Mohon tunggu...
Abdul Azis
Abdul Azis Mohon Tunggu... Senimam Teater

Mencoba belajar dengan hati-hati, seorang yang berkecimpung di beberapa seni, Tari (kuda lumping), tetaer, sastra.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Aku Pamit Lebih Awal Sebelum Perasaan Jadi Bandel

24 Oktober 2020   22:40 Diperbarui: 24 Oktober 2020   22:53 37 14 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Aku Pamit Lebih Awal Sebelum Perasaan Jadi Bandel
Dokpri Azis

Aku Pamit Lebih Awal Sebelum Perasaan jadi Bandel

Buah Karya: Le Putra Marsyah

Kita pernah tertawa bersama
Walau dalam waktu begitu singkat
Kita saling berbagi dengan rasa
Walau banyak yang masih terpendam

Dan, aku tak mahu
Masuk lebih dalam menunggu
Kemudian kau sodorkan tegukan cinta
Sebab, datangku tak untuk memiliki

Aku pamit lebih awal
Sebelum perasaan jadi bandel
Hingga kita saling menaruh harapan
Untuk mengiyakan kesepakatan

Adalah restu semesta yang masih setia berpihak untuk kita beradu pandang. Mata-mata selalu bersinar menatap dalam-dalam. Senyum menyapa setiap bibir yang bergerak dengan kata-kata teduh. Hingga kita sulit pindah ke lain tempat. Sebab, tanah pun masih mengizinkan kita untuk berpijak lebih lama lagi.

Deru penjelasanmu yang menjawab tanyaku, sampai saat ini tak bisa dilupakan dengan mudah. Hadirmu menambah semangat untuk tetap gila dalam berimajinasi. Kau penuhi segala tuntutan hati yang bergelembung dalam menjangkaui arus waktu. Kemudian, kau sodorkan aku segelas teh kenyamanan untuk diminum.

Kebahagian tetap tumbuh dengan riang, seperti orang-orang yang menggoyangkan badannya ketika lelagu diputarkan di pagi. Kita menggerakan otot-otot kaku untuk tidak menegang. Dan, tak perlu terlalu serius agar memahami satu sama lain. Sebab, hidup mengajarkan kita untuk tetap baik sama siapa saja. Hari memberi kita sinar untuk tetap terikat oleh segala cerita.

Apakah hatimu saat ini susah berdalih untuk menyampaikan yang sebenarnya? Kenapa kau suka mengirimi aku 'emot' yang sulit dimengerti? Atau kau susah membahasakan bahasa rasa dan gejolak jiwa yang sedang terpikat? Dan, maaf aku masuk terlalu jauh untuk mengganggu ketenanganmu.

Ragamu remuk terbentur kesibukan. Pintamu padaku untuk lebih dahulu lelap ke dunia lain. Tapi, aku sodorkan kata-kata hingga matamu melotot. Hatimu merasa heran, kenapa aku seperti ini tanpa ada badai salah yang datang melanda. Aku pun menjawab tanyamu seolah tak percaya. Kuyakinkan dirimu, kalau aku benar-benar pamit pergi untuk selamanya.

Dan, esok tak ada temu; tak ada lagi sapa. Latatan kita hanyalah mimpi yang pernah dipertemukan semesta. Kita hanyalah raga yang pernah nyaman di ambang waktu yang terlalu darurat. Dan, kusampaikan banyak terima kasih, karena kau dan penjelasan teduh sudah masuk dalam cerita berhargaku.

Di limit waktu yang paling tegang, kau bertanya "Kenapa harus seperti ini? Kok kayak gitu! Apakah aku ada salah kata? Atau aku buat sesuatu yang tidak disukai?" Tapi, tanyamu kujawab dengan terus terang. Kekagetanmu kutanaikan, walau detak hatimu tetap tidak terima "Tak ada salah apa-apa. Aku hanya mau pamit pergi saja."

Sebelum matamu terlelap menemui mimpi, aku kembali menyodorkan tanya "Apakah kau ikhlas kalau aku pamit pergi?" Butuh jeda aku menanti jawabmu. Aku setia menunggu dengan tenang untuk mengetahui seberapa dalam kau protes untuk menahan diri ini.

Jeda telah berakhir, kau kembali layangkan aku penjelasan "Aku tidak tahu mau bilang apa. Aku tidak ikhlas; intinya tidak ikhlas kau pamit pergi. Karena aku sudah nyaman pada kita yang sama-sama tenggelam dalam cerita. Dan, kenapa tiba-tiba kau mau pamit pergi?"

Aku takut terjebak dengan kenyamanan. Sebab, datangku bukan untuk bermukim di hatimu. Aku hanyalah orang sepi yang ingin berperbanyak teman. Aku tak menaruh harap untuk mengubur kenangan. Karena kau dan aku adalah dua pasang pembeda yang hanya ingin saling terbuka. Dan, nyatanya kita saling terikat, walau tak ada kesepakatan yang memagari raga.

Terkadang, mengikhlaskan kepergian adalah sebuah jalan terbaik. Sebab, memilih bertahan hanya menyembunyikan harapan. Dan, sudah barang tentu banyak rahasia yang menggantungkan keinginan. Banyak kemauan yang lekas ditolak. Karena kita lebih memilih untuk saling tertutup. Sampai, akhirnya kita harus menerima setumpuk resiko, walau hati dan raga belum siap sepenuhnya.

Di akhir kesempatan, kau memberi keterangan. Kau bertahan dengan harapan dan kejelasan. Kemudian kau layangakan rasa yang sulit dibahasakan "Jujur, mataku berat sekali, tapi malah kau mengagetkan dengan kabar buruk. Seolah-olah, aku adalah ketakutan yang selalu bergentayangan memengaruhi pikiran tenangmu. Padahal, aku mau kita seperti yang kemarin-kemarin."

Pada puncak harapan dan tanya yang menggema. Kau sodorkan aku rekaman puisi untuk didengarkan di tengah malam yang begitu hening. Dan, kau kembali menemui mimpi di atas kasur empukmu. Hingga ketidakjelasan tetap menggantung. Rasa pun larut dalam-dalam kelam yang begitu hanyut. Raga menyaksikan wajah-wajah tenang yang tak sedikit pun bergerak.

Kediri, 24 Oktober 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x