Ade Iftahaq
Ade Iftahaq Industrial Engineer

Industrial Engineer | Family-Man | Manga & Anime Fanboy | Rookie Writer

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Tantangan Adaptasi "Live Action" dari Komik

12 September 2018   10:04 Diperbarui: 12 September 2018   22:41 1533 9 5
Tantangan Adaptasi "Live Action" dari Komik
Edge of Tommorow (Source: plejmo.com)

Anda masih ingat Edge of Tommorow (2014)? 

Box Office yang dibintangi oleh Tom Cruise dan Emily Blunt ini bercerita tentang perang manusia melawan alien. Secara tidak sengaja Major William Cage (Tom Cruise) mendapatkan atau lebih tepatnya terjebak dalam looping waktu. Setiap terbunuh dalam perang, Cage akan terbangun pada hari sebelum dia terbunuh. 

Selain dari pemeran utama yang merupakan bintang papan atas Hollywood, menurut saya daya tarik yang cukup besar film ini adalah ceritanya yang berdasarkan pada Manga (komik jepang) dan Light Novel dengan judul All You Need is Kill. 

Versi Light Novel ditulis oleh Hiroshi Sakurazaka pada tahun 2004, sementara pada tahun 2014, majalah Weekly Young Jump publikasi versi manga-nya dengan Takeshi Obata (Mangaka dari Death Note) sebagai ilustrator.

Bisa dibilang Edge of Tommorow merupakan salah satu live action yang sukses di Hollywood, selain Rurouni Kenshin dan Death Note. Meskipun Hero dan Heroin yang berperan di dalamnya bukan dari orang Jepang.

Sebelum Edge of Tommorow, sudah ada beberapa film adaptasi dari serial Manga yang bisa dibilang Gagal, misalnya Dragon Ball Evolution (2009) dan The Guyver (1991). Keduanya merupakan adaptasi Live Action dari Manga yang diproduksi di Hollywood.

Selain itu, masih banyak contoh Live Action dengan setting dan pemeran utama dari negeri asalnya, Jepang. Namun tidak juga berhasil meraup kesuksesan seperti Death Note dan Rurouni Kenshin. Sebut saja Attack on Titan (2015), Bakuman (2015), dan masih banyak lagi.

Live Action Bakuman (source:forums.soompi.com)
Live Action Bakuman (source:forums.soompi.com)
Banyak sekali Live Action yang dianggap "Gagal" oleh para penggemar manga dan anime, juga dari penikmat film layar lebar. Alasan terbesar mereka adalah kecewa karena tampilan dari Live Action sangat jauh dari ekspektasi.

Berbeda dengan film yang berasal dari novel atau sumber lain, adaptasi film yang berasal dari Manga sudah mengarahkan penikmatnya pada frame dan visualisasi yang sangat jelas untuk setiap karakter, setting, dan cerita. 

Padahal isi dari Manga, termasuk action dan dialognya biasanya dibuat dengan banyak efek, yang bisa dikatakan "berlebihan" atau "lebay" jika dilakukan di dunia nyata. 

Coba anda bayangkan jika tendangan jarak jauh dari Captain Tsubasa ditayangkan pada movie, atau adegan Retsu & Go yang mengeluarkan jurus andalan dari mobil Mini 4 WD mereka. Aneh bukan?

Jika belum ada bayangan, silahkan lihat video ini :

Meskipun video di atas sebetulnya hanya digunakan sebagai parodi, namun sebagian besar Manga atau Anime yang diangkat menjadi Live Action juga memiliki kecenderungan tampilan visual yang sama.

Tidak jarang fanbase dari Manga tertentu memberikan penolakan, atau minimal permohonan secara tertulis pada Majalah penerbit dan Author Manga untuk tidak membuat versi Live Action dari sebuah Manga yang begitu dicintainya. 

Saya sendiri termasuk penggemar Anime dan Manga, jika ada versi Live Action menurut saya bukan menjadi sebuah masalah besar. Terepas dari visual yang, memang kurang enak dipandang, saya tetap bisa menikmati isi film nya. Dan tentu saja tetap mengagumi karya mereka.