Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019).

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Di Hadapan Kehilangan: Obituari Paseway Punda

6 Agustus 2020   06:26 Diperbarui: 6 Agustus 2020   11:01 780 67 29 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Di Hadapan Kehilangan: Obituari Paseway Punda
Penulis bersama Paseway Punda (kanan) [Foto: Dokumen Pribadi]

Tidak sedikit di antara kita yang mengaku siap dan sanggup menghadapi Kehilangan. Saya selalu kagum, bahkan terkagum-kagum, kepada mereka yang "tidak sedikit" itu. Kenapa? Karena saya sadar, saya tidak termasuk dalam kawanan orang-orang yang siap dan sanggup menghadapi Kehilangan.

Pada Ahad lalu, 2 Agustus 2020, seorang paman yang saya kagumi dan kasihi berpulang ke pangkuan-Nya. Saya tidak berdaya di hadapan Kehilangan karena paman saya itu wafat di tanah kelahiran saya, Borongtammatea, dan saya tidak punya kemampuan untuk menghadiri upacara pemakaman beliau. Maka apa yang harus saya katakan kepada Kehilangan?

Paseway Punda. Itulah nama paman saya. Beliau sepupu ibunda saya, Syafiah Djumpa. Sekalipun paman, saya menganggap beliau seperti ayah sendiri. Apalagi setelah ayahanda saya, Yadli Malik, berpulang ke rahmatullah. Paman saya itu sosok yang sangat hangat, tahu benar cara beramah-tamah, khatam pula dalam perkara mengajak orang lain agar sudi bekerja sama.

Kehilangan akibat kepergian beliau bahkan masih terasa hingga hari ini. Setiap yang bernyawa pasti akan mati, saya tahu itu. Setiap yang ada akan tiada, saya juga tahu itu. Namun, Kehilangan selalu punya cara untuk membobol bilik tabah di hati saya dan mencuri stok sabar hingga tandas.

Pada suatu ketika saya pernah berkata bahwa saya selalu siap menghadapi Kehilangan. Ternyata tidak. Ketika Ibu, Ayah, dan Paman saya pergi untuk selamanya, hujan menyembunyikan sekaligus membunyikan air mataku.

Yang Mengajari Tanpa Memarahi

Rumah beliau tepat di depan masjid. Rumah saya di sisi timur masjid. Beranda rumah beliau merupakan tempat nongkrong favorit saya. Itu berlaku sejak saya masih bocah ingusan. Tiap beliau pulang dari kantor, sayalah orang pertama yang membongkar tas beliau.

Paseway Punda selalu membawa oleh-oleh setiap pulang kantor. Rupa-rupa koran dan majalah. Dari oleh-oleh itu saya kenal Gabriel Batistuta dan Gabriela Sabatini. Keduanya atlet tenar. Satu pesepak bola, satu lagi petenis. Tanpa oleh-oleh dari beliau jelas saya tidak akan mengenal kedua pesohor dari Argentina itu. Juga pesohor lain dari seluruh penjuru bumi.

Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi
Beliau seorang Juru Penerang. Lazim disapa Pak Jupen. Jika tidak ke kantor, ia pasti keliling kecamatan. Wilayah kerjanya di Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, Sulsel. Seraya membuka sepatu dan kaus kaki, ia pasti berkata kepadaku, "Bacalah, Nak, biar kamu kenal dunia!"

Di kampungku, beliau salah seorang penganjur kefasihan berbicara di depan publik. Anak-anak Bortam, versi singkat dari Borongtammatea, sudah "dipaksa berdiri di podium" sejak kecil. Saya mahir ngoceh di mimbar salah satunya karena pembiasaan semasa anak-anak. Mungkin saya tidak akan jadi trainer andal tanpa sentuhan midas beliau.

Masih Kelas II SMP ketika saya mewakili Kabupaten Jeneponto untuk mengikuti Lomba Pidato Pelajar se-Sulawesi Selatan. Saya tidak pernah mengarang konsep pidato sekalipun saya piawai menulis. Tiba masa tiba akal. Begitu pesan beliau. Hanya butuh kerangka, kutipan keren, dan mental baja maka piala selalu jatuh ke pelukan.

Masih SMP pula ketika beliau mendampingi saya dan kolega ikut lomba Cerdas Cermat atau Asah Terampil di Kabupaten Jeneponto. Saking seringnya tim kami juara, Jupen kecamatan lain kontan angkat tangan setiap melihat kami. "Paseway tidak punya kader yang lain," begitu keluh mereka. Paman yang murah senyum itu berseloroh, "Jangan menyerah, nanti juga kalah!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN