HIGHLIGHT

Saodah Namanya

29 Mei 2012 05:38:26 Dibaca :
Saodah Namanya

Ketika  admin mem-publish sebuah lomba yang bertemakan "perempuan disekitarmu" berhadiah sepeda lipat "seli", tak terbersit keinginan untuk mengikutinya, selain hadiahnya kurang menarik :D bisa dipastikan ulasan perempuan terhebat adalah mamak ku dan rasanya tak pantas aku memuji perempuan lain sementara diseluruh hidupku mamak adalah sosok perempuan yang kukagumi. Tapi dibeberapa hari terakhir ini, disela kesibukan ku dan mamak mengurus persiapan pernikahan, tiba-tiba saja mamak minta ijinku untuk tak dilibatkan dahulu dalam kesibukan itu. Mamak minta ijin untuk tak menemaniku mengurusi gedung, catering bahkan ke tukang jahit. Apa sih yang lebih penting dari persiapan ini mak ? Sudah 3 minggu ini memang aku melihat sosok wanita (janda) paruh baya , wanita ini selalu datang dipagi dan sore hari. Mengenakan jilbab kaos sorong, membawa dompet dan seplastik kertas. Wanita ini bicara dengan suara serak dan seperti orang habis berlari jauh tersenggal-senggal dan parau. Senyumannya menunjukkan barisan gigi yang tak rapih. Mamak mengenalnya karena dia tetangga kami (aku baru tahu) dan selalu hadir dimesjid untuk sholat atau pengajian. Perempuan paruh baya itu memiliki 4 anak, 3 putra dan 1 putri. Kesusahan hidup jelas tergambar diwajahnya, dan siang itu perempuan itu datang ke rumah, dengan suara parau nya, senyum sebentar dan langsung mencari mamak..mamak pun segera menghampirinya dan aku melihat jilbab kaos yang dikenakan tepat dibagian lehernya seperti basah, basah akan keringatkah? dan masyaallah betapa kagetnya ternyata itu adalah bercak darah yang keluar dari lehernya, baju bagian pundak sudah ternoda oleh darah dan jilbab itu sudah dilapis dua masih saja basah. Perempuan inilah yang menyita waktu mamak ku, memegang Jamkesmas adalah sebuah jaminan dari negara bahwa simiskin akan mendapat pengobatan gratis. Diantara cerita kemudahan memanfaatkan Jamkesmas pasti ada contoh kasus gagalnya dan kegagalan itu tak murni diakibatkan jeleknya pelayanan bisa juga disebabkan ketidaktahuan sipemegang Jamkesmas. Ya..seperti perempuan tua ini sudah bertahun-tahun menderita Gondok, sudah berpuluh-puluh kali mengantri di Rumah Sakit namun sampe senin siang kemarin masih belum mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya. Karena itulah mamak berusaha membantu "memberikan sebagian waktunya" karena dari sisi materi memang kami tak sanggup kalau hanya sekedar ongkos ojek dan angkot untuk mondar mandir Rumah sakit masih bisa kami berikan. Ternyata orang miskin itupun tak selalu menginginkan bantuan kita dalam materi. Bantuan tenaga dan waktu sudah cukup membuat perempuan tua ini bahagia. Akupun mulai ikut membantu, plastik kresek yang berisi kertas itu kami buka dan semua isinya hanyalah surat-surat rekomendasi dokter, surat rujukan rumah sakit, surat keterangan domisili dan surat-surat lainnya yang berhubungan dengan sakitnya. Sebagain kertas itu sudah tak bisa dibaca, dan digunakan. Mengapa tidak dibuang saja bu ?tanyaku.."aku tak bisa baca nak , nanti kalau aku buang taunya dibutuhkan. Hmm..mana sih anak-anak ibu ini mak ?? Melotot mata mamak memberi kode "nanti diceritakan". Beberapa surat yang sudah kadaluarsa kami rapihkan dan besok mamak akan membantunya menguruskan keperluan sakitnya untuk mendapat pengobatan gratis. Perempuan buta huruf itu pamit pulang, ternyata dari 3 anak prianya yang tertua sudah berpulang ke rahmatullah..innalillahi, yang membuat miris anaknya yang berprofesi tukang ojek itu meninggal kecelakaan dan malam sebelumnya anak itu berbisik ketelinga sang bunda " mak jangan khawatir hutang rumah ini akan segera lunas". Kematian anak tercinta membuat perempuan ini memiliki sebuah rumah tanpa sisa hutang lagi. Apa yang terjadi dengan 2 anak pria lainnya ? mengapa tak menolong sang bunda untuk mendapat perawatan ? Pria kedua mempunyai sejarah penyakit jiwa, tak sampai kasar kepada tetangga tapi dikala sedang kumat maka adzan dimesjid bisa berkumandang tidak pada jamnya dan ini adalah ulah anak perempuan tua itu, meskipun tak waras anak ini selalu ke mesjid. Sedangkan pria ke tiga tak sanggup dalam keadaan terjepit, tak sabar ketika harus mengantri dan akan panik memacu emosinya dan membuat orang sekitar taknyaman. Sedangkan sang putri sudah terbenam oleh rasa minder dan kemiskinan sehingga orang akan memandangnya dengan label "tak waras". Pantaslah kiranya perempuan itu berjuang sendirian, pantaslah kiranya senyumnya selalu mengembang ketika mamak menemaninya, dan aku merasa menjadi sangat tak berguna, menjadi tetangga yang tak bisa berbuat banyak, namun lewat tulisan ini aku hanya ingin kalian mendoakan bagi kesembuhan perempuan tua ini. Akupun berusaha menemui Dr. Posma Siahaan salah satu kompasianer dan beruntung beliau bersedia meluangkan waktu untuk memeriksa perempuan ini (direncanakan rabu/kamis minggu ini). Bagaimana dengan tetangga lainnya ? Mereka sudah cukup peduli, beberapa kali pengumpulan dana dilakukan, namun mereka hanyalah manusia tak sempurna ketika perjuangan mereka tak membuahkan hasil mereka merasa capek dan berhenti. Selama ini dana yang terkumpul tak terpakai untuk pengobatan melainkan digunakan untuk makan dan belumlagi ulah anak-anaknya yang tak waras seringkali membuat dana yang terkumpul dari tetangga terpakai tidak pada tempatnya. Namun apakah kita masih bisa menyalahkan perempuan tua ini ? keadaannyalah yang membuatnya seperti tak menghargai bantuan tetangga, tapi sebagai manusia yang lebih waras baiknyalah kita memaklumi keadaaannya. Melihat kami anak beranak peduli dengan perempuan tua ini beberapa tetangga mulai memberi nasehat "percuma saja kalian berbuat" selama ini kami sudah berbuat dan tak ada gunanya. Mamak mendatangi seorang dokter yang nota bene adalah tetangga, melalui Dokter ini kami berharap perempuan tua ini akan bisa segera menikmati Jamkesmas nya, dia akan dirawat dan segera dioperasi. Namun bersama Dokter itu kami mendapat penjelasan dari Rumah Sakit bahwa semua surat dan hasil X-ray sudah tak bisa digunakan sebagai refrensi untuk tindakan pengobatan. Dokter itupun meminta maaf karena tak akan bisa membantu lagi, akan membutuhkan waktu cukup lama untuk memulai dari awal proses administrasinya, cek darah, surat keterangan lurah. Dan menurut dokter hanya ada satu harapan yaitu ketika gondok perempuan tua ini pecah dan berdarah maka rumah sakit akan melakukan tindakan !! Itu artinya menunggu keadaan sekaratkah ? tanyaku, semua terdiam hanya perempuan tua itu yang tersenyum 'sudah bu kita pulang saja' ajaknya pada mamak. Dan akhirnya perempuan tua itu datang kerumah dengan jilbab bernoda darah, dan sore kemarin perempuan itu mendapatkan kamar berisi 6 orang, lehernya dibersihkan dan dijahit dan leher itu kini mengempis, semoga ini adalah pertolongan dari Allah untuk kesembuhan perempuan tua itu, terima kasih Dr. Posma meskipun aku tak akan menemui mu sesuai janji kita kemarin karena perempuan itu sudah mendapatkan kamar untuk dirawat lebih lanjut. Perempuan tua itu tersenyum ketika aku, adikku dan mamak mengunjunginya semalam, ditempat tidur yang kecil namun dia tersenyum "akhirnya bu berdarah dan aku dirawat" ada naknya disana dan baru kali ini aku melihat anak-anaknya dari sorot mata mereka terlihat memang jiwanya yang sakit,namun keduanya memijat kaki sang bunda sambil senyum-senyum. Saodah namanya, janda miskin yang hidup dengan anak-anak yang tak mampu atau belum mampu membahagiakannya. Semoga hari ini disaat tulisan ini ku publish, Ibu Saodah keadaannya lebih baik, dokter harus menormalkan tekanan darahnya untuk kemudian bisa dilakukan tindakan bedah membuang tumornya. Saodah adalah satu dari banyaknya wanita yang berjuang melawan kerasnya dunia tanpa melupakan sang pencipta. Terkadang jamaah mesjid sudah keberatan dengan keberadaan nya bukan jijik tapi hanya takut mesjid ternoda oleh darah yang menetes dibalik mukenahnya. Ibu Saodah istirahatlah semoga kali ini perjuanganmu akan berhasil, semoga Allah akan memberikan kesembuhan bagi sakitmu, aamin ya rab. #poto sengaja tak saya tampilkan untuk menghormati ybs.

Uli Hartati

/ulihape

TERVERIFIKASI (HIJAU)

I dont know, but i know what i want.. Hanya menulis apa yang pernah aq lihat, dengar dan rasakan...mengarang bukanlah hobbi ku...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPAS WOMEN FIESTA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?