Hakikat Perkembangan Anak Didik..

23 Oktober 2010 06:02:00 Dibaca :

Bismilahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum wr.wb

Saya akan mencoba menguraikan hakikat perkembangan anak didik,,

Ini uraian saya,,


  • Pengertian pertumbuhan dan perkembangan


Banyak yang menggumakan istilah "pertumbuhan" dan "perkembangan", namun kedua istilah tersebut berbeda, meskipun keduanya tidak berdiri sendiri.

Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran dan struktur. Seperti dijelaskan dalam disipilin ilmu biologi bahwa pertumbuhan diartikan sebagai proses pertambahan ukuran (volume) sel dan jumlah sel yang tidak dapat balik (irreversible, artinya indiividu yang sudah besar tidak akan balik ke ukuran semula). Ditambahkan pula dari Werner, bahwa pertumbuhan merupakan perubahans ecara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara norml pada anak yang sehat pada wakttu yang normal. Pertumbuhan merujuk pada perubahan fisik, dan sifatnya kuantitatif (artinya dapat diukur,










contoh: bayi pada umur 1 bulan beratnya 3,5kg, dan 2 bulan kemudian beratnya ditimbang lagi sudah 5,4 kg). tidak hanya secara fisik, namun juga perubahan struktur organ dalam dan otak. Otak tumbuh semakin meningkat (besar) sehingga anak punya kemampuan lebih besar untuk belajar, mengingat dan berpikir.

Sedangkan perkembangan sendiri merupakan deretan progresif (perubahan terarah) yang teratur dan koheren (ada hubungan antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului atau akan mengikutinya). Dijelaskan pula dalam disiplin ilmu biologi bahwa perkembangan yaitu suatu peubahan teratur dan sering kali menuju keadaan yang lebih tinggi (kompleks) atau kedewasaan. Seri perubahan organisme yang terjadi selama daur hidup organisme tersebut. Ditambahkan pula dari Santrockk Yussen bahwa perkembangan merupakan pola perkembangan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi. Perkembangan merujuk pada perubahan fisik dan juga psikis dan berlangsung secara terus memerus menuju kesempurnaan.


  • Anak sebagai suatu totalitas


Sebagai suatu objek, anak dilihat sebagai suatu totalitas, yang sekurang-kurangnya mengandung ketga pengertian yaitu, yang Pertama, anak adalah makhluk hidup (organisme) yang merupakan kesatuan dari keseluruhan aspek yang ada dalam dirinya.

Kedua, dalam kehidupan perkembangan anak, keseluruhan aspek anak tersebut saling terjalin satu dengan yang lainnya. Ketiga, anak berbeda dari orang dewasa bukan hanya secara fisik, namun secara keseluruhan.

Anak dipandang sebagai makhluk hidup yang utuh yaitu kesatuan dari seluruh aspek fisik dan psikis yang ada pada dirinya. Setiap aspek saling mempengaruhi dan juga dipengaruhi satu dengan yang lainnnya. Seluruh aspek tidak dapat dipisahkan dan berkembang sendiri-sendiri. Seluruh aspek yang ada dalam diri anak itu terintegrasi dan saling menjalin, memberi dukungan fungsional satu dengan lainnya. Karena setiap aspek yang dimiliki mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Contohnya :apabila anak itu sedang sakit maka dia gampang marah, rewel, atau tidak mau makan. Ada keterkaitan ; keterpautan ; kesinambungan dalam kedidupan dan aktivitas anak. Reaksi fisik selalu disertai dengan reaksi psikis, dan juga sebaliknya.

Perbedaan anak dan orang dewasa tidak terbatas secara fisiknya, tapi berbeda secara keseluruhan. Keseluruhan aspek dalam diri anak bias berbeda dari orang dewasa. Anak sedang mengalami pertumbuhan yang amat pesat, sedangkan orang dewasa sudah relative tak berkembang lagi fisiknya. Anak didominasi oleh pola piker yang sifatnya egosentrik (berdasarkan ego, dan kemauannya sendiri), sedangkan orang dwasa sudah lebih mampu berpikiran social. Daya pikir anak cenderung pada hal-hal yang konkrit, apa yang dilihat, dsb. Contoh :melihat ulat berubah menjadi kupu-kupu, kemudian menduga-duga sendiri karena mungkin kupu-kupu memakan ulat, dll. Sedangkan orang dewasa sudah lebih mampu berfikir abstrak dan universal.


  • Perkembangan sebagai proses holistik


Perkembangan anak menekankan pada peran lingkungan dan pengalaman. Perkembangan merupakan proses yang sifatnya meneluruh (holistic) yang berarti perkembangan itu melibatkan keseluruhan aspek yang saling terjalin dan terintegrasi satu dengan yang lain.

