Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Perancis Juara, Kroasia Juara

16 Juli 2018   02:32 Diperbarui: 16 Juli 2018   10:15 3188
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Prancis berhasil meraih gelar juara kedua (Foto: Shaun Botterill-FIFA/Getty Images)

Meski begitu, penggemar Kroasia di Indonesia tidak perlu mengajukan gugatan ke MA gara-gara hadiah penalti untuk Prancis. Terima kekalahan dengan lapang dada. Tunjukkan kebesaran jiwa dengan sepenuh cinta. Itulah esensi sportivitas.

Begitulah. Prancis juara, Kroasia juga juara.

Hidup selalu menyertakan dua sisi, yakni suka dan duka. Mbappe pada suka dan Modric pada duka (Foto: Shaun Botterill-FIFA/Getty Images)
Hidup selalu menyertakan dua sisi, yakni suka dan duka. Mbappe pada suka dan Modric pada duka (Foto: Shaun Botterill-FIFA/Getty Images)

Kegagalan sesekali perlu dirasakan dan dirayakan. Dirasakan agar kita tahu perihnya kalah, dirayakan supaya kita paham indahnya bangkit. 

Tidak selamanya yang kita harapkan akan dikabulkan oleh Penguasa Semesta. Jika yang kita dapati hanya rangkaian kemenangan, kita tidak akan matang. Gagal hadir supaya kita lebih mengenali diri sendiri ketika terpuruk. 

Sama seperti petuah tenar, "cinta tidak selamanya harus memiliki". Ya, Kroasia memang sudah tiba di laga pamungkas. Segala-gala sudah mereka kerahkan. Namun, hasil akhir tidak sesuai harapan.

Madzukic yang menjadi pahlawan kemenangan Kroasia pada babak semifinal, seketika memberikan keuntungan bagi Prancis dengan sebuah gol bunuh diri. Nasib memang sulit ditebak. 

Perisic yang berhasil meledakkan kembali daya juang Kuda Hitam dari Balkan, tiba-tiba tangannya menyentuh bola dan penalti buat lawan. Takdir memang sukar diterka.

Keteguhan memegang prisip memang penting sebagai azimat alias jimat. Deschamps tamat dalam perkara sedemikian. Ia perintahkan anak asuhnya untuk menunggu agak dalam, bertahan dengan rapat, lalu menyerang balik secepat-cepatnya. Tendangan bebas yang dieksekusi oleh Griezmann dan menghasilkan gol bunuh diri adalah bukti sahih kemenangan strategi bermain taktis. 

Kecerobohan Lloris, yang menyebabkan lahirnya gol Mandzukic, tidak perlu dibesar-besarkan. Kita memang acapkali lebih peduli pada kesalahan seseorang, tetapi kita harus mengingat perjuangan Sang Kapten hingga gelar juara diraih. 

Umtiti dan Varane sudah bekerja dengan baik sebagai tembok kembar yang tegar. Matuidi dan Kante sudah menunjukkan kerja keras, walaupun akhirnya ditarik keluar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun