Misteri Hilangnya 45

20 April 2012 09:38:34 Dibaca :
Misteri Hilangnya 45

Dari judul kayanya udah keren banget, kaya mau nyeritain suatu kejadian horror atau kejadian zaman kemerdekaan, padahal taraaaaammmm saya disini mau nyeritain sesosok bus yang setiap hari saya naikin yang biasa mengantar saya dari Tebet Gelael ke Cawang BNN. Entah apa yang terjadi sama itu bus, udah sedari minggu lalu ini bus ga datang pada jam biasanya, pun ga datang lebih pagi atau lebih siang dari biasanya, bus 45 benar-benar lenyap. Nyaris 40 menit saya menunggu tapi itu bus tak kunjung datang juga. Akhirnya saya putusin naik bus 57 jurusan Pulo Gadung, toh sama-sama lewat Cawang daripada saya naik taksi ga ikhlas banget masih pagi udah Rp.15,000 aja yang biasanya merogoh kocek Rp.2,000 untuk bisa sampai ke Cawang BNN. Semacam sudah hukum alam, setiap bus jurusan Jakarta utara dan sekitarnya kalau ga banyak penggemarnya itu ajaib, dan kalau mereka ga ngetem di stasiun Cawang nunggu kereta datang itu sepertinya dosa, so kebayang dong itu bus dalam tiga menit udah penuh sesak seperti wafer astor yang berjejer didalam toples, panas, pengap, bau, berdesak-desakan, kadang terjadi beberapa pelecehan, seperti orang gendut sabotase ruang sempit orang kurus, abang-abang nguap depan muka, ketek orang tepat berada di atas kepala, yang paling parah adalah tangan-tangan setan yang gerayangan masuk tas “dasar copet sialan”, dan tolong dibayangkan juga kondisi yang sebelumnya fresh, wangi, dandan rapi, muka ngecling lengkap dengan bedak dan lipstick, rambut tersisir rapi, pakaian necis rapi pula, tapi ketika keluar dari bus nista tersebut lihatlah perubahannya, yang akan keluar adalah sesosok manusia dengan muka kinclong, rambut aga berantakan dan baju basah penuh keringat, tentu saja tidak wangi lagi, tak ketinggalan bibir manyun dan kadang disertai sumpah serapah. Inilah yang saya alami 3 hari belakangan ini. Hari pertama saya masih pergi di jam yang normal yaitu 06.50, jam yang mepet memang, mengingat mobil jemputan saya akan tiba di Cawang BNN pukul 07.10, kalau naik bus 45 itu akan tiba di Cawang BNN 07.00~07.05, saya masih punya sisa waktu 5 menit sebelum mobil jemputan tiba. Tapi hari itu saya ga naik bus 45, karena saya pikir saya telat dan bus 45 mungkin udah lewat, akhirnya saya putuskan naik bus 57 tepat jam 07.00, sampai Cawang BNN 07.15, mobil jemputan belum tiba, entahlah kadang juga dia suka telat. Hari kedua, saya pergi lebih pagi 10 menit dari normalnya yaitu jam 06.40, tidak terlalu mepet dan harusnya saya bisa naik bus 45, tapi aktualnya sama dengan hari sebelumnya, bus 45 tak kunjung datang sampai jam 07.00, dan terpaksa saya naik bus 57 yang ga manusiawi, sampai Cawang BNN mobil jemputan baru tiba dan semua penumpang sudah masuk di dalam, mobil baru akan bergerak maju, itungannya saya belum telat karena masih keburu. Hari ketiga, saya pergi lebih pagi 15 menit dari hari kedua atau 30 menit dari jam normal yaitu 06.20. Sangat pagi. Orang-orang yang biasa saya temui di jam normal belum ada yang nampak. Tapi apa yang terjadi. Tuhan ini apa lagi??? saya tak juga melihat satu pun bus 45 lewat halte dimana saya nunggu, dan saya terpaksa mengalami lagi pengalaman buruk naik bus 57 yang dua hari lalu gue tumpangi. Sampai Cawang BNN jam 07.10 dan mobil jemputan sudah tiba, dan konon katanya sudah 2 menit diam menunggu saya. Kali ini itungannya telat serta mengundang komentar salah satu senior saya di mobil jemputan. Ini jelas bukan kesalahan saya sepenuhnya, karena dari hari ke hari saya berangkat lebih pagi dan lebih pagi, namun itulah fakta yang terjadi, bus 45 lenyap sehingga memaksa saya harus naik bus-bus yang itungannya nista, seperti bus 57, bus P02, bus P55, dan tentu saja bus 89. Semua bus tersebut kalau posisinya belum miring ke kiri maka haram hukumnya untuk mereka melanjutkan perjalanan. Menyikapi masalah ini saya belum terpikir jalan keluarnya apakah saya harus beralih ke bussway atau mulai mencicil sepeda motor, atau nyari pacar baru yang berkarir sebagai tukang ojek.

Widianti Riss

/widiantiriss

Football lovers, Traveling addict, Photography eaters, admirer of Lan Fang.
see me @rissmot

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?