Perkembangan individu dikelompokkan dalam tiga domain yaitu proses biologis, kognitiif dan psikososial. Ini dimaksudkan untuk mempermudah penjelasan karena dalam prakteknya ketiga domain tersebut saling berpengaruh dan terpadu satu sama lain.

Ø Proses biologis (perkembangan fisik)

Cakupannya yaitu perubahan-perubahan dalam tubuh suatu individu seperti : pertumbuhan otot, syaraf, otak, tulang, hormone, alat indra, dll. Cakupan lain yaitu : perubahan untuk menggunakan keterampilan motorik atau cara menggunakan tubuh. Perkembangan fisik seorang anak akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak. Perkembangan fisik juga akan mempengaruhi bagaimana anak ini memeandang dirinya sendiri dan bagaimana dia memandang orang lain. Misalnya , anak yang terlalu kurus akan cepat menyadari bahwa dia tidak dapt mengikuti permainan berta yang menggunakan tenaga seperti yang dilakukan teman-temannya. Karena dia terlau lemah, dan di pihak lain mungkin teman-temannya menganggap anak itu lamban, dan tidak pernah lagi diajak bermain. Ini akan mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.

Ø Proses kognitif,

proses ini melibatkan perubahan-perubahan dalam kemampuan dan pola berfikir, cara individu mendapatkan pengetahuan dari lingkungannya. Aktivitas seperti mengamati, melihat, mendengar dan mengklasifikasikan apa-apa yang dilihat atau didengar, dsb. Perkembangan kognitif dan perubahan dalam arti belajar perlu dibedakan, walaupun prakteknya sulit dipisahkan. Perkembangan kognitif cakupannya pada perubahan-perubahan penting dalam ola dan kemampuan berfikir serta kemahiran anak dalam berbahasa, mnamun belajar diartikan sebagai perkembangan yang berasal dari latihan (pengulangan tindakan) dan usaha. Cakupannya lebih terbaas kepada perubahan-perubahan sebagian pengalaman atau peristiwa yang relative spesifik. Perkemmbangan kognitif terjadi dalam kurun waktu yang lama. Perkembangan kognitif dan proses belajar saling berpengaruh dan sangat amat erat kaitan diantara keduanya. Perkembangan kognitif akan memfasilitasi kemampuan belajar anak, dan pengalaman belajar akan sangat amat memfasilitasi perkembangan kognitif anak tersebut.

Ø Proses Pikososial

Proses ini melibatkan perubahan dalam aspek emosi, perasaan, kepribadian individu, cara berhubungan dengan orang lain. Perkembangan identitas diri serta perkembangan cara dan pola hubungan dengan angggota keluarga, guru, da teman-teman sepermainannya.

Proses biologis mempengaruhi poses perkembangan kognitif, dan perkembangan kognitif mempengaruhi perkembangan psikososial., perkembangan psikososial mempengaruhi perkembangan biologis dan sebaliknya.


  • Kematangan & pengalaman dalam perkembangan anak


Kematangan adalah urutan perubahan yang dialami individu yang teratur dan ditentukan oleh rancangan genetiknya (Santrock & Yussen, 1992:20). Kematangan dipandang sebagai suatu pembawaan yaitu warisan biologis organisme yang merupakan bawaan lahir. Pengalaman adalah peristiwa yang dialami individu sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.

Para ahli berdebat mengenai mana yang lebih berpengaruh dalam perkembangan individu? Kematangan-kah? Atau pengalaman-kah?

Dilihat dari kaum yang mengklaim kematangan lebih mendominasi perkembangan individu, pada dasarnya individu berkembang dalam pola genetic, keculi apabila ada hambatan dari factor linhkungan. Struktur genetic akan menghasilkan komunalitas dalam pertumbuhan dan perkembangan individu. Seseorang akan merangkak sebelum duduk, tumbuh cepat pada masa bayi, mencapai puncak kekutan fisik pada masa remaja atau dewasa. Kecenderungan dasar pertumbuhan dan perkembangan telah terpola secara genetic.

Dilihat dari kaum yang mengklaim pengalaman lebih mendominasi perkembangan individu, penekanan lebih diletakkan pada pentingnya pengalaman dalam perkembangan anak. Unsure genetic hanya mewariskan potensi dasar, bagaiman dapat berkembang tergantung pada makanan, gizi, medis, latihan, endidikan yang dibrikan lingkungan. Lingkungan dipandang sebagai hal yang paling berpengaruh pada perkembangan individu.

Ada juga yang mempercayai hampir semua kualitas fisik dan psikis merupakan hasil dari pengaruh pembawaan dan lingkungan. Contoh : berat badan tergantung rancangan genetic dan juga gizi.

Lalu, mana yang lebih berpengaruh? Ini sangat sulit ditemtukan. Perkembangan dapat dihasilkan dari campuran pengaruh genetic dan lingkungan (pengalaman).


  • Kontinuitas & diskontinuitas dalam perkembangan


Para ahli yang menekankan unsure kematangan, perkembangan dianggap sebagai serangkaian tahap yang berbeda. Sedangkan ahli yang menekankan pengalaman menerangkan bahwa perkembangan itu proses yang sinambung. Mereka berpendapat bahwa perkembangan itu merupakan perubahan komulatif yang terjadi berdasarkan pada tahapan-tahapan dari masa konsepsi sampai meninggal dunia. Peekembangan merupakan proses akumulasi dari perilaku dan kualitas pribadi yang sama yang telah diperoleh sebelumnya. Di dalam berkembang, terjadilah penambahan atau mungkin bahkan pengurangan atas dasar pengalaman individu dengan lingkungannya. Di saat ada tambahan keterampilan baru, seorang individu mengkombinasikannya dengan keterampilan yang sudah ia punya untuk mendapat hasil keterampilan yang semakin kompleks.

Misalnya dalam perkembangan motorik, dari mulai dia bisa tengkurap, kemudian setelah mahir tengkurap ia mulai berlatih mengangkat bokongnya, menggerakkan bokongnya (ongkok-ongkok), dan setelah itu, mulai melangkahkan kakinya (merangkak) kemudian belajar duduk, belajar berjalan dengan meregangkan tangan, kaki masih kak, penglihatan ke depan bukan ke lantai, langkahnya masih pendek, tidak teratur, dengan masih mendapat bentuan dari ibunya, kemudian diberi keberanian untuk melangkah sendiri. Hingga kemudian si anak itu mahir berjalan dengan langkah yang lebih memanjang agar cepat sampai pada ibunya. Dan lama kelamaan dengan melihat ke lantai agar tidak menginjak atau jatur terjerembap karena tersandung batu. Pengalaman pernah jatuh mungkin akan membuat anak lebih berhati-hati, melihat sekelilingnya dalam berjaln, dll. Jadi, perkembangan ini penekannnya pada perubahan kuantitatif, unsure-unsur yang telah ada dan lebih sederhana dari pengalaman baru yang dialaminya ditambahkan dan disinambungkan sehingga menghasilkan kemampuan dan tingkah laku yang lebih kompleks.

Sedangkan, ahli yang menekankan pada aspek diskontinuitas dalam perkembangan menganggap bahwa perkembangan individu melibatkan tahap-tahap yang berbeda. Perkembangan dianggap mulai suatu pola urutan erubahan yang berbeda secra kualitatif, artinya dianggap berlangsung melui terjadinya perubahan-perubahan perilaku yang relative tiba-tiba dari tahap satu ke tahap lain. Jadi, perkembangan diartikan peristiwa transisi yang relative tajam dari tahap perkembangan satu ke tahap lainnya. Secara prinsip, mereka menganggap bahwa perkembangan diarahkan oleh factor-faktor internal biologis. Perkembangan melibatkan perubahan perubahan kualitatif, bukan hanya kombinasi sederhana dari pengalaman sebelumnya.

Ende & Harmon(Vata, Haith & Miller, 1992) menjelaskan bahwa persoalan itu melibatkan dua komponen yang diperdebatkan. Pertama, isyu yang menjelaskan pola-pola perkembangan, para ahli yang mendukung teori kontinuitas yakin bahwa perkembangan itu terjadi secrara halus dan stabil melalui peningkatan bertahap dalam hal keterampilan, atau pengetahuan baru pada langkah yang relative sama. Sedangkan, para ahli yang meyakini teori diskontinuitas beranggapan bahwa perkembangan terjadi pada periode kecepatan yang berbeda, berganti-ganti antara periode-periode yang hanya sedikit dengan periode yang banyak perubahannya. Kedua, perdebatan tentang masalah keterkaitan perkembangan. Para ahli pendukung teori kontinuitas memngemukakan pendapatnya bahwa perilaku awal secara bersama akan bersinambung dan membentuk perilaku-perilaku selanjutnya, jadi, perkembangan awal berkaitan sangat erat denagan perkembangan selanjutnya. Sedangkan, para ahli pendukung teori diskontinuitas mengemukakan pendapatnya bahwa aspek perkembangan muncul secara independen dari apa yang telah ada sebelumnya dan tidak dapat diprediksi mengenai perlaku-perilaku sebelumnya. Demikian yang dapat saya raikan tentang hakikat perkembangan peserta didik. Semoga ini dapat menjadi bekal untuk saya sendiri sebagai calon tenaga pendidik, dan bermanfaat pula bagi siapa yang hendak membacanya. Anak bukanlah orang dewasa, jadi perlakukan anak sebagaimana anak, yang masih sangat ingin tahu tentang dunia disekitarnya dan sebagai pendidik kita harus mampu menjawab rasa ingin tahu anak didik kita. Wassalamualakum wr.wb.

yolanda ariska puspitasari

/yolanda

akku adalah akku yang apa adanya
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?