HIGHLIGHT

Belajar Foto Portrait

06 Juli 2012 16:14:37 Dibaca :
Belajar Foto Portrait
(dok.pri)

Terlalu berani untuk mengatakan tips atau kiat-kita menghasilkan foto portrait. Rasaku sudah sangat banyak tips yang bisa ditemukan di dunia internet. Aku hanya ingin membagikan sebuah pengalaman saja. Bukan pengalaman yang hebat, tetapi pengalaman seorang yang masih belajar memotret. Secara kebetulan, tantangan yang dibuat Kampret minggu ini adalah portrait. Maka, aku ingin membagikan secuil kisahku dalam belajar foto portrait.

Setelah aku pikir-pikir, keindahan foto portrait terletak pada karakter yang terbangun dan dihasilkan dalam sebuah karya foto. Untuk menghasilkan foto portrait, kita bisa make a picture dan take a picture. Make a picture berarti kita menciptakan apa yang ingin kita hasilkan. Salah satu contohnya adalah portrait model. Dengan make a picture, kita bisa bebas berkreasi dalam membuat setting amupun membangun komunikasi dengan obyek foto. Sedangkan take a picture berbarti kita memanfaatkan apa yang tersaji di di sekitar kita. Apa adanya itulah yang kita ambil. Pada sisi ini, kita tidak memiliki keleluasaan seperti halnya make a picture. Meski sangat tergantung situasi sekitar, kita pun masih bisa membangun komunikasi dengan obyek yang ingin kita abadikan. Jika tidak, kita bisa menggunakan metode candid.

1341589893597618759
candid (dok.pri)

Atas pemahaman ini, aku merasa ada beberapa kata kunci yang selama ini aku gunakan ketika ingin menghasilkan foto portrait. Sekali lagi, ini merupakan proses pembelajaranku sebagai seorang pemula yang sedang belajar. Anda bisa menambahkan atau membuat koreksi atasnya. Dan aku akan mengucapkan banyak terima kasih atasnya.

Pertama, jeli. Untuk menghasilkan foto yang berkarakter, kita harus jeli melihat sebuah moment yang ada di sekitar kita. Kejelian itu akan semakin mempermudah usaha kita menyampaikan sebuah pesan melalui foto yang dihasilkan. Salah satu cara untuk menjadi jeli adalah dengan membiasakan mata kita “jelalatan”.

1341589990825452137
belajar jeli (dok.pri)

Tampaknya aneh. Tetapi jika kita sudah terbiasa, maka kita akan menjumpai aneka hal yang bisa jadi terabaikan. Kejelian ini tentu tidak hanya berlaku untuk foto portrait, namun berlaku untuk hal yang lain juga. Membidik sesuatu tampak biasa menjadi sesuatu yang luar biasa adalah sebuah kepuasan tersendiri.

Kedua, kesabaran. Salah satu tantangan besar bagi saya ketika belajar memotret adalah keinginan untuk segera mengeksekusi. Foto portrait tentu berbeda dengan foto untuk dokumentasi. Foto dokumentasi membutuhkan kecepatan karena moment yang juga berjalan cepat. Sementara dalam foto portrait, kita tidak ingin menyampaikan sebuah peristiwa tetapi kita ingin menyampaikan sebuah karakter dan pesannya.

Untuk itu, kesabaran menunggu momen tepat untuk mengeksekusi menjadi kunci utama. Tantangannya sih selalu sama. Begitu liat sesuatu langsung pingin njepret. Habis njepret trus liat di previewnya. Padahal bisa jadi moment terbaik ada saat kita melihat previewnya itu.

13415903381162192280
belajar sabar (dok.pri)

Untuk melatih kesabaran itu, aku belajar untuk tidak menggunakan yang berbau auto. Aku lebih suka menggunakan modus manual. Apalagi aku belajar menggunakan lensa manual. Kesabaranku sungguh diuji, baik ketika mencari fokus yang aku inginkan maupun kesabaran untuk menunggu moment yang tepat untuk memencet shutter. Ketika hasilnya jelek dan tidak fokus tentu menggerutu, tetapi semakin menantang untuk mencoba lagi dan lagi.

Ketiga, teknik. Aku tidak ingin terlalu masuk ke bagian ini. Aku merasa teknik memotretku masih acak adul. Tetapi teknik memegang peranan penting dalam menghasilkan sebuah karya foto portrait yang ciamik. Teknik itu menyangkut banyak hal. Mulai dari yang harus ada sampai yang diciptakan. Misalnya permainan komposisi, pencahayaan, dll. Teknik yang baik tentu akan mendukung hasil yang baik pula. Oleh karena itu, sisi ini harus diperhitungkan secara masak.

Kesadaran itulah yang membuat aku tidak berani menuliskan panjang kali lebar pada bagian ini. Sementara aku sendiri masih jatuh bangun pada bagian bagaimana menghasilkan foto yang fokus dan tajam.

1341590439668739536
masih belajar fokus (dok.pri)

Keempat, koreksi/editing. Dalam beberapa kesempatan diskusi, ada sementara orang yang mengharamkan editing. Pinginnya original. Asli dari jepretan. Memang baik. Tetapi tidak perlu malu atau bahkan menolak untuk membuat koreksi atau editing atas foto yang dihasilkan. Koreksi-koreksi sederhana dengan berbagai sofware yang ada dapat digunakan sejauh mendukung hasil yang optimal.

Dalam pengalamanku, proses koreksi akan sangat terdukung ketika foto yang dihasilkan baik. Sebaliknya, koreksi menjadi sia-sia ketika foto yang dihasilkan tidak atau jauh dari optimal. Langit yang putih tentu tidak bisa dikoreksi menjadi biru jika tidak mengambil dari foto lain. Jika itu dibuat, bukan lagi koreksi, tetapi sudah manipulasi. Jadi, mengapa aku harus malu ketika aku membuat koreksi atas foto-foto yang telah aku buat sejauh orisinalitas foto tidak hilang.

1341590522672206744
belajar lagi ah... (dok.pri)

“Sungguh berani!” batinku ketika hendak menayangkan tulisan ini. Tetapi keragu-raguan itu mendadak sirna karena dorongan kuatku untuk belajar. Di sinilah tempatku bermain dan belajar memotret.

13415911902096344479
(dok.pri)

yswitopr

/yswitopr

TERVERIFIKASI (BIRU)

....yang gelisah karena sapaan Sang Cinta dan sedang dalam perjalanan mencari Sang Cinta
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?