Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Pilpres 2024: Prabowo-Jokowi, Anies-SBY

17 Maret 2021   09:52 Diperbarui: 17 Maret 2021   10:03 1603
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Trio Anies, Ganjar, dan Ridwan Kamil (Foto: Humas Pemprov Jabar via Kompas.com)

Muhammad Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer, melansir pernyataan menarik. Dengan mimik serius, ia tawarkan solusi agar masyarakat Indonesia tidak terbelah. Caranya mudah. Ya, cukup dengan "menikahkan" Jokowi-Prabowo pada Pilpres 2024.

Pernyataan Qodari jelas beralasan. Polarisasi masyarakat gara-gara Pilpres 2019 masih berasa. Efek cebong dan kampret masih bersisa. Masyarakat Indonesia terbagi tiga: blok Jokowi, blok Prabowo, dan nonblok. Prabowo masuk kabinet pun tidak merekatkan kerenggangan.

Belakangan polarisasi kian parah. Beberapa kalangan yang semula membela Prabowo kini beralih kepada Anies Baswedan. Anies digadang-gadang menjadi simbol perlawanan. Muncul lagi istilah baru yang masih dipungut dari dunia fauna: cebong dan kadrun.

Barangkali dari sanalah kekhawatiran Qodari bermula. Pengamat politik itu tidak ingin lagi bangsa ini terbelah. Namun, menduetkan Jokowi dan Prabowo bukanlah perkara mudah. Aturan mau tak mau harus diubah. Jika harus begitu, UUD 1945 mesti diamendemen lagi.

Akan tetapi, ada saran lain yang patut diperhitungkan. Pengamat politik yang mangkal di Gang Sapi, Felix Tani, menawarkan solusi berbeda. UUD 1945 tidak perlu diubah. Biarkan ketentuan presiden dan wakil presiden tetap begitu. Ya, tetap dua periode.

Agar Jokowi bisa menjadi presiden lagi, kata Engkong Felix, Jokowi bisa "dikawinkan" lagi dengan wakilnya sekarang. Cuma komposisi berubah. Ma'ruf Amin jadi capres, Jokowi jadi cawapres. Jika mereka terpilih, ada peluang Jokowi jadi presiden lagi.

Sekilas terlihat saran itu moncer. Tunggu dulu. Andaikata terpilih, Ma'ruf Amin mesti berhalangan tetap baru bisa digantikan posisinya sebagai presiden. Bisa juga karena mangkat di tengah masa jabatan. Di situ tampak alangkah kebangetannya Engkong Felix. Tahu maksud saya, kan?

Selain itu, duet Ma'ruf Amin-Jokowi kemungkinan sukar menang apabila Anies menemukan jodoh yang pas. Misalnya Susi Pudjiastuti atau Ridwan Kamil. Bisa juga menculik Ganjar Pranowo dari kandang banteng moncong putih. Asal jangan Fachri Hamzah, napasnya habis di PKS.

Dengan demikian, mesti ada cara lain yang lebih tokcer. Bersandar pada kesulitan memenuhi asa Qodari, sekaligus mengakomodasi aspirasi nyeleneh Engkog Felix, saya menawarkan duet apik. Prabowo capres, Jokowi cawapres. Itu duet yang bakal sukar ditundukkan lawan.

Pengalaman menang dua kali sekaligus memimpin negara dua kali merupakan bekal terbaik bagi Jokowi untuk menjadi wapres. Sekaligus, pecah rekor. Untuk pertama kali dalam sejarah nusantara, mantan presiden menjadi wakil presiden. Ini masih dalam konteks berandai-andai.

Trio Anies, Ganjar, dan Ridwan Kamil (Foto: Humas Pemprov Jabar via Kompas.com)
Trio Anies, Ganjar, dan Ridwan Kamil (Foto: Humas Pemprov Jabar via Kompas.com)

Pihak oposan yang selama ini ingin mengalahkan petahana perlu memalingkan wajah. Lupakan Prabowo. Cari sosok lain yang layak ditandingkan dengan Prabowo-Jokowi. Untuk sosok capres, posisi Anies jelas terdepan. Dari rekam jejak, Anies punya plus-minus melawan Prabowo.

Anies pernah mencicipi kursi menteri di kabinet Jokowi. Prabowo masih anteng sebagai menteri. Anies punya pengalaman menang di kontestasi politik, memenangi pilgub di Jakarta. Prabowo belum pernah merayakan kemenangan. Menjadi cawapres keok, menjadi capres kalah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun