Mohon tunggu...
AD. Agung
AD. Agung Mohon Tunggu... Penulis - Tukang ketik yang gemar menggambar

Anak hukum yang tidak suka konflik persidangan, makanya gak jadi pengacara.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Cara AHY Menang dari Jokowi dan Prabowo

28 Maret 2018   10:45 Diperbarui: 28 Maret 2018   10:48 472
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Indonesian '2019' Top Leaders (ilustrasi: AdA)

Jebolan tentara, masih muda, berwajah ganteng, terlahir dan disokong oleh partai sekaliber Demokrat --yang didukung kalangan militer dan pengusaha--, tentu saja Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memiliki peluang lumayan untuk menjadi Presiden RI berikutnya. 

Riset Political Communication (PolcoMM) Institute pada 18-21 Maret 2018 memberikan harapan. Hasil riset lembaga yang dirilis jpnn.com (26/3/2018) ini memberikan peluang kuat munculnya AHY sebagai calon presiden di Pilpres 2019. Dibandingkan nama-nama tokoh yang lebih senior, seperti Zulkifli Hasan, Jenderal Gatot Nurmantyo, Mahfud MD, Yusril Ihza Mahendra, dan Muhaimin Iskandar; AHY unggul dan mendapatkan 21 persen dari 1.200 suara responden.

Peta koalisi saat ini: Jokowi didukung oleh PDIP, Golkar, PPP, Hanura, dan Nasdem. Poros kedua; Prabowo Subianto didukung oleh Partai Gerindra dan PKS. Dan jika muncul poros ketiga yang mencalonkan AHY, maka formasinya adalah Partai Demokrat, PKB, dan PAN.

Indonesian '2019' Top Leaders (ilustrasi: AdA)
Indonesian '2019' Top Leaders (ilustrasi: AdA)
Melihat posisi koalisi masing-masing poros, dan mengukur elektabilitas masing-masing kandidat, sangat mungkin AHY unggul dari Jokowi ataupun Prabowo. Caranya? Tunggu pilpres berikutnya! 2024 atau 2029, saat Jokowi dan Prabowo tak lagi bisa nyapres.

Wakil Presidennya Jokowi

Selain menjadi presiden, peluang lain dari AHY adalah menjadi Wakil Presidennya Jokowi.

Pertemuannya dengan Jokowi di istana pada waktu silam, terbaca sebagai proposal peluang pengajuan dirinya untuk mendampingi Jokowi pada Pilpres nanti. Untuk menjadi presiden, dalam poros ketiga sendiri, AHY harus bersaing dengan tokoh dari partai koalisinya, yakni Cak Imin dan Zulkifli Hasan. AHY jelas kalah senior dan pengalaman. Daripada hanya menjadi wakil di koalisi-kecilnya, lebih baik menjadi wakil di koalisi Jokowi, yang jelas-jelas besar dan menang di atas angin.

Tapi, apakah semudah itu partai-partai koalisi pertama menerima AHY dari partai yang baru masuk belakangan? Baik Golkar, PPP, Hanura, dan Nasdem tentu mempunyai nama-nama yang dijagokan oleh partainya untuk mendampingi Jokowi. Kecuali, SBY mau menyisihkan sedikit modal sebagai mahar untuk membeli suara lebih awal ke partai-partai tersebut untuk merelakan AHY sebagai "mempelai" Jokowi.

Wakil Presidennya Prabowo

Menjadi presiden, jadi Wakil Presidennya Jokowi, atau memilih peluang ketiga: menjadi wakil presidennya Prabowo?

Ini akan menjadi pilihan terakhir yang tidak mudah. Bisa dibilang, pilihan kalau tidak ada pilihan lain. Karena kondisinya serba salah, SBY belum tentu bersedia anaknya menjadi wakil Prabowo. Demikian pula masyarakat, masih ada rasa yang mengganjal jika presiden dan wakil presiden keduanya dari kalangan militer --kecuali kalau hanya salah satu.

Lantas pilihan apa yang harus diambil AHY?

Sebagai Putera Mahkota, AHY tak bisa memutuskan sendiri nasibnya. Keputusan dirinya akan bertahta di mana, ditentukan oleh "keluarga Cikeas" dan "keluarga Demokrat". Itu adalah dua hal yang berbeda. Cikeas merujuk pada SBY. Sedangkan Demokrat merujuk pada para pendiri partai (pada kenyataannya SBY bukanlah pendiri dan pemilik Partai Demokrat).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun