Simfoni Sepak Bola Indah yang Bernama Timnas Italia

26 Juni 2012 10:08:45 Dibaca :

2006 adalah momen ketika Italia berhasil juara dunia dengan bingkai calciopoli. Sepakbola mereka bukan favorit ketika itu namun dengan simfoni orkestra ala Marcello Lippi, sketsa juara dunia perlahan bisa digapai. Italia tersandung  Calciopolli namun rakyat menyanjung tinggi kerja 'orkestra' sepakbola mereka. Dari sebuah fantasi Italia menggapai mimpi. Tak bertahan dengan Cattenacio yang selama ini sering dihadiahi publik dan pengamat sepakbola kepada sepakbola Italia, lebih dari sekedar bertahan Italia justru menekan lawan dan tampil sebagai juara.

Sejak itu sepakbola Italia mengundang banyak tanya, kenapa sepakbola mereka begitu 'merdu', meluluhkan lawan, seperti sajak indah yang membuat penonton tak ingin pergi dan tentu dengan sedikit kontroversi. Melawan Australia di perdelapan final mungkin boleh dibilang kontroversi. Wasit menghadiahi 'aksi' jatuh Grosso dengan penalti, Totti sang eksekutor menyempurnakan perangi Italia sepanjang pertandingan, hanya memberi tak lebih dari beberapa peluang, Italia menekan Australia sepanjang 90 menit. Melangkah ke perempat final dan menggasak Ukraina, melumat tuan rumah Jerman di semifinal dan memberi air mata bagi kekalahan Perancis difinal, memberitahu dunia bahwa sepakbola Italia masih yang terbaik di dunia.

Pirlo Sang Fantasista

Lippi mungkin takkan tercatat sejarah juara piala dunia jika tak memanggil pemain ini, ya, Andrea Pirlo, nyawa AC Milan yang terbuang. Pirlo memainkan peran yang luar biasa, bukan hanya memfantasi serangan Italia, namun dia menjadi konduktor untuk membuar alur bola menjadi cepat atau lambat. Di 2006, Pirlo mengawal Italia menjadi juara dunia. Tapi 2008 dam 2010 Pirlo tenggelam bersama sisa sisa kejayaan piala dunia 2006.

2010, Klimaks bagi juara dunia yang gagal ke babak selanjutnya. Kegagalan menundukkan kuda hitam Slovenia, menelantar nasib Italia untuk lolos ke perdelapan final dan menjadi bahan tertawaan dunia. Hingga Lippi mundur secara tragis dan berganti ke Cesare Prandeli.

2012, Cesare Prandelli membuat suasana beda. Jika sebelumnya pelatih Italia lebih menghindari sang pemain nakal, namun Prandelli memberi kesempatan lewat si anak nakal dan pemain naturalisasi. Untuk Naturalisasi Prandelli mendapat kecaman dari kaum ortodoks Italiano pemuja catenacio. Melawan Spanyol di babak awal penyisihan Euro 2012, Italia harusnya bertahan seperti tim-tim yang menghadapi tiki taka Barcelona. Memarkir bus istilah terbaiknya. Namun Prandeli seperti 'mengejek' dengan memasang 3 bek untuk meladeni 6 gelandang kreatif Spanyol, Italia cendrung melawan agrevitas lini tengah dengan 5 gelandang dan menciptakan gol permulaan. Walau tak jadi menang, cara bermain Italia menjanjikan peluang.

Melangkah ke perempat final setelah Spanyol tak memberi angka bagi Kroasia. Italia lolos dan bersiap menghadapi kebangkitan Sepakbola Inggris. Si Singa yang terluka. Sama-sama tak menggembirakan di piala dunia 2010, Italia dan Inggris mencari nama besar mereka di sepakbola Eropa. Disini Inggris yang tak berdaya akan kejayaan nama besar. Dengan keindahan simfoni melalui iringan Andrea Pirlo berhasil mempatahkan pertahanan berlapis Inggris. Italia berhasil membangun asa untuk menjadi juara, melalui simfoni indah, lewat skema menyakitkan adu penalti, selanjutnya mereka menatap kejayaan berikutnya di Ukraina.

Haendy Busman

/www.haendybusman.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

mengamati dan menulis walau bukan seorang yang "ahli" | Twitter @haendy_busman | Footballism
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?