Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Artikel Utama

Rubah, Muasal Haus, dan Takjil Hari Pertama Puasa

17 Mei 2018   11:36 Diperbarui: 17 Mei 2018   23:18 2526 3 2
Rubah, Muasal Haus, dan Takjil Hari Pertama Puasa
ilustrasi. (shutterstock)

/1/

Sejak dahulu kala, Rubah tidak suka buah anggur. Konon, sebagaimana warga Republik Rimba yang lain, air liur Rubah juga mengalir tiap melihat buah anggur yang ranum atau matang di pohon. Namun, satu peristiwa besar membuat nenek moyang Rubah memutuskan untuk meneguk air liur.

Syahdan bermula dari keridakmahiran Rubah memanjat. Berkali-kali mencoba, berkali-kali gagal. Enggan menyerah mencoba lagi, tetapi jatuh terjelepak di tanah. 

Pada satu senja yang cerah, sesepuh Rubah melongo dan memelotot saat melihat Kera sedang melahap anggur. Sebenarnya ia ngiler, tetapi ini menyangkut martabat. Harga diri. Pantang bagi Rubah meminta tolong kepada Kera. Mustahil bagi Ketua Dewan Penasihat Presiden Republik Rimba merendahkan diri di hadapan Ketua Badan Spionase Negara.

Sesepuh Rubah itu pulang ke rumah. Ia disambut sanak kerabat. Istrinya sejak pagi merengek-rengek. Ia tak tahan melihat air mata istrinya bercucuran. Ia juga tahu sudah seminggu istrinya mengidam makan anggur. Tetapi, gengsi di atas segalanya.

"Anggur itu masam," katanya pelan dan berwibawa, "tidak baik bagi janin di kandunganmu."

Istrinya memberengut. "Bapak sudah coba?"

Sesepuh Rubah mengangguk tegas. 

Istrinya menelan ludah. Terbayang nanti bakal repot menghapus liur si bayi. "Kenapa Kera suka?"

"Karena Kera buta rasa!" Timpalnya dengan suara mulai meninggi.

Sanak kerabat sibuk kasak-kusuk. Kabar menyebar luas. Suku Rubah, salah satu suku terpandang di Republik Rimba, akhirnya percaya bahwa anggur itu masam. Mereka juga mencemooh Suku Kera yang buta rasa, tidak mampu membedakan mana masam dan mana manis.

Beberapa tahun kemudian, putra Sesepuh Rubah sudah menjelang remaja. Sejak kecil ia tidak mudah percaya. Segala hal harus ia uji baru ia percaya. Termasuk soal anggur. Andaikan bukan karena takut mencoreng arang di jidat bapaknya, sudah lama ia menyeberang ke Provinsi Kera dan menguji kadar kemasaman anggur.

Hatta suatu pagi Putra Sesepuh Rubah sudah tidak sanggup menahan diri. Diam-diam iaajak teman sepermainannya menyelinap di perbatasan, merunduk di tengah hutan, menyelundup di semak-semak, hingga tiba di perkebunan anggur. Untung bagi mereka, penjaga kebun sedang berangin-angin di pucuk beringin.

Mereka berkumpul di bawah pohon anggur yang rimbun. Angin seolah tahu hajat Putra Sesepuh Rubah. Beberapa butir anggur busuk tanggal dan jatuh. Putra Sesepuh Rubah segera memunguti buah idaman itu. Pelan-pelan ia mengemut sebutir anggur, merasakan lembut kulit buah di lidah, serta menikmati rasa penasaran memancar dari mata teman-temannya. Hingga ia muntahkan anggur dari mulutnya.

"Kenapa?"

"Masam?"

"Kecut?"

Putra Sesepuh Rubah menggeleng. "Lebih buruk daripada masam!" 

Ia serahkan sisa anggur kepada teman-temannya. Sekawanan Rubah serempak mencicipi anggur busuk, kemudian serentak memuntahkannya.

"Pahit!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3