Chelsea, Telenovela Drama Sepak Bola

29 April 2012 17:36:45 Dibaca :

Tak ada yang patut dicerca, ketika sebuah tim memakai taktik bertahan untuk dapat memenangkan pertandingan, apalagi setelah tim tersebut bermain dengan jumlah pemain yang kurang, seperti Chelsea, "kemenangan" dengan hasil seri melawan klub sekaliber Barcelona menjadi faktor x kenapa sepakbola mempunyai nilai hiburan yang lebih. Keberhasilan Chelsea menembus final liga champion mungkin tak ada yang membayangkan sebelumnya. Apalagi sejak krisis internal melanda Chelsea. Masalah internal Chelsea muncul jauh sebelum Andre Villas Boas datang. Tepatnya November 2010, ketika Chelseanya Ancelotti sedang merajai premier league dengan double winnernya FA dan Premier League diakhir musim sebelumnya. Saat itu menjelang laga melawan Sunderland dikandang sendiri, kondisi internal Chelsea menghadapi guncangan karena asisten pelatih Chelsea Ray Wilkins dipecat oleh sang boss, Roman Abramovic. Dampak setelah pemecatan Ray Wilkins langsung terasa, Chelsea kalah telak 3-0 dari Sunderland di Stamford Bridge. Sejak ini Chelsea mulai goyah serta puncak klasemen dikuasai Manchester United. Untuk menangkal krisis Roman Abramovic tidak tinggal diam, dibursa transfer musim dingin, Chelsea memecahkan rekor transfer premier league dengan mendatangkan Fernando Torres dari Liverpool. Kedatangan Torres pun dianggap mampu mengembalikan Chelsea ke jalur juara. Tapi nyatanya Torres tak mampu mengubah krisis Chelsea, Torres tak bertaji, Chelsea tanpa gelar dan Ancceloti dipecat diakhir musim. Musim baru, Abramovic mencoba untuk menjadikan Chelsea sebagai kandidat juara, dia pun mencari pelatih terbaik di seantero Eropa , ada banyak kandidat namun hanya Andrea Villas Boas terpilih karena gelar liga Europa dan juara liga domestik bersama FC Porto menjadi jaminan. Singkat kata kehadiran Villas boas di Chelsea akan mengubah kegagalan Chelsea musim lalu, namun waktu mengubah asa dengan menjawab berbeda. Dengan usia yang masih muda, respek pemain senior Chelsea terhadap Villas Boas tak ada, Villas boas pun tak tinggal diam, pelan-pelan ia menghilangkan peran para pemain senior dari skema permainan Chelsea, hasilnya Chelsea tak berkembang dari satu pertandingan ke pertandingan lain, gelar juara dimasing-masing kompetisi pelan-pelan mulai raib. Disini Abramovic gantian yang tidak tinggal diam, dipengaruhi beberapa pemain senior Chelsea, Abramovic melengserkan Villas Boas dan menggantinya dengan Di Matteo, Mantan pemain Chelsea asal Italia. Banyak yang ragu dengan Di Matteo, riwayat kepelatihan yang cendrung biasa saja membuat Di Matteo hanya "Carataker" sampai akhir musim. Di Matteo langsung merasakan apa yang dirasa Villas Boas ketika pemain senior berkuasa seperti John Terry menunjukkan peringainya. Pertandingan melawan Napoli dalam leg kedua liga champion saat Chelsea sudah unggul 4-1. Menjelang akhir pertandingan Di Matteo memasukkan Essien untuk mengganti Terry. Terry pun keluar lapangan dan mencoba mengambil alih peran Di Matteo sebagai "pelatih"dengan menyuruh Essien untuk tak maju membantu serangan, dari sini mulai terlihat bagaimana kuatnya pengaruh senioritas di tim Chelsea dan media olahraga Eropa mulai menghembuskan drama baru krisis Chelsea. Di Matteo mengambil sikap tepat ketika aksi John Terry sebagai "bos" Chelsea terungkap di media, Di Matteo cendrung membiarkan Terry yang berhadapan dengan media dan menjelaskan semuanya. Terry pun mencoba mendinginkan suasana dengan pernyataan-pernyataan positifnya. Krisis pun cendrung hilang hari demi hari. Hasil positif trus diraih Chelsea hingga Chelsea lolos ke final piala FA berhadapan dengan Liverpool serta berhadapan lagi dengan Barcelona di leg kedua semifinal liga champion. Di leg kedua melawan Barcelona di Nou Camp, Chelsea berusaha menjaga asa ke final usai mengalahkan Barcelona 1-0 dileg pertama di Stamford Bridge. Bisa ditebak dengan tiki taka Barcelona terus mengepung Chelsea di separuh lapangan Chelsea, umpan demi umpan, pergerakan demi pergerakan membuahkan hasil melalui Sergio Busquet dilanjutkan aksi "nakal" Terry menjatuhkan Alexis Sanchez yang menyebabkan dirinya dikartu merah, ditambah gol kedua Barcelona oleh Iniesta maka peluang Chelsea ke final hampir musnah sebelum datang gol telat Ramires di ekstra time babak pertama, Chelsea 1- Barcelona 2. Barcelona, dibabak kedua makin menekan Chelsea di seperempat lapangan Chelsea. Makin tertekan, Chelsea berusaha mati-matian berjuang mempertahankan gol agregat dikandang lawan. Memasang delapan pemain sepanjang kotak 16 meter ala cattenacio menjadi pilihan terbaik sambil mengharapkan serangan balik. dan ketika penalti Messi gagal serta serangan Barcelona "hanya" mengincar tiang gawang. Seorang Torres muncul untuk mendeklarasi diri sebagai pemain yang selalu menjebol gawang Barcelona di 6 pertemuan akhirnya. Striker yang mengalami masalah psikologis tentang mencetak gol mulai bertaji ketika Di Matteo berkuasa, golnya ke gawang Barcelona mendapat nilai lebih dari sekedar gol penyeimbangnya. Seperti Chelsea di semifinal 2009 yang dilukai gol telat Iniesta maka gol Torres menjadi luka bagi Barcelona saat ini. Kemenangan 6-1 atas QPR disertai hattrick seorang Torres dalam lanjutan liga primer semalam, melengkapi drama telenovela Chelsea yang sering berganti-ganti pelatih dalam 5 tahu terakhir, andai Chelsea gagal di dua finalnya, Di Matteo tetap mendapat tempat dihati para pencinta the blues. Ya, seorang pelatih yang muncul karena cedera patah kaki diusia 30 tahun kini akan mengukir mimpi....... twitter : @haendy_busman

Haendy Busman

/www.haendybusman.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

mengamati dan menulis walau bukan seorang yang "ahli" | Twitter @haendy_busman | Footballism
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?