PILIHAN

Kegelishana Penulis Pemula

20 September 2012 21:36:08 Diperbarui: 25 Juni 2015 00:07:01 Dibaca : Komentar : Nilai :

Hidup diperantauan, jauh dari orang tua, belum mempunyai banyak teman dan tidak ada tempat berkeluh kesah. Walaupun ada kakak dan saudara tapi tak semuanya dapat dicurahkan. Adakalanya tidak ingin membagi beban yang kupunya kepada orang-orang terdekat. Adakalanya ingin menyimpan suatu masalah didalam dada dan tak ingin mengungkapkannya. Hanya berdiam diri dan menuliskannya untuk mengurangi kegelisahan dan kegundahan yang kualami.


Sedikit lega memang saat jari jemari ini menekan tombol keyboard dan menuangkan beba itu dalam kata-kata. Ada teman mengatakanku aneh. Ada saudara yang mengetahui kebiasanku menyendiri dan berlama-lama inipun mencibirku. Aku hanya tersenyum tipis saati cibiran itu menderaku. Masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Mereka megatakan aku terlau egois, meskipun aku tak menganggu dan mengusik mereka.


“Ahh..memang gua pikirin?” itu kata-kata yang terlontar saat cibiran itu menderaku.


Dengan menuangkan dalam bentuk tulisan, kegelisahan dan kegundahan sedikit sirna. Dan disitulah sedikit demi sedikit kebiasan menulis menjadi hal yang menarik. Sedih atau gembira, komputerlah tempatku berbagi, menuangkan segala kebuncahan dalam dada ini. Dan disitulah timbul ketertarikan dan keinginan untuk mempelajari tulis menulis lebih jauh lagi.


Semakin mempelajari, semakin menarik untuk menguak kebiasaan kecilku ini. Berselancar didunia maya dan mencari artikel-artikel yang berkaitan dengan duni tulis menulis. Mencari buku tentang penulisan, membaca dan meresapi setiap artikel. Ketertarikan kian berkembang, tidak hanya menulis untuk mengurangi segala derita tapi mulai mempelajari car menulis cerpen dan novel. Tidak hanya menulis untuk dirisendiri, tapi menulis untuk bisa dinikmati orang lain.


***


Bosen dengan angka-angka itulah yang mendorogku untuk tetap menulis dan berkeinginan menjadi penulis. Empat tahun merantau dikota besar, berpindah-pindah tempat kerja dari perusahaan satu keperusahaan lain, dan mengalami hal yang hampir sama. Angka dan angka lagi. Ditekan sana-sini. Menghitung biaya-biaya membengkak dengan keuangan yang sangat minim. Rasa bosan pun mendera. Ingin segera berlari dari rutinitas tersebut, meninggalkan pekerjaan untuk mendalami ilmu baru yang membuatku merasa nyaman dan tak tertekan.


Sementara ini karya-karyaku belum menembus media masa dan penerbit. Karyaku hanya di notes facebook dan blok. Paling banter temen-temen menunjukkan jempol saja, itupun entah membaca entah tidak. Mencoba mengirimkan kemedia masa, setelah selang tiba bulan tak ada jawaban. Entah menyangkut kemana.


Aku berpikir ulang mengenai keputusan ini dan mengesampingkan rasa bosan yang mendera. Karya-karyaku belum bisa diandalkan karena belum bisa menembus pasar yang lebih luas. Menulis sebagai mata pencaharian tak kunjung datang. Lalu aku mengambil kesimpulan “Bagaimana caranya tetap bekerja tapi juga menulis?”


Itulah yang menjadi pertanyaan sekaligus tantangan tersendiri bagiku. Sungguh, menulis pasti memerlukan tenaga ekstra untuk mengeluarkan ide-ide dan pikiran dalam bentuk tulisan. Membagi waktu antara bekerja dan menulis sungguh tidak mudah kulakukan. Bekerja dengan angka-angka membutuhkan konsentrasi tinggi. Masih ditambah lagi dengan tekanan dalam bekerja dan kondisi ibukota yang macet parah setiap hari. Aku harus memisahkan bekerja dan menulis. Aku harus menjaga pikiranku agar tidak terpecah. Aku memerlukan sikap yang berbeda untuk menghadapi keduanya. Sikap itulah yang mendorongku untuk mewujudkan impian jadi penulis, walaupun itu tidak mudah dan memerlukan kerja keras.


Sungguh, terkadang keyakinan akan karya yang kuhasilkan minim sekali. Ketidakpercayaan diri terhadap hasil tulisan itu yang membuat terbelenggu oleh hasil yang kujelaskan. Padahal keyakinan itu diperlukan untuk berkarya. Sedikit kucoba merenung “Manusia diciptakan berbeda dari yang lain. Oleh kembarpun mempunyai sifat yang tidak sama dengan saudaranya. Setiap orang unik dan tak akan pernah sama dnegan orang lain. Setiap orang memiliki ciri dan kepribadian sendiri sehingga memiliki sikap hidup yang berbeda dengan orang lain.


Aku mencoba menelaah dan menasehati diri sendiri. Memang benar adanya. Dalam berkaryapun tiap orang harus memberikan keunikan tersendiri. Tak ada penulis yang mempunyai karangan yang sama dengan penulis lain. Ide yang sama namun disampaikan secara berbeda, menimbulkan ciri khas yang membedakan seorang penulis dengan penulis lain.


Tuhan menciptakan kita sebagai pribadi yang unik. Keunikan itulah yang harus dikembangkan oleh seorang penulis. Ia harus bisa melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Dengan begitu, karya yang dihasilkanpun akan terlihat berwarna serta memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Pembaca pun akan hanyut saat membaca karya-karya penulis tersebut.


Sebagai pemula diduni tulis menulis ini banyak hal yang akan harus dipelajari. Pelajaran itu diperoleh antara lain dengan :


(1) Membaca karya-karya penulis lain. Bukan meniru tulisan atau gaya bahasanya, tapi sekedar mengetahui standar tulisan yang sudah diakui publik.


(2) Merendahkan hati untuk berguru pada orang lain, banyak bertanya dan bersosialisasi dengan orang-orang yang mempunyai minat sama agar tertular energi positif.


(3) memiliki pandangan yang jauh kedepan.


(4) Membuka mata, hati dan pikiran serta merasakan keadaan sekeliling. (5) Berlatih dan berlatih tanpa putus asa. Dengan begitu kepekaan akan terbentuk dan dapat menghasilkan karya-karya yang berbobot.


Menulis adalah sebuah kebutuhan. Menulis bukan untuk mencacimaki orang atau sekedar menuangkan unek-unek yang membelenggu jiwa. Menulis adalah ibadah yang akan membawa seseorang pada kemuliaan karena menginspirasi banyak orang.


Pekerjaan apapun tak lepas dari tulis menulis. Menulis adalah panggilan jiwa. Saat semua ide dikepala ini dikeluarkan, sesaat diri kita seolah-olah menjelma menjadi orang lain. Terkadang dirikita bisa menjelma menjadi beberapa karakter sekaligus dalam sebuah cerita. Disitulah keunikannya. Seorang penulis bebas menciptakan tokoh rekaan dan mengungkapkan karakter-karakter tersebut secara detail tanpa ada tekanan atau intimidasi orang lain. Pembaca tidak berhak meenggantikan karakter tersebut. Pembaca disihir untuk mengakui karakter tersebut.


Menulis adalah mentransfer energi yang mengendap dalam pikiran dan imajinasi menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati orang lain. Kesenangan menulis ini tidak serta merta turun dari langin, namun merupakan sebuah proses pembelajaran serta ketekunan untuk mencoba membuat karya yang diinginkan. Saat karya kita bisa mendapat pengakuan dan penghargaan dari orang lain, kebahagiaan yang dirasa tak terungkap dengan kata-kata.


Tak pelak lagi dunia tulis menulis tak lepas dari kehidupan kita.



***



(Karya kecilku yang berjudul “Kegelisahan Penulis Pemula” halaman 183-188 dalam Buku “Chicken Soup for Writerpreneur Soul” Penerbit Indie Publishing, May, 2011)

Titik Setyowati

/titiksetyowati

Orang biasa dan sederhana, lagi belajar menulis cerita, suka mendisplay kaos-kaos di Tee Distro Blok M Square, My Twitt : @tee_collection
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL buku media