Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019).

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Tubuh Kami Tidak Boleh Kehabisan Tabah

19 Januari 2021   22:55 Diperbarui: 20 Januari 2021   00:10 215 29 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tubuh Kami Tidak Boleh Kehabisan Tabah
Kakek tua yang tertawa setelah mencatat perih di hatinya (Gambar: line.today)

 

07.00 WIB

Selamat pagi, Diari. Terima kasih masih setia mendengarkan keluhku, menyimpan resahku, dan meredam perihku. Seorang temanku, lebih tepatnya guruku, bilang bahwa bercakap-cakap dengan kamu adalah laku melankolis yang cengeng. Tidak apa-apa, ya, Diari. Teman mengaum, aku berlalu. Guru mengguruh, murid menyanyi.

Temanku itu, Diari, sebenarnya tahu apa arti diari. Ia jelas mengerti bahwa menumpahkan unek-unek adalah jalan lapang untuk melegakan hati. Ia jelas paham bahwa menulis adalah laku intelektual guna mengabadikan sesuatu yang, barangkali, dianggap remeh-temeh oleh orang lain, tetapi suatu saat akan menjelma sebagai riwayat. Bahkan, boleh jadi sejarah.

Tenang saja, Diari. Kamu tidak perlu sewot. Temanku itu juga diam-diam menulis catatan harian: tentang padi yang diterjang hama, tentang kemarau yang memburu hujan pertama, tentang pupuk yang tiba-tiba langka, tentang pasar yang sering sekali tidak berpihak kepada petani. Ia cuma berselimut gengsi dan berseragam tinggi hati. Maka, Diari, biarkan saja dia menyebutku cengeng.

Guruku itu, Diari, sebenarnya khatam banget dalam perkara penyembuhan lewat terapi menulis. Ia tahu sekali bahwa jika seseorang ingin menghapus kesedihan di hati, tuangkan tabah ke dalam tulisan. Itu metode praksis yang sangat jitu. Maka, Diari, abaikan kata "jijik" atau "jijay" yang beliau guratkan dalam esai cemen-nya. 

Temanku tahu, Diari, alangkah banyak catatan harian seseorang yang akhirnya menyejarah. Tidak perlu saya ingatkan beliau catatan harian apa saja yang kemudian terbukti menyejarah. Beliau punya kapasitas tahu yang lebih dari sekadar memadai. 

Jadi, Diari, tabahlah karena tabah adalah angin tunak. Tidak terasa desaunya, tetapi ada. Sesekali bertiup sepoi-sepoi, tetapi dapat menghapus sakit dan sedih sepanjang hidup. Tabah, Diari, obat mujarab bagi segala jenis nelangsa. Tabah, Diari, menyimpan dan menyembuhkan kesakitan.

Pelukan ini menenangkan (Ilustrasi: id.wikihow.com)
Pelukan ini menenangkan (Ilustrasi: id.wikihow.com)
Kamu pasti mengenal teman sekaligus guruku itu, Diari. Jadi, biarkan aku tidak menyebut namanya. Aku iba hati kepada beliau jikalau namanya terekam dalam catatanku hari ini. Judul artikelnya juga tidak usah saya cantumkan, ya? Biarlah kita tahu sama tahu saja. Bagaimana, Diari? Aih, terima kasih karena kamu bisa mengerti.

15.05 WIB

Diari, aku ingin ceritakan kepadamu tentang pepuja hatiku yang sekarang tengah dirundung malang. Di telaga matanya kini menggenang air yang selalu saja menghangatkan pipi acapkali menetes. Kemarin kami sama-sama sakit. Ia lunglai, aku layu. Ia sesak napas, aku susah makan. Ia tidak mampu mencium bau, aku tidak sanggup mencecap rasa. Ia sakit, aku sakit. Kami begitu kompak, bahkan saat sakit.

Namun, Diari, tubuh kami punya tabah yang mujarab mengobati luka karena harapan semu. Sepatah dan separah apa pun. Dengan hati yang tabah, kami bisa mengucapkan "Selamat jalan, Luka!" Ketika orang lain menceracau tentang virus yang disangka konspirasi belaka, kami tertawa saja. Ketika orang lain kian remeh dan abai, kami gigihkan rasa waspada. Tak dinyana, Diari, justru kami yang terkapar.

Adakah kami mengutuk kenyataan? Sama sekali tidak, Diari. Sakit bagi kami adalah pintu antik untuk memasuki rumah syukur. Dalam rumah syukur itu kami tahu betapa teduh bilik sehat. Itu sebabnya, Diari, kami rawat tabah sesulit dan sepelik apa pun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN