Mohon tunggu...
Teddy Sukma Apriana
Teddy Sukma Apriana Mohon Tunggu... Teknisi - Seorang teknisi yang nyambi jadi blogger

Memberi inspirasi untuk dijadikan referensi kehidupan, sehingga memunculkan semangat revolusi dalam hidup.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Refleksi Hari Pramuka ke-58: Partisipasi "Semu" dan Maraknya Pelecehan Seksual

17 Agustus 2019   21:32 Diperbarui: 17 Agustus 2019   21:41 172
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sebelum artikel ini dimulai, saya ingin mengucapkan selamat hari Pramuka untuk para pembaca semua. Bulan ini, tepatnya pada tanggal 14, 58 tahun yang lalu, Gerakan Praja Muda Karana (Pramuka) diperkenalkan kepada masyarakat sebagai gerakan kepanduan satu-satunya di Indonesia. Walaupun secara historis, gerakan kepanduan di Indonesia sudah diperkenalkan sejak zaman penjajahan Belanda.

Mungkin kenangan indah saat mengikuti kegiatan Pramuka dulu saat masih sekolah, tiba-tiba terlintas dari pikiran Anda saat membaca artikel ini.

"Duh, jadi inget sama mantan gebetan gue waktu Pramuka dulu"

"Hmm, Pramuka telah mempertemukan aku dengan jodohku"

Woy, jangan kisah cintanya mulu dong yang Anda ingat. Emang Anda nggak punya kenangan sewaktu ikut kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu (Persami) gitu?

Tak dapat dipungkiri, organisasi berlambang tunas kelapa ini sempat menemani hidup kita, baik saat kita menjadi anggotanya, ataupun saat kita dibantu anggota Pramuka yang turun langsung di masyarakat. Seperti gerakan kepanduan lainnya, Pramuka mendidik para anggotanya agar menjadi pribadi yang disiplin, peduli terhadap alam & sesama, serta bertanggung jawab. Pramuka juga mengajarkan banyak simpul, membangun tenda, baris-berbaris, kode, dan banyak lagi. Intinya, banyak hal positif yang bisa kita dapatkan di Pramuka.

Di usianya yang bisa dikatakan sudah "tidak muda", Pramuka masih berupaya untuk mempertahankan eksistensinya di generasi muda saat ini. Pramuka kini harus bersaing dengan berbagai pilihan kegiatan yang dianggap "lebih kekinian" oleh anak muda sekarang, yang sudah melek teknologi.

Banyak anak muda yang masih menganggap kegiatan Pramuka itu jadul dan kurang berkembang. Meski begitu, nama Pramuka masih dipandang sebagai kegiatan positif oleh sebagian lapisan masyarakat dan kalangan pemerintahan.

Sayang, nama baik organisasi yang identik dengan warna coklat itu kini mulai terkikis secara perlahan. Selain karena anggapan remeh generasi zaman kiwari, berbagai fakta yang membuktikan pendidikan karakter di Pramuka tidak berhasil kini mulai bermunculan. Pada artikel ini, saya hanya akan mengulas 2 fakta saja, yaitu soal partisipasi "semu" dan adanya pelecehan seksual di Pramuka.

Dehumanisasi Murid Sekolah Berujung Partisipasi "Semu" Pramuka

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun