Mohon tunggu...
Arbi Sabi Syah
Arbi Sabi Syah Mohon Tunggu... wiraswasta -

Lelaki sederhana, lahir dan berdomisili di Aceh.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Aku Telah Dikubur Paksa!

25 September 2010   05:28 Diperbarui: 26 Juni 2015   12:59 279 0 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Aku Telah Dikubur Paksa!
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

[caption id="attachment_268899" align="aligncenter" width="300" caption="Ilustrasi/Google: Terkubur begini bukanlah keinginan siapapun"][/caption] HAI kalian! Tak perlu terkejut dan berpikir ngeri, apalagi takut. Untuk apa? Karena semua memang itulah kenyataannya. Aku telah terkubur dalam tanah. Bukan tanpa sengaja. Tapi, aku telah dipaksakan terkubur dalam lubang tanah saat masih hidup. Jangan ada rasa kasihan karena aku tak pantas kalian kasihani. Coba tanya pada diri kalian sendiri, "Siapakah kamu?" lalu jawablah seperti ini, "Memangnya penting memikirkan lelaki serendah kamu. Maaf ya!?" Itu tak mengherankan bukan?! Lalu, kuharap kalian mahfum saja. Tak usah pura-pura kasihan karena aku tak butuh dikasihani setelah ada dalam ruang gelap ini. Walau disini begitu hampa udara dan aku terus terang saja kesulitan sekali bernafas tidak apa-apa karena begitulah aku pantas ada disini, ya?! [caption id="attachment_268902" align="aligncenter" width="255" caption="Ilustrasi/Google: Dibunuh atau bagaimana?!"][/caption] Aku bukan sosok selebritis atau politisi papan atas. Sama sekali bukan. Aku masih jauh untuk sekedar ditokohkan dalam lapisan masyarakat terbawah dari kalian semua. Labelku bukan apa-apa dan tak ada yang kenal aku siapa. Toh, aku tak ada istimewanya sama sekali. Maka, tekanlah gundukan tanah yang dibawahnya kuhuni kini. Biarlah tetap sunyi aku ada di alam yang berbeda dengan kalian. Sekalipun aku tak pernah mau ada disini sekarang. Biarlah. Puaskanlah diri kalian yang telah mengetahui aku dikubur paksa dalam kolom tanah ini seperti mereka yang telah mati! Untuk apa kalian bingung memikirkan isi tulisan ini!?? Buat apa!!? Tak penting kan??! Ya, biarkan saja aku tetap disini sampai Tuhan mengirim Malaikatnya padaku menanyakan hal-hal penting yang tentunya aku tersudut semakin merana. Aku pastikan satu hal bahwa aku akan ingat caramu yang begitu kejam menguburku dengan paksa dalam tanah ini. Doakan aku cepat mati agar tidak membuatmu tak nyaman. Kau butuh ketenangan dan kebahagian. Dan aku bukan orang yang bisa membawamu keluar dari sarangmu yang seperti neraka. Pada hal, sebelum aku kau dorong untuk setelahnya kau benamkan ke lubang ini dirimu selalu mengharapkanku ada untuk semua kebahagianmu. Katakan tidak bila kau ingin dikatakan pembohong!

Akhirnya, meskipun sisa nafasku tinggal beberapa puluh kali lagi masih kupaksakan menuliskan tentang cinta walau hanya beberapa kata saja seperti dibawah ini; "Cinta, ternyata tak hanya butuh kejujuran, kesetiaan, dan pengorbanan kehormatan psikologis saja, tapi ia butuh sesuatu yang lain yang harus diungkapkan tiap saat dan berulang-ulang. Contohnya, sumpah aku tidak bohong, sungguh aku cinta kamu, benar kok hanya kamu yang kucinta. Lalu, saat ketidakyakinan datang atau keraguan muncul semua kalimat tadi menjadi tak berarti seperti diriku yang kini kau kuburkan paksa dengan kejam sebelum waktuku mati!" Note: Tulisan ini hanyalah tulisan dan tetap menjadi bahan bacaan tak penting karena aku menuliskannya dengan labelku yang bukan penulis. Salam Kompasiana, Bahagia Arbi

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x