki dan perempuan dan lainnya. Masing-masing tercipta dengan keunikannya. Meskipun ada anak kembar identik, jika diteliti lebih dalam pasti ada perbedaan diantara keduanya.

Masing-masing individu memiliki ciri kekhasan tertentu yang hanya ada seper seribu yang memiliki kesamaan. Maka tak heran jika prolog dalam sebuah film saat akan diputar muncul kalimat seperti ini, "Jika ada kemiripan dari cerita ini karena faktor kebetulan semata".

Apa yang menarik dari ulasan ini?

Pada intinya semua manusia yang lahir ke dunia ini memiliki ciri karakter yang tak mungkin sama. Begitu pun dengan siswa kita. Setiap siswa di dalam sebuah kelas meskipun diberikan stimulus pembelajaran yang sama sesuai isi pencapaian indikator, tak akan sama pencapaian hasil belajarnya. 

Ada anak yang lebih dahulu paham pembelajaran yang diberikan, ada pula anak yang harus mengulang-ulang pembelajaran kesekian kali baru bisa memiliki kompetensi yang diharapkan sesuai pencapaian pembelejaran.

Semua kembali pada gaya belajar siswa, apakah termasuk dalam gaya belajar visual, auditori atau kinestetik. Guru sebagai fasilitator pembelajaran di kelas harus menguasai pedagogik tentang karakter siswa-siswa di kelas. Guru yang peka akan membuat asesmen hasil belajar seluruh siswa di kelas. Tentu saja asesmen yang dicatat bukan karena subjektivitas penafsiran pada pendapat, pemahaman, atau perasaan pribadi.

 

Faktor subjektivitas saat memberikan penilaian pada siswa akan membuat proses pembelajaran tidak  berjalan dengan baik. Guru yang memiliki sifat subjektivitas ini akan memberikan penilaian yang tidak adil bagi siswa. Apalagi faktor kelekatan Guru yang memiliki indikasi tertentu untuk mendapatkan hal-hal yang menguntungkan bagi dirinya semata. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun