HIGHLIGHT

Menyambut Kedamaian di Mesuji, Bumi Ruwa Jurai

02 Mei 2012 02:38:20 Dibaca :
Menyambut Kedamaian di Mesuji, Bumi Ruwa Jurai
Kol. Czi. Amalsyah Tarmizi, Cagub Lampung 2013-2018 (doc. pribadi)

Catatan: Ruwa jurai bermakna dua untaian bunga mayang terjurai, simbolisasi dua tradisi bangsa yang mengilhami kehidupan Masyarakat Lampung, ialah Tradisi Jawa dan Tradisi Lampung. Perpaduan dua tradisi ini menghasilkan Lampung Sai, yaitu Lampung yang satu, yang ramah dan berpengharapan. Gemah ripah loh jinawi.

Dalam konteks NKRI, Propinsi Lampung memiliki nilai strategis sebagai pintu gerbang menuju Sumatera. Setiap hari, ratusan ribu manusia melewati leher botol Selat Sunda. Dan bagi DKI Jakarta, Bandar Lampung adalah kota penyangga. Dengan demikian setiap perubahan di Propinsi Lampung akan berpengaruh langsung terhadap Jakarta dan NKRI pada umumnya.

Tanpa terasa, 2013 mendatang Propinsi Lampung akan kembali menyelenggarakan pilkada. Gubernur yang menjabat sekarang, Syahrudin, telah menuntaskan dua periode kepemimpinannya sehingga tak bisa mencalonkan diri lagi. Tanpa bermaksud merendahkan kemampuannya pula, sebagai penanggung jawab stabilitas ipoleksosbud daerah, kita terpaksa mengatakan bahwa Syahruddin telah gagal. Kasus Mesuji yang menyentakkan nilai-nilai kemanusiaan telah kita ketahui bersama. Hingga kini, akar persoalannya belum terurai tuntas.

Berdasarkan pengamatan empiris penulis - dan kasus Mesuji merupakan buktinya - Propinsi Lampung memang rentan terhadap gejolak sosial yang berakar pada persoalan ekonomi. Jaraknya yang begitu dekat dengan Jakarta dan dan dukungan infrastruktur perhubungan yang memadai, membuat Lampung menjadi sasaran investasi para pemilik modal, utamanya di sektor agro-bisnis. Kondisi itu menimbulkan dampak negatif sebagaimana juga terjadi di daerah lain, yaitu kecemburuan sosial. Kesempatan untuk memanfaatkan aset lahan untuk perkebunan telah memicu ketegangan antara pemilik modal dan penduduk asli. Ditambah lagi derasnya arus urbanisasi dari Pulau Jawa dan daerah lain di Sumatera mengiringi penanaman modal itu. Sedikit saja terjadi perselisihan di tengah masyarakat, dengan mudah mengembang menjadi persoalan SARA.

Curas, curat, perampokan, pembegalan di jalan raya, dan lain-lain memiliki intensitas yang lebih tinggi di Lampung dibandingkan dengan di propinsi lain. Begitu pula kasus pertikaian antar desa, antar kelompok masyarakat, aliran-aliran sesat, demo anarkis, perebutan lahan, dan sebagainya. Komunitas warga asli Lampung sendiri yang tersebar di beberapa wilayah kebuaiyan (semacam tanah ulayat marga dalam perpektif adat) telah lama merisaukan fenomena ini. Namun sampai sejauh ini belum ada kebijakan pemerintah yang secara efektif menjembataninya.

Untuk itu diperlukan Kepala Daerah/Gubernur yang lugas-pragmatis, komunikatif, visioner dan tegas menegakkan aturan. Berani bertindak sebagai panglima bagi seluruh elemen masyarakat, mulai dari rakyat jelata sampai rakyat yang berkantong tebal. Berani menghadapi pesoalan untuk menyelesaikannya, tanpa menunda-nundanya. Ringkasnya, bergaya tentara.

Dalam kaitan itu penulis menyambut gembira munculnya seorang tentara - ialah tentara sungguhan - dalam meredam pertikaian Mesuji. Dengan gayanya yang khas, sederhana ala tentara, beliau berteriak di tengah keriuhan demonstrasi. Itu fenomena yang menjanjikan. Manakala tentara jaman sekarang cenderung bergaya priyayi, lamban dan bertele-tele, namun tentara yang satu ini tampaknya memiliki watak tentara sebenar-benar tentara.

Beliau adalah Kolonel Czi Amalsyah Tarmizi, Komandan di Korem di Lampung saat ini. Secara tak terduga pula, beliau telah mengumumkan rencananya untuk menjadi Gubernur Lampung melalui Pilkada 2013 mendatang.

Tanpa bermaksud memuji-muji di luar batas kepatutan, bagi penulis, kasus Mesuji merupakan ujian penting bagi siapa pun yang berniat memimpin Sang Bumi Ruwa Jurai, Lampung Sai. Mungkin Amalsyah Tarmizi tak bisa menuntaskannya dalam kapasitasnya sekarang ini. Lebih-lebih peristiwa itu dilatarbelakangi multi-tafsir atas UU Agraria yang menjadi domain pemerintah pusat. Namun apabila Amalsyah Tarmizi menjadi Gubernur Lampung, penulis memiliki keyakinan kuat, bahwa Kasus Mesuji dan kasus-kasus serupa di tempat lainnya akan tertangani dengan baik. Dan yang lebih menjanjikan, Amalsyah Tarmizi menyebut ‘tumpas kriminal-begal’ sebagai salah satu janji kampanye.

Janji memang janji, bisa ditepati bisa juga diingkari. Tapi sesungguhnya apabila diteliti ke belakang lagi, belum pernah ada Gubernur Lampung yang bicara tegas mengenai persoalan yang satu ini. Yaitu kasus kriminal yang sangat, sangat, sangat….., meresahkan masyarakat!

Selamat Menyambut Pemimpin, Warga Lampung.

*****

Tengku Bintang

/tengkubintangyahoocom

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pencak silat, binatang buas. biola.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?