Kenapa Harus Aku?

10 Mei 2013 20:13:36 Dibaca :

Pyar…. Terdengar suara dari dalam rumah. Entah apa itu, aku sendiri tak tahu. Kubuka dengan perlahan pintu rumah. Dan ternyata…

“Aku sudah tak tahan dengan semua ini!”

“Memangnya aku tahan dengan istri macam kau!”

“Ceraikan saja aku sekarang!”

“Oh begitu, lalu kau akan pergi lari dengan pria keparat itu hah! Bangsat kau!”

Teringat ku pada masa itu, saat mama dan papa bertengkar hebat. Waktu itu ku tak berdaya, entah apa yang harus ku lakukan. Tidak ada yang mau mengerti perasaanku. Papaku, mamaku berubah, mereka berubah. Tak seperti dulu lagi. Mamaku adalah wanita karir, ia adalah kaki tangan papa bagian keuangan dikantor. sedangkan papaku adalah usahawan sukses ternama di Sumbawa. Semua orang tunduk padanya, karena ia terkenal jujur, sopan, suka menolong, dan tidak sombong. Hingga suatu hari, usaha papa bangkrut. Setelah usut diusut, ternyata ada kesalahan intern. Mamaku sendiri yang membuat usaha papa bangkrut. Mama menggelapkan uang papa senilai 560 juta. Belum hutang-hutang yang mama perbuat. Dan sekarang mamaku kabur dengan sopir pribadi kepercayaan keluarga kami, pak Dadang.

Yah, kejadian itu, sungguh masih melekat pada otakku. 7 tahun yang lalu, kejadian pahit yang harus memisahkan kelurgaku. Papa, selamat tinggal. Tyan sungguh rindukan papa. Maafkan Tyan. 12 November 2004 adalah hari perceraian mama dan papa, aku masih ingat. Sungguh masih ingat. Waktu itu usai perceraian, papa membelikanku teddy bear pink imut, aku bahagia. Papa membawaku ke suatu tempat, bandara. Diujung sana ku lihat mama melambaikan tangan, senyum, mengarah ke arah kami.

“Papa kita mau naik pesawat ya?”, tanyaku riang. Yah waktu itu aku gadis polos. Senangnya aku waktu itu, karena melihat mama dan papa saling senyum, aku yakin mereka baikan dan kita pergi naik pesawat bersama-sama.

“Iya sayang, Tyan baik-baik ya. Tyan janji sama papa, sekolahnya yang pinter! Kan sudah kesampaian naik peasawat nih”.

“Siap bos!”.

Akupun masuk dalam pesawat, sungguh aku senang. Namun sayangnya, aku tidak bisa melihat keindahan alam dari atas langit. Sungguh payah. Waktu itu aku mabuk udara, sehingga aku tertidur. Aku tak tahu apa yang terjadi saat aku tidur. Terakhir yang kuingat, aku bersama mama dan pak Dadang. Papa aku tak tahu, ia bilang pergi pipis ke toilet. Tapi sampai aku tidur, bahkan aku bangun, papa tak ada. Oh ternyata, aku telah diterbangkan oleh papa ke Kalimantan, bersama mama dan pak Dadang. Usai perceraian itu, aku terbang ke Kalimantan. Memang jauh hari sebelum perceraian, aku mendengar mama dan papa ribut, menyebut-nyebut “Biarkan dia denganku!”. Aku tak mengerti maksud mereka, akupun acuh. Setelah kejadian itu, aku baru mengerti. Papa, mama sungguh kalian jahat!

***

Dear diary… 16 Januari 2011 : 15.00

Tuhan, Tyan loh juga ingin seperti mereka. Tuhan, Tyan rindu dipeluk mama, disayang papa.

Tuhan, kapan Tyan bisa seperti itu lagi? Kalau boleh Tyan kembali, lebih baik Tyan tak usah dilahirkan. Tyan muak dengan kehidupan ini, muak!

Beginilah kehidupanku sehari-hari. Hanya berteman dengan buku diary kecil. Semua berisi tentang aku, mama, dan papa. Pada siapa lagi aku mengadu, hanya pada buku kecil ini.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kujalani. Semua serba ada, aku hidup dengan kemewahan dikampung ini Tarakan, Kalimantan Timur. Namun semua tiada arti, tanpa kehadiran seorang ayah. Aku rindu sosok ayah. Mama melarangku untuk berhubungan dengan papa, entah kenapa. Mungkin mama takut aku pergi meninggalkannya. Aku menyadari itu, tapi tidakkah mama mengerti perasaanku? Aku ingin keluarga yang utuh, ada mama dan papa disampingku. Itu sudah sangat cukup untukku. Sedangkan hidup dengan kemewahan seperti ini, huh! Sungguh hampa. Mama sudah seperti monster bagiku. Sedangkan dia, aku muak dengannya, dia yang telah merebut papa juga kebahagiaanku. Mama jahat, kalian jahat! Semuanya telah berubah, tak seindah dulu. Papa, tidakkah kau merinduiku? 5 tahun telah berlalu, bagaimanakah keadaanmu sekarang, sudahkah beruban? Aku harap masih sekeren dulu.

Dear Diary… 16 januari 2011 : 20.15

Papa, mama yang ku sayang.

Tidak bisakah kita kembali seperti dahulu. Bercanda, tawa bersama.

Mama, aku rindu saat aku tidur pulas kau berada dismapingku, menyelimutiku lembut.

Papa, aku rindu.. sangat rindu!

Aku ingat, kita selalu pergi sekolah bareng, kau kecup lembut keningku.

Aku rindu semua itu.

Kalau kalian tahu diary ini, Tyan harap kalian mengerti perasaan Tyan. J

Aku susah sekali untuk memejamkan mata.Tiba-tiba, aku merasa lemas sehingga aku berbaring ditempat tidur, mendekap diary ini, aku pingsan. Dan hal berikutnya yang aku tahu, aku telah terbaring didalam ruangan. Aku tidak dapat bergerak dan berbicara. Jantungku berhenti dan aku tak bisa bernapas. Ketika tubuh layaknya orang mati sedangkan otaknya masih bekerja, selama beberapa waktu aku mendengar salah satu dari mereka mengatakan “dia tidak bernapas, jantungnya berhenti dan tidak ada denyut nadi”. Aku sungguh berpikir kalau aku sudah mati. Biarlah, aku lebih memilih mati daripada hidup dikerumunan orang yang tak sayang padaku.Hal lain yang selanjutnya terjadi, aku tidak yakin apa ini mimpi.

Saat aku berada dibawah sadar, aku seperti berada diruang putih tak ada tembok. Luas sekali. Tak ada seorangpun hanya aku seorang. Aku merasakan damai, tak ada beban. Ku berlari ke sekeliling, ini adalah perasaan terbaikku. Ku coba berteriak, teriak sekeras-kerasnya. Tyaaaaaaaaaaannnnn banguuuuuuuuuunnnn………

Tit….tit…tit… rekapan jantung itu terdengar normal. Aku terbangun, masih mengenakan alat dekap jantung. Huh.. aku berharap tak pernah bangun. Bahkan dalam keadaan sekaratpun, mama tak ada disampingku. Papa, dimana kamu???

***

Dear diary… 20 januari 2011 : 22.00

Tuhan, malam ini sunyi, setiap hari selalu begini.

Tuhan, jika aku harus mati sekarang.

Biarlah, ambil aku sekarang juga. Aku rela akan hal ini.

Hidupku sudah tak berarti lagi, merekapun tak peduli dengan ini.

Tuhan, kenapa…. Kenapa aku begini?

Aku sungguh lelah, lelah dengan semua ini.

Sampai kapan aku seperti ini, menyendiri dengan jeritan hati yang amat pedih.

Oh, ruangan ini menjadi saksi, saksi terluka hati yang tiada terperi.

Papa, mama….

Andaikan Tyan mati sekarang, ketahuilah, Tyan sayang kalian.

Tyan sungguh berharap kita bisa bersatu kembali.

Entah kapan terjadi? Tyan sungguh rindu kalian yang dulu…

Tengoklah Tyan sejenak, Tyan butuh kalian.

Siti Avidatul Chusnah

/www.sitiavidatulchusnah.com

I am a girl, i am 17 years old. i graduated from SMA, next mount i will finish my graduated. want to the university. aminnn :) i am an introvert woman, but i always try to care, to know a new person. i like a new adventure,. i like traveling, like shopping. ahaaa:D sometimes, i'm like a childish woman, but i can to professional, i always try to be a professional woman.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?