Mohon tunggu...
L. Wahyu Putra Utama
L. Wahyu Putra Utama Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat Kopi

Literasi dan Peradaban

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Generasi Islam 4.0: Moderat, Rasional, dan Progresif

12 Juni 2019   12:44 Diperbarui: 12 Juni 2019   12:52 276
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hakekat zaman terus bergerak dan berubah. Bagi setiap yang menghendaki hidup, harus siap menghadapi perubahan. Demikian dengan agama, sebagai sebuah bangunan spiritual, agama mencakup nilai normatif (transenden) yang bersifat mutlak kebenarannya. Tetapi sebagai produk akulturasi dan implementasi, agama memperlihatkan elastisitas; berubah dan cenderung mengikuti  kaidah zaman.

Nilai mutlak dari agama tercermin dalam ajaran ketauhidan (ilahiyyah). Konsep tersebut dipahami tunggal dan terikat bagi pemeluknya. Sedangkan, wujud elastisitas terlihat dari pluralitas madzhab dan pemahaman pemeluknya berdasar pada potret latar budaya dan sosial.

Bagaimanapun, saya kurang sepakat terhadap pemaknaan agama hanya sebatas "hubungan" Tuhan dan makhluk, pahala dan dosa, hidup dan mati dan negasi-negasi serupa. Lebih dari itu, sebenarnya agama merupakan wadah yang menaungi dan  membentuk peradaban. Peradaban itu bisa wujudnya inovasi; penemuan bermanfaat bagi kemajuan umat manusia atau variabel makroskopis lain.

Ruang agama sebagai wadah peradaban ini tampak lepas oleh sebagian pihak yang mengelompokkan dirinya fundamentalis, puritan dan semacamnya. Perlu anda ketahui, saya tidak ingin menyinggung fundamentalis dan puritan ini dalam arti kesalehan pribadi dan sosial karena agama memang memiliki tujuan untuk membentuk karakter kesalehan pribadi. Yang saya garis bawahi dan kritik dari dua terminologi itu-fundamentalis dan puritan, lebih pada sikap menolak perubahan dan segala produk peradaban terutama produk Barat.

"Sikap fanatisme lahir dari gagalnya rasio, pikiran dalam memahami realitas. sikap inilah yang menghambat laju gerak peradaban dalam agama. Apabila sikap ini dipertahankan, yang lahir bukan nilai agama tapi arogansi itu sendiri, wujud arogansi itu nampak dalam wujud 'rasa dirinya paling benar dan paling pantas".

Sikap fundamental; anti pembaruan dan perubahan ini akan membahayakan keutuhan agama itu sendiri. Belajarlah dari sejarah, ketika Gereja pada abad pertengahan gagal mempertahankan otoritas dan kepercayaan pemeluknya sebab alasan Gereja-sentris; di mana ajaran Gereja-lah paling benar. Hasilnya, betapa banyak ilmuan besar yang dibunuh atas nama klaim Gereja. Itu semua diawali dari otoritas dan fanatisme yang salah.

Untungnya, jalan sejarah agama Islam itu berbeda. Islam sejak awal dibentuk oleh kerangka dasar keterbukaan. Islam sebagai payung peradaban, membuka pintu seluas-luasnya bagi pengembangan pengetahuan. Islam pula disebut menjadi motor penggerak inovasi itu sendiri.

"Islam  tidak pernah membatasi diri, Islam sebagai produk peradaban mengapresiasi buah pikir manusia. Bukan hanya itu, Islam menjadi pendorong bagi lahirnya pengetahuan-pengetahuan baru. Itu semua, karena Islam menghendaki perubahan bagi manusia. Tentu perubahan yang progresif".    

Lain abad pertengahan dengan hari ini, Islam tak lagi perkasa. Tergantikan oleh dominasi budaya dan peradaban Barat. Bukan Islamnya diperbaiki, melainkan mereka yang mengatas namakan diri puritan dan fundamentalis itu-lah yang harus berbenah, membuka diri dan melihat dinamika perubahan.

Perubahan yang sedang kita hadapi adalah dengan hadirnya Revolusi Industri 4.0. Sebuah perubahan mutakhir dari kehidupan manusia di akhir abad 21. Kecerdasan buatan (artificial intelligence), produknya barang dan jasa, kemajuan teknologi menjadi ciri dari jalannya proses revolusi 4.0. Diprediksi, empirisme dan positivisme menjadi corak pemikiran manusia.

Di sinilah, tantangan Islam diuji. Apakah ia masih mempertahankan fanatisme atau belajar kembali membuka sejarah yang telah mengukir Islam sebagai pemuncak peradaban. Umat Islam musti segera berbenah, generasi Islam bukan lagi terkungkung pada garis-garis otoritas; mereka yang hanya di mimbar-mimbar. Generasi emas itu diukur dari seberapa besar mereka berupaya mengembalikan kejayaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun