Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Lima Prosa Lirih tentang Kata, Cinta, dan Kita

13 Juni 2018   18:08 Diperbarui: 14 Juni 2018   02:11 2332 11 9
Puisi | Lima Prosa Lirih tentang Kata, Cinta, dan Kita
Pixabay.com

/1/

(Seorang teman bertanya-tanya tentang sikap setelah ditolak. Aku berduka atas deritanya. Sayang sekali, aku bukan penguasa yang berkuasa menentukan segala. Maka, kutulis prosa lirih untuknya.)

Jika yang kaucintai ternyata tidak mencintaimu, jangan marah. Apalagi sampai berniat memaksakan cinta, melakukan apa saja demi cinta, atau mengejar-ngejar hingga ke ujung dunia. Kambing saja menolak dipaksa bermain hujan. 

Cinta murni bukan dari hasil pemerasan keinginan. Apalagi dengan menempuh segala cara, seperti mengintimidasi atau menakut-nakuti agar yang kaucinta tersiksa dan akhirnya, terpaksa, menerima cintamu.

Jika yang kaucintai ternyata mencintai orang lain, jangan marah. Apalagi sampai gelap mata, lalu mendadak kepo--dengan mencari tahu pelbagai hal atas yang kaucintai--kemudian kaubuka aib yang kaucintai itu. 

Apabila kamu dikecewakan atau disakiti, periksa kembali kesehatan perasaanmu. Hati-hati. Kadang kita menduga mencintai seseorang, padahal sebenarnya kita mencintai diri sendiri. 

/2/

Cinta itu aktivitas merelakan. Itu sebabnya aku tak akan marah meskipun kamu tidak mencintaiku.

Punggung cuma salah satu bagian dari tubuh. Sama seperti kepala. Tetapi dalam hal mencintai, memunggungi berbeda dengan mengepalai. Dengan demikian, dipunggungi tidak sama dengan dikepalai.

Kau sedang merasakannya. Kaupeluk lututmu, ia peluk lutut lelakinya. Ia tenang meninggalkanmu, kausenang menunggalkannya. Ia riang bersama lelakinya, kau meriang karena mengangankan dan menginginkannya. Ia memunggungimu, kaupandangi punggungnya. 

Begitulah punggung kalian.

dokpri
dokpri
/3/

Dalam cinta, banyak hal receh yang membahagiakan. Kecupan di kening, misalnya. 

Dalam cinta, banyak hal remeh
yang menyakitkan. Pesan tidak dibalas, misalnya.

Barangkali engkau ingin bertanya tentang silap hati.

Baiklah. Dua kata itu mewakili perasaanmu saat ini. Pernahkah kauajak seseorang, yang kaucintai, makan berdua denganmu di suatu tempat, kemudian di luar hujan amat deras, tetapi percakapanmu berlangsung tak seromantis yang kauharapkan?

Kemudian, mata orang yang kauajak makan itu tiba-tiba bercahaya dan kau berbahagia karena mengira kaulah penyebab matanya sebercahaya itu, lalu kamu terpukul setelah sadar kalau matanya bercahaya karena seseorang yang sedang ia temani bicara di layar gawainya.

Itu sebabnya engkau silap hati. Keadaan yang membuat hatimu tidak ingat apa-apa selain kehampaan, kekosongan, dan kesedihan, lalu ingin segera pulang, mencari bantal, dan menenggelamkan diri dalam mimpi tak berkesudahan.

Tetapi kau tidak usah marah, karena marah-marah tak keruan itu pekerjaan orang lemah syahwat. Lagi pula, kautahu bahwa kemarahan tidak bisa menyelesaikan masalah. Alih-alih menyelesaikan, kemarahan dapat memicu masalah baru. 

Engkau hanya perlu melakukan satu hal yang lazim dilakukan para nabi dan sufi: bersabar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2