Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Gadis Penuh Cinta

17 Oktober 2018   09:06 Diperbarui: 18 Oktober 2018   04:13 704
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Tentu saja."

Dia berjengit. "Tuhan menolongnya!"

"Salah satu dari sekian banyak tugas Tuhan adalah menolong hamba-Nya!"

"Sarkas!"

"Tidak. Semua agama meyakini bahwa Tuhan yang mereka puja adalah Muara Segala Kasih." 

Sabda memegang dadanya dengan tangan kanan. "Ketika kita yakin bahwa Tuhan tidak tidur, berarti kita percaya bahwa Tuhan sedang bertugas 'menjaga hamba-Nya'. Tuhan tidak butuh doa kita. Dia akan menolong kita dengan atau tanpa doa. Kasih sayang Tuhan tidak boleh kita sempit-sempitkan. Dan, tidak akan sempit walaupun seluruh insan di muka bumi ini menyempitkan kasih sayang-Nya." 

Ia berhenti sejenak. Mengerling sekilas, lalu berkata, "Kuasa Tuhanlah sehingga si Nenek tadi tiba di rumah sakit dalam tepat waktu---memilih aku untuk membopong tubuhnya, menunjuk kamu sebagai pengambil keputusan, kunci mobil ambulans yang tidak dikantongi oleh sopirnya, dan petugas jaga UGD yang bereaksi dengan cepat menolong. Semuanya itu bukan peristiwa kebetulan. Sudah ada yang mengatur!"

Dia menatap Sabda beberapa lama, mengalihkan pandangan ke jalan, lalu menoleh kepadaku. "Ternyata kamu lelaki yang handal...."

"Bukan handal!"

Mata gadis itu membelalak.

Seraya konsentrasi menyetir, Sabda berkata, "Itu salah kaprah. Mestinya andal. Kita banyak menyiksa kata-kata berawalan huruf vokal dengan menambahkan 'h' di depan huruf pertama. Imbau kita jadikan himbau. Impit kita sebut himpit. Empas kita eja hempas."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun