Mohon tunggu...
Sabri Leurima
Sabri Leurima Mohon Tunggu... Ciputat, Indonesia

Sering Dugem di Kemang Jakarta Selatan

Selanjutnya

Tutup

Novel

Dalam Baileo [Part 3]

12 Agustus 2019   14:49 Diperbarui: 12 Agustus 2019   14:59 0 0 0 Mohon Tunggu...
Dalam Baileo [Part 3]
Sumber: Ig Hadisiuw, Rumah Baileo

"Mido, Anis dan Nana tiba di kampus mereka. Hari ini terasa ramai ya, Do? Tidak seperti biasanya," tanya Anis kepada Mido.

"Iyato, Nis. Mungkin karena ada acara diskusi publik itu," jawab Mido.

Anis kemudian berpisah dengan Mido dan Nana. Mereka berdua ada jam kuliah Public Policy. Anis menuju ke ruangan diskusi itu. Mahasiswa sudah banyak yang hadir.

"Kaka, mau ikut diskusi juga kah?", tanya seorang penjaga absensi kehadiran.

"Ohiyo, belum mulai to ade?, tanya Anis.

"Lima menit lagi kayanya kaka," jawab penjaga absensi itu lagi.

"Ohiyo, danke lai ade?"

Seusai mengisi absensi, Anis langsung mencari tempat duduk. Acara akan dimulai. Prosesi pembukaan sudah diambil alih oleh Mc acara.

"Dalam forum diskusi, banyak peserta laki-laki ketimbang perempuan. Anis merasa canggun dengan minimnya keterlibatan perempuan. Sayang e,"ucap Anis bernada kecewa.

Anis, sangat aktif dikampusnya. Ia selain menjabati sekjen Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEMJ) dikampusnya. Organisasi ekstra  gerakan juga ia ikuti.

Berbagai pengalaman dalam dunia mahasiswa banyak Anis geluti. Mulai dari membuka forum-forum diskusi lesehan. Advokasi kasus kekerasan seksual di kampus. Aksi demostrasi sesama organisasi kampus dan non kampus. Bisa dibilang perempuan sangat militan.

Acara telah usai, Anis begitu senang walau kecewa sedikit. Senangnya karena mendapatkan pencerahan lagi. Tapi dibalik senangnya, ada sedikit kecewa. Ia mulai memikirkan bagaimana agar mahasiswi dikampusnya aktif dalam kegiatan diskusi.

Ia segera mencari tempat tenang. Mungkin di kanting lebih bagus. Sambil menunggu Mido dan Nana keluar ruangan.

"Kaka Sekjen," teriak salah satu teman Anis yang juga sebagai pengurus BEMJ di paling ujung ruang kanting.

"Hey, Rian," jawab Anis sambil melambaikan tanganya.

"Ayo gabung ngopi sini," Pinta Anis.

Rian saat itu tidak sendiri. Dia sedang bersama teman perempuannya bernama Liza.

Rian," panggil anis lagi. "Ose sama teman gabung ngopi sini saja. Mari katong bacarita.

Akhirnya, Rian danLiza bergeser tempat duduk yang bersatu meja bersama Anis.

"Kaka Anis ini beta teman namanya Liza".

"Hallo kaka, beta Liza mahasiswa Tarbiyah semeter baru," Liza mencari kenal.

"Ohiya ade, selamat berpores e," jawab Anis sambil tersenyum.

Bacarita antara mereka bertiga terjalin seruh. Canda serius terbungkus rapat sambil menubruk kopi dan mengemil pisang goren.

Liza selaku mahasiswa baru agak terlihat partisipatif. Ia banyak bertanya kepada Anis. Pertanyaan Liza selalu dijawab Anis. Kadang juga ditambahkan sama Rian.

Waktu mendekati sore hari, obrolan antara mereka bertiga masih aktif. Anis kemudian mengajakLiza untuk gabung bersamanya di sebuah organisasi gerakan mahasiswa. Liza senang dengan tawaran itu.

Hubungan Liza dan Anis mulai dekat diatas meja kanting. Mereka sempat menukar nomor hp. Anis merasa senang sekali, akhirnya ada perempuan walau masih berstatus mahasiswa baru sudah terlihat kepekaan sosialnya.

Akhir jam kuliah, Mido dan Nana pergi mencari Anis. Ruangan diskusi sudah kosong tak ada manusia lagi. Lalu kemudian Mido mendapat pesan SMS yang dikirim Ania 1 jam lalu.

"Do, kalau ose sama Nana sudah finish kuliah, lansung ikut beta dikanting e," isi pesan  Anis.

Yang tadi hanya tiga orang kini menjadi lima setelah kedatangan Mido dan Nana. Mido dan Nana mhlai berkenalan dengan Rian dan Liza. Suasana kanting semakin berisik. Banyak hal yang dibahas. Politik, hukum, budaya, ekonomi dan kebijakan publik.

Bacarita itu membawa hasil menarik. Kelima orang itu sepakat membuat satu organisasi yang fokus pada isu-isu gender dan keadilan.

Rencana pertemuan dan rapat-rapat kecil mulai dijadwalkan. Anis mencatat semua hasil bacarita itu. Hari kamis sore diputuskan untuk mengadakan lagi. Hanya dipintakan setiap masing-masing harus membawa satu orang teman.

"Pokonya pertemuan berikutnya, masing-masing dari katong harus bisa membawa satu orang. Terlepas dari katong lima ini,"pinta Anis.

"Ok beta sepakat," jawab Mido sambil hembuskan asap rokok Djisamsoe kuningnya.

 "Katong semua sepakat," jawaban semangat kelima orang itu.

Bacarita di atas meja kanting kampus selesai. Sore hari sudah semakin tajam. Lima orang itu akhirnya bergerak balik ke rumah.

Dalam oto angkot yang menuju kampung Mowae. Anis menerima pesan telpon lagi. Kali ini bukan dari orang pemda. Kepala Pemuda Mowae, Abdul Gofar, yang menelpon. Ia, ingin bertemu Anis dan teman-teman panitia pengukuhan raja kemarin.

"Hallo, Anis ini Bapak Kepala Pemuda. Sebentar ajak ose punya teman-teman yang terlibat kepanitiaan pengukuhan raja, katong bertemu di Baileo habis Isya, Bisa to?," pinta Pak Gofar.

"Ok. Bapa, nanti beta sampaikan ke teman-teman," jawab Anis.

Malam itu bulan terlihat sangat bundar. Ramai sekali nelayan perahu dayung pergi ke laut. Para nelayan di Mowae masih percaya bila bulan sudah bundar-bundarnya. Pasti ikan Cakalang sedang banyak.

Kepala Pemuda sudah datang lebih awal di baileo. beliau bukan termasuk bagian integrasi dewan adat. Orangnya terlihat kritis. Kadang-kadang sangat argumentatif bila berdebat sama para dewan adat. Hanya saja terlihat emosional bila tidak terkontrol lagi.

Gofar adalah pensiunan Militer TNI AD dengan usia terbilang muda 40 tahun. Karirnya di militer tidak pernah melonjak karena sangat menentang pola militeristik orde baru yang diterapkan markas komando distrik (KODIM) Kabupaten Maluku Selatan.

Ruangan Baileo sudah berkumpul Anis beserta teman-teman Panitia. Mode bacarita di moderatori Anis. Kepala pemuda bersebalahan bangku dengannya.



VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x