Mohon tunggu...
Abanggeutanyo
Abanggeutanyo Mohon Tunggu... Wiraswasta - “Besar, ternyata ada yang lebih besar, sangat besar, terbesar, super besar, mega besar dan maha besar.”

Nama : FM Al-Rasyid ---------------------------------------------------------------- Observe and be Observed

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Erdogan Tiup Peluit Tanda Perang di Suriah, Siaga 1 Hadapi Rusia

13 Februari 2020   10:31 Diperbarui: 15 Februari 2020   01:58 1191
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Seperti telah diperkirakan banyak pengamat sejak lama apapun jenis proses perdamaian dan negosiasi marathon dilakukan untuk perdamaian Suriah tetap saja masing-masing dalang pertikaian berusaha bagaimana kepentingannya jadi pemenang.

Aneka pembicaraan damai telah terjadi sejak dari Liga Arab (Arab Liga pada November 2011 - Januari 2012) hingga belasan kali perundingan Astana. Beberapa kali perundingan Jenewa, berulang kali perundingan Sochi hingga perundingan Astana ganti nama jadi perundingan Nur Sultan (10-12-2019) tidak mampu satukan kata sepakat mengakhiri perang. 

Perang Suriah telah meletus hampir 9 tahun lamanya akan tetapi sengitnya perang Suriah justru baru terjadi dan akan makin sengit dalam beberapa hari ini JIKA Turki dan Rusia tidak menemukan solusi akhir penyamaan persepsi dalam konflik di negeri Suriah.

Indikator bakal makin sengitnya perang Suriah terlihat tandanya ketika pasukan Suriah (SAA) yang ditopang militer Rusia dan Iran di berbagai bidang mulai memperlihatkan taringnya ketika menguasai kota strategis Maarrat al Nukman yang berada di jalan nasional M5 yang menghubungkan Aleppo dan Damaskus pada 28 Januari 2020 lalu. 

Setelah kota Maarrat al Nukman dikuasai SAA beberapa kota dan desa penyangga sekitarnya --bagaikan efek domino-- ikut jatuh hingga SAA tiba dengan sangat cepat di segi tiga maut kota Saraqib di depan kota Idlib

Jatuhnya kota Saraqib ke tangan SAA membuat Turki murka karena itu terjadi saat reinforcement massif sedang dilalaksanakan, seakan SAA meremehkan kekuatan Turki. Selain itu Saraqib adalah simbol kekuatan penjaga "ibukota pemberontakan" Idlib.

Selama masa pengerahan kekuatan massif Turki, serangan terhadap pos militer Turki pun telah terjadi 2 kali dalam bulan Februari 2020 yang menewaskan 14 tentara Turki (Turki melaukan serangan balasan dengan artileri dan roket yang menewaskan hampir 100 pasukan SAA dan milisi pendukungnya).

Dalam bulan Pebruari saja Turki telah memasok ribuan pasukan Turki (TSK) termasuk ratusan pasukan komadonya ditambah seribuan truk bermuatan meriam, kendaraan pengangkut, howitzer Firtina, artleri, roket, senjata dan misil anti serangan udara dan tank berat serta anti misil panggul (manpad) dan lain-lain.

Kini bukan rahasia lagi TSK terang-terangan membantu pemberontak Suriah yang kini berganti payung Syrian National Army (SNA) namun tidak juga membuat jet tempur Rusia berhenti menyerang.

Selain SNA pasukan Turki juga diperkuat oleh TFSA (FSA dukungan Turki) dan National Liberation Front (NLF) serta Hayat Tahrir al-Sham (HTS) milisi paling power full dan menggentarkan dari seluruh milisi dan jihadi yang ada dalam pemberontakan Suriah.

Hingga berita ini diturunkan posisi SAA dukungan Rusia berada di front terdepan kota Saraqib hanya berjarak 9 km saja untuk masuk ke kota Idlib jantung dan simbol perjuangan pasukan oposisi atau pemberontak Suriah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun