Mohon tunggu...
Abanggeutanyo
Abanggeutanyo Mohon Tunggu... “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Nama : Faisal Machmud al-Rasyid ---------------------------------------------------------------- Mengamati dan Diamati

Selanjutnya

Tutup

Politik

Ancaman Teror di Akhir 2015, Indonesia Siaga Satu!

24 Desember 2015   23:40 Diperbarui: 26 April 2019   07:57 0 3 2 Mohon Tunggu...
Ancaman Teror di Akhir 2015, Indonesia Siaga Satu!
Gambar ilustrasi. Dok. abanggeutanyo

Setiap akhir tahun kelihatannya sering terjadi ancaman terutama menjelang pergantian tahun. Dalam dua dekade terakhir. Isu tentang hal tersebut bukan sesuatu yang baru bahkan seolah-olah menjadi bagian berita hangat melengkapi pergantian tahun.

Akan tetapi kondisi saat ini memang sangat beda, sejumlah elemen yang berkompeten di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat kini benar-benar siaga satu, menandakan ancaman kali ini patut diwaspadai dan diantisipasi lebih intensif dengan mengerahkan seluruh daya tangkal dengan lebih maksimal dari sebelumnya.

Badan Intelijen Negara (BIN) telah mengumumkan Indonesia siaga satu menghadapai ancaman terorisme di penghujung tahun 2015. Kondisi ini ditentukan setelah melihat adanya potensi ancaman terorisme yang akan dilaksanakan kekuatan radikal di penghujung tahun ini. Sutiyoso menyampakan hal tersebut kepada pers pada 21/12/2015 kemarin.

Kapolri juga telah mengingatkan siaga satu tersebut setelah data intelijen dalam negeri memperlihatkan potensi tersebut. Hal ini diperkuat oleh informasi dari Intelijen Kepolisan Federal Australia dan Intelijen Sinagapore meminta Indonesia waspada terhadap rencana teorisme menjelang malam pergantian tahun 2015 (malam tahun baru 2016).

Menurut sumber theaustralian.com.21/12/2015 menyebutkan sesuai dengan pengembangan informasi dari 9 orang Indonesia yang ditangkap setelah 5 serangan terjadi pada 5 lokasi Indonesia akhir-akhir ini sejumlah kekuatan radikal merencanakan aksi serangan tunggal, aksi serangan masif atau serangan berkelanjutan pada pergantian malam tahun baru. Sumber tersenit menyebutkan serangan kimia merupakan salah satu cara yang akan digunakan oleh penyerang.

Menko Polkam, Luhut B Panjuatan juga telah mengeluarkan pernyataannya tentang terciumnya aroma sabotase di Indonesia pada akhir tahun ini. Tidak ada satupun negara yang kebal terhadap aksi terorisme namun yang dapat dilakukan adalah berusaha sekuat tenaga mencegah aksi tersebut, katanya sekaligus meminta pihak berkomepeten meningkatkan peranan intelejen.

Sementara itu skynews.com (21/12/2015) melaporkan dari 800 warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS 100 diantaranya telah kembali dan masuk ke Indonesia. Entah darimana asal angka diperoeh SkyNews, kenyataannya kita mendapat indormasi dari sumber lain (pernyataan Kapolri) jumlah orang Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Suriah dan irak mencapai 300 orang. "Yang by name sekitar tiga ratusan," ujarnya, di Mabes Polri, katanya (27/11/2015). Sumber :Di sini.

Di sisi lain, sejak Agustus 2015 lalu Densus 88 telah menangkap puluhan orang yang dicurigai terkait dengan rencana aksi teroris di senatero negeri ini. Sebanyak 9 orang terduga teroris telah ditangkap berturut-turut pada 18 Desember dan 19 Desember 2015 lalu. Tangkapan terkini terjadi kemarin Rabu (23/12) satu orang terduga teroris digelandang Densus 88 dari tempatnya di Bekasi yang disebutkan akan melakukan aksinya pada malam tahun baru 2016.

Mengapa aksi radikal dalam bentuk terorisme kini semakin mengancam Indonesia? Apakah ini hanya rencana Australia, Singapore atau negara lainnya yang ingin membuat suasana Indonesia menjadi tidak tenang? Atau apakah penangkapan tersebut hanya untuk memperlihatkan aksi antisipasi pihak keamanan nasional telah berjalan dengan baik?

Ternyata tidak. Bukan itu alasannya meski beberapa pengamat mungkin mengira arahnya ke sana dengan model konspirasi, rekayasa, adu domba atau bahkan menganut konsep Flase Flage untuk skenario teror anti terorisme.

Bukan karena ekses penangkapan teroris di Solo pada 14 Agustus 2015 lalu atau pengeboman mal Alam Sutera (28/10/2015) di Jakarta pada  serta ancaman pengeboman terhadap sejumlah pejabat negara yang kini sedang heboh menyebabkan peningkatan rencana aksi teror di Jakarta atau kawasan vital lainnya di Indonesia terutama menjelang malam tahun baru, kini meningkat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x