Mohon tunggu...
Raihan Tri Atmojo
Raihan Tri Atmojo Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa S1 Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, UNS. Saat ini sedang senang terhadap dunia blog dan mencoba menambah wawasan dengan berbagai macam bacaan.

Selanjutnya

Tutup

Diary

Hikmah dari Gim Old

19 Februari 2021   10:08 Diperbarui: 19 Februari 2021   11:02 774
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dulu, sebelum android menjadi salah satu kebutuhan, anak-anak lebih suka bertemu temannya dan bermain bersama. Kalaupun ada game, waktu itu masih berupa 'gamebot', yang gambarnya aja warna hitam, backgroundnya ijo pucet.Beberapa tahun setelahnya, orang mulai mengenal game di computer dan laptop. Dulu (tahun 2008-2010) orang punya PC atau laptop masih jarang. Kalau ada anak yang dirumahnya ada komputer , biasanya rame tuh anak-anak pada mampir ke situ. 

Satu komputer bisa dipantengin 5-6 orang. Mainnya ganti-gantian pula, dan yang paling ngeselin itu kalo dah rebutan. Ya namanya juga anak kecil, wajar saja masih suka ribut. Beda ama sekarang, semua sudah pada punya sendiri. PC udah pada punya sendiri, bahkan kayaknya orang jaman sekarang lebih suka beli laptop daripada PC. 

Kalaupun untuk keperluan gaming, belinya juga laptop gaming. Android juga sekarang sudah pada punya sendiri. Sulit rasanya jaman sekarang ngeliat anak tanpa android atau gadget. Karena memang sudah menjadi kebutuhan, di tambah lagi dengan kondisi pandemi kaya gini. Walaupun mungkin awalnya orang tua membelikan anak android untuk keperluan pembelajaran jarak jauh (PJJ), ujung-ujungnya nanti ada ML-nya, ada FF-nya, dan lain-lain.

Bicara soal game, kalau diinget-inget ternyata ngangenin juga game-game jaman dulu. Dengan segala keterbatasan, dulu kita (termasuk aku) yang lahir tahun dua ribuan pasti ngalamin yang namanya ngupyek atau dalam bahasa Indonesianya berdesak-desakkan di warung PS. Angkatan 2000-an juga pasti pernah ngalamin berangkat habis subuh bawa uang Rp 10.000 ke warnet, berangkatnya habis shubuh pulangnya jam 9 atau jam 10 pagi. 

Kalo zamanku sih, kalau ada anak seperti itu biasanya mau main game online, utamanya Point Blank. Emang, periode 2010-2014 Game Point Blank saat itu sangat booming (kata viral pada masa itu belum dikenal). Ponint Blank saat itu juga mempunyai sisi yang menarik yang bisa membuatnya laris (saat itu), selain karena harga billing perjam jaman itu eman murah, Point Blank memiliki gameplay yang mudah, sehingga anak-anak seumuran SD-SMP gampang memainkannya. 

Yang paling kuingat dari Point Blank sih mapnya. Paling sering mah Luxvile, Burning Hall, ama Mini Indonesia. Map Mini Indonesia menjadi yang paling popular saat Point Blank lagi ramai-ramainya waktu itu, karena Map-nya yang dilihat dari atas membentuk gugusan kepulauan Indonesia. Kalau Point Blank versi sekarang aku kurang tahu bagaimana perkembangannya.

Game yang booming jaman old gak cuma game online aja sih sebenernya, game-game PS2 juga berjaya pada masa itu. Mortal Combat, God Of War, GTA San Andreas, Downhill, Digimon Rumble Arena, itu adalah sedikit dari game-game PS2 yang pernah Berjaya pada masanya.PS2 Bisa menyatukan anak sekampung, dan di warung PS lah anak-anak ngumpul,  bahkan anak dari kampung sebelah juga jauh jauh datang buat main di warung PS itu. TV Analog, stik warna abu-abu, memory card 8MB, kertas berlaminating yang isinya kumpulan cheat GTA sudah menjadi starter pack di warung PS. Untuk menambah stamina, bisa ditambal dengan marimas jeruk lima ratusan. Kalau waktu timer di TV mau habis, tinggal bilang ke empunya warung

"Bu tambah ya, slurpppp" ucapnya sambal nge-es

Dengan remote yang sudah terlihat using, si empunya warung menambah timer waktu di TV analognya. Ditambah lah timernya jadi 60 menit. Kalau warung PS mau tutup, barulah anak-anak pulang. Tak jauh beda dengan game di PS2, Game-game PC yang offline jaman dulu juga punya kesan tersendiri. Orang jaman dulu setiap melihat game di PC pasti tidak jauh-jauh dari logo Gamehouse. Logo berbentuk kubus dengan warna latar belakang oranye dan putih itu menemani masa kecil para gamers era 2000-an. Biasanya game-game dari produsen Gamehouse tidak hanya satu atau dua buah, bisa puluhan bahkan ratusan. 

Dan yang membuat gamehouse cukup lama bertahan adalah ukuran gamenya yang relatif kecil, dan cara memainkannya yang mudah. Dan kebanyakan game dari Gamehouse juga tidak hanya menawarkan kesenangan saja ketika bermain. Game buatan mereka juga melatih ketelitian, sikap waspada, dan juga game nya mengajak kita berpikir. Sebut saja 'Varmintz'. 

Game yang alur ceritanya menceritakan tupai yang diberi misi untuk sampai ke portal tujuan. Dalam bermain Varmintz kita tak bisa asal melangkah. Kita harus memperhatikan kondisi sekitar seperti ada mobil lagi lewat atau tidak, hati-hati dengan kereta yang tiba-tiba melaju kencang, dan lain-lain. Ada juga 'hamsterball', game yang tokoh utamanya adalah hamster yang berjalan didalam bola kaca ini menuntut kita untuk hati-hati dalam berjalan, dan menuntut kita untuk waspada agar tidak jatuh atau terkena jebakan tikus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun