Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Fenomena Lambe Turah, Komunitas Gibah Virtual, dan Pilkada 2020

29 Juli 2020   14:48 Diperbarui: 30 Juli 2020   08:05 950
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: Khrisna Pabichara

Lambe Turah. Ini bukan soal nama sebuah akun media sosial yang kerap mengumbar aib orang, melainkan tindak tutur kawanan aktivis media sosial dari Komunitas Gibah Virtual.

(1)

Lambe turah berasal dari bahasa Jawa. Lambe berarti "bibir", sedangkan turah bermakna berarti "sisa". Jadi, sisa-sisa bibir atau semacam orang yang tidak menyisakan kata-kata baik lagi di bibirnya. Lambe turah dapat dimaknai sebagai orang yang gemar nyinyir, doyan mengembus isu, atau senang mengumbar aib orang.

Pada zaman dahulu, jauh sebelum era digital dan media sosial menginvasi jari-jemari warganet, perilaku menyinyiri tindak tanduk orang atau mengumbar aib orang biasanya hanya berlaku atau berlangsung di area sempit. Kadang di tangga saat kutu-mengutui, kadang di sumur saat cuci-mencuci.

Sekarang aktivis gibah makin canggih. Kesibukan menebar desas-desus sudah bermigrasi dari area sempit ke ruang publik yang dapat dikonsumsi orang banyak. Evolusi dunia digital yang nirbatas menyeret pelaku gibah ke dalam ranah pergunjingan yang seolah-olah tidak memiliki sekat apa pun.

Dunia pertemanan sontak berubah. Seseorang yang belum tentu kenal tiba-tiba menjadi sangat kenal sampai-sampai menguliti aib orang lain. Orang-orang semacam itu seakan-akan bersih dari noktah noda. Mereka seperti suci dari deru dosa.

Gerakan gibah berjamaah di media sosial nyaris mendekati titik masif, intensif, dan sistematis. Apalagi menjelang pesta demokrasi. Setiap calon yang hendak maju ke panggung tarung pasti mempunyai basis pendengung (buzzer). Ada yang berbayar, ada yang murni simpatisan. Baik yang berbayar maupun yang simpatisan lazimnya bermental baja, militan, dan berani malu.

Tidak heran jika pesta pilih-memilih pemimpin menjadi ajang berjangkitnya penyakit sirik, hasut, dan dengki. Desas-desus jadi sarapan, gosip jadi menu santap siang, dan aib orang lain jadi sajian makan malam. Singkat cerita, media sosial diguyur caci maki.

(2)

Fenomena komunitas lambe turah di media sosial bakal kembali marak. Ajang Pilkada 2020 sudah hampir tiba. Akun-akun penghambur desas-desus sudah mulai menetas. Ada yang memakai potret sendiri sebagai foto profil, ada yang menggunakan foto orang lain. Identitas palsu bakal jadi trend lagi.

Itu fakta. Realita. Kenyataan itu senada dengan gagasan tentang simulakra yang digaungkan oleh Baudrillard dalam Simulacra and Simulation (1994). Orang-orang bertopeng berkerumun di dunia maya. Mereka tutupi realitas. Mereka sebenarnya tidak mencerminkan realitas, tetapi ajaibnya kerap menjadi acuan kabar.

Ndilalah, netizen ternyata menyukai realitas semu. Gonjang-ganjing yang diracik dari desas-desus murahan dilahap beramai-ramai, disebar tanpa tedeng aling-aling, dibagikan seolah-olah barang mewah yang berharga mahal, dan warganet akhirnya kesulitan memisahkan ilusi dari realitas.

Pilgub teranyar di Jakarta, misalnya, menjadi ajang tarung gosip. Tidak ada perdebatan isu aktual. Tidak ada perhelatan duel program. Agama jadi barang niaga yang diperjualbelikan demi kursi kekuasaan, suku jadi komoditas cemooh, fisik jadi bahan risakan, dan masa lalu yang sudah memfosil pun dibangkitkan dari alam kubur.

Fenomena gerakan penyinyir kembali menggema di media sosial tatkala Pilpres edisi terbaru. Gosip murahan tiba-tiba mendapat tempat mulia di panggung pertarungan. Kubu sana seolah-olah mati rasa, kubu sini seakan-akan mati hati. Bersaudara tidak saling menyapa, bertetangga tidak saling berbasa-basi.

Panggung Pilkada yang mestinya menjadi ajang baku adu program, beralih fungsi menjadi kontes adu borok. Aib dijadikan bahan infografis, lalu disebarluaskan melalui internet sebagai materi kampanye visual instan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun