Win Wan Nur
Win Wan Nur wiraswasta

Saya adalah orang Gayo yang lahir di Takengen 24 Juni 1974. Berlangganan Kompas dan menyukai rubrik OPINI.

Selanjutnya

Tutup

Malaysia Juara Sejati dan Bravo Timnas Garuda...

29 Desember 2010   15:07 Diperbarui: 26 Juni 2015   10:14 1670 1 21
Malaysia Juara Sejati dan Bravo Timnas Garuda...
12936349861820744042

Pergelaran Piala AFF tahun ini benar-benar luar biasa, Indonesia membuktikan diri sebagai tim terbaik di turnamen. Penampilan Timnas pada pergelaran piala AFF tahun ini adalah penampilan terbaik Indonesia sepanjang sejarah turnamen ini pernah digelar. Daya tempur, semangat bertanding timnas kali ini benar-benar mengagumkan dan membuat merinding bulu kuduk semua pendukungnya.

Penampilan Timnas sepanjang Turnamen NYARIS sempurna, dari 7 pertandingan yang dimainkan Timnas, mereka memenangkan 6 diantaranya. Hanya satu cacat kecil yang membuat Timnas gagal juara, yaitu kekalahan 3 - 0 di kandang Malaysia, tim yang di babak penyisihan dikalahkan oleh Indonesia dengan skor fantastis 5 - 1.

Tapi kegagalan menjadi juara di turnamen ini, sama sekali tidak mengurangi kekaguman saya pada tim ini.

Meskipun sudah hampir bisa dipastikan tidak mungkin menjadi juara, semangat tim ini sama sekali tidak kendor pada final leg kedua. Tim ini bertempur layaknya laskar Sparta yang legendaris. Semangat tim ini sama sekali tidak kendor meskipun penalti kapten Firman Utina di babak pertama gagal menghasilkan gol.

Sebaliknya dengan tim Malaysia.

Tim ini hancur lebur di pertandingan pertama, jatuh ke titik nadir. Tapi Rajagobal yang di status facebook saya hari ini saya juluki sebagai Mourinho-nya Asia Tenggara dengan luar biasa mengembalikan semangat tim ini. Malaysia yang menjadi penyakitan di pertandingan pertama pun berhasil dia sulap, menjelma menjadi kekuatan yang luar biasa dan berhasil menyapu semua lawan di depannya.

Sebagai pelatih, Rajagobal seperti Mourinho, dia tidak peduli apakah timmnya bermain bagus atau tidak. Yang terpenting sasaran utama yang ingin dia capai adalah juara. Hebatnya lagi, tim Malaysia yang dia asuh ini berisi pemain-pemain yang berusia masih sangat muda, sehingga bisa dipastikan mereka akan mendominasi kekuatan Sepakbola di Asia Tenggara dalam waktu lama.

Memang kita bisa saja mengatakan, kemenangan tim asuhan Rajagobal ini tidak terlepas dari kecurangan suporter Malaysia yang mengganggu konsentrasi pemain timnas pada pertandingan leg 1 final di Bukit Jalil. Tapi ketika tadi kita melihat, ketika bermain di Senayan, kiper timnas Malaysia pun diganggu dengan laser yang sama, tapi tim Malaysia sama sekali tidak terpancing dan tidak kehilangan konsentrasi seperti kita. Fakta ini jelas membuktikan kalau tim muda Malaysia yang diasuh pelatih hebat bernama Rajagobal ini memang tim yang memiliki mental juara.

Jadi harus kita akui Tim Malaysia yang menjadi lawan kita di final ini adalah sebuah tim yang memiliki segalanya. Mereka memiliki pemain hebat dan pelatih yang luar biasa serta dukungan yang besar dari asosiasi sepakbola di negaranya dan yang terpenting KEBERUNTUNGAN.

KEBERUNTUNGAN memang pantas kita kedepankan sebagai penentu juara Piala AFF tahun ini, saat pertandingan di Malaysia ada banyak peluang yang gagal kita konversikan menjadi gol. Di Jakarta, saat pertandingan masih dalam babak pertama, Indonesia mendapat pinalti, tapi kapten tim Firman Utina gagal mengubah keuntungan ini menjadi Gol.Sseandainya pinalti itu berhasil disarangkan, atmosfer pertandingan tentu akan berubah seluruhnya. Indonesia terus menyerang, pertahanan Malaysia berhasil dibuat kocar-kacir tapi gol tetap gagal disarangkan. Sebaliknya saat Indonesia keasyikan menyerang, akibat satu kesalahan, pemain Malaysia mengirimkan satu umpan matang kepada Safee Sali pemain gempal yang menurut saya adalah pemain terbaik di turnamen ini sukses mengubahnya menjadi gol yang membuat perjuangan tim Indonesia untuk meraih gelar juara menjadi semakin sulit.

Hebatnya, kemasukan gol itu, sama sekali tidak membuat timnas hilang semangat, dan akhirnya, meskipun kemudian Indonesia berhasil menyarangkan dua gol, tapi tim hebat milik Indonesia ini tetap gagal menjadi juara. Tapi meskipun begitu, kegagalan menjadi juara Piala AFF tidak pantas kita timpakan kepada para pemain timnas yang sudah bertarung layaknya pejuang ini. Kesalahan juga tidak pantas kita timpakan kepada pelatih Alfred Riedl yang telah menunjukkan kinerja yang luar biasa dalam memimpin tim ini. Bahkan kesalahan juga tidak pantas kita timpakan pada ketidak sportifan pendukung Malaysia di Bukit Jalil yang sukses merusak konsentrasi tim ini di final leg 1.

Sebaliknya, kegagalan tim yang luar biasa ini menjadi juara pada turnamen piala AFF tahun ini patut kita timpakan pada NURDIN HALID dan Aburizal BAKRIE, karena dua orang inilah yang paling bertanggung jawab dalam membuat tim yang luar biasa ini kehilangan konsentrasi menjelang final. Menjelang final, Nurdin Halid dan Aburizal Bakrie dengan tidak tahu malu memanfaatkan popularitas tim ini yang menjulang selama pergelaran piala AFF ini untuk mendongkrak popularitas pribadi mereka berdua yang telah jatuh ke titik nadir.

Keterlibatan dua orang ini dalam Timnas membuat banyak pendukung Indonesia mendua menghadapi kiprah tim ini di piala AFF. Di satu sisi, banyak pendukung Indonesia (termasuk saya) yang berharap tim ini juara, karena kita memang sudah begitu dahaga prestasi dalam waktu lama. Tapi melihat bagaimana tim ini dipolitisasi oleh Nurdin Halid dan Aburizal Bakrie pasca keberhasilan masuk final. Mendengar koar-koar Nurdin Halid dan keroco-keroconya yang mengatakan bahwa kesuksesan tim ini adalah murni berkat kinerjanya, ditambah Bakrie yang mulai mengungkit-ungkit jasanya, sehingga Timnas ini terlihat seolah-olah seperti sebuah klub milik BAKRIE yang dikelola oleh Nurdin Halid. Saya membayangkan, apa jadinya kalau tim ini juara. Tentu mau MUNTAH rasanya melihat koar-koar kedua manusia tidak tahu malu ini, mengungkit-ungkit jasanya terhadap Timnas.

Jadi saya pikir, apa yang dicapai oleh Timnas kali ini adalah pencapaian terbaik yang mungkin bisa kita harapkan.

Penampilan Timnas benar-benar memuaskan dan membanggakan kita semua yang mendukungnya, tapi Timnas tidak menjadi juara sehingga Nurdin Halid dan Aburizal Bakrie tidak bisa mengklaim prestasi itu sebagai jasa mereka. Sehingga kegagalan ini dapat kita jadikan sebagai momentum untuk MEMBERSIHKAN SEPAKBOLA dari KORUPTOR, PENGEMPLANG PAJAK sekaligus penjahat kemanusiaan.

Selamat buat Malaysia...Bravo TIMNAS INDONESIA

Turunkan NURDIN HALID....SEGERA...

Wassalam

Win Wan Nur
Penggemar Timnas Indonesia