Agung Soni
Agung Soni wiraswasta

Bismillah...Alhamdulillah Wa syukurillah

Selanjutnya

Tutup

Catatan highlight

Uji Nyali di Jalur Tengkorak Gilimanuk-Denpasar

2 Januari 2014   07:06 Diperbarui: 24 Juni 2015   03:15 4133 18 17
Uji Nyali di Jalur Tengkorak Gilimanuk-Denpasar
13886202661347072529

Seharian kemarin penulis menelusuri jalur tengkorak dari Denpasar menuju Gilimanuk. Kalau anda belum paham dimana jalur tengkorak yang berada di selatan Pulau Bali, maka perhatikan saja bila menuju daerah wisata di Jantung Bali (Kuta, Ubud, Denpasar) melalui perjalanan darat. Begitu turun dari kapal ferry di Pelabuhan Gilimanuk maka kita akan melewati 3 kabupaten yang jalannya sering disebut jalur tengkorak. 3 Kabupaten yang akan dilewati adalah Kabupaten Jembrana, Tabanan dan Badung.

[caption id="attachment_313023" align="aligncenter" width="320" caption="Peta Jalur Denpasar - Gilimanuk ( Sumber : google map)"][/caption]

Jalur tengkorak Gilimanuk-Denpasar ini sepanjang 127 Km. Dan bila kita mencintai petualangan dan mencari tantangan maka dipersilahkan untuk menelusuri jalan ini.

Bukan rahasia lagi, jalan berlubang dengan lebar jalan hanya cukup untuk satu mobil berpapasan dengan mobil lain, kira-kira 6 meter lebarnya. Berkelok-kelok dengan balutan kemiringan jalan yang cukup curam. Hiasan kiri kanan jalan ada jurang terjal dan sungai dalam yang membentang. Dan saat musim hujan, jangan heran bila berita kecelakaan menghiasi koran-koran lokal di Bali.

Mengapa warga Bali menyebut Jalur Denpasar-Gilimanuk sebagai jalur tengkorak ?

Mari kita simak data-data yang berhasil kami rangkum dari berbagai sumber :

  1. Tahun 2012 tercatat data di Kepolisian, 88 jiwa meninggal karena kecelakaan di jalur tengkorak dan tahun 2013 tercatat 63 jiwa meninggal. Bisa diasumsikan selama setahun, 5 orang meninggal dunia di jalur ini setiap bulannya.
  2. Lebih dari 30 kilometer jalan berlubang di lintasan Jembrana - Tabanan.
  3. Jalur rawan longsor sepanjang 10 Kilometer di Tabanan-Jembrana mengundang permasalahan kecelakaan lalu lintas dan bencana di saat musim hujan.
  4. Bila ada kecelakaan maka jalan akan lumpuh selama berjam-jam karena proses evakuasi yang lambat juga lebar jalan yang tidak memadai dan akses menuju lokasi kecelakaan yang susah dicapai oleh Petugas bila terjadi kecelakaan.

Berdasarkan data di atas, cukup sudah rasanya bila kita akan terus harus was-was dan berhati-hati bila melintas dari Gilimanuk menuju Denpasar ataupun sebaliknya. Solusi terbaik tentu saja kami menyerahkan kepada Pemerintah dan Dinas Perhubungan.

Ada rasa menyesal menulis artikel ini bila ternyata dalam jangka waktu 1 tahun kedepan, pengguna jalan Denpasar-Gilimanuk tetap harus seperti orang yang siap-siap mengantarkan nyawa. Karena memang ada orang di dinas terkait dan pemerintahan yang memang benar buta hati dan tidak mau melihat lokasi langsung. Dengan melihat lokasi langsung apalagi seperti tadi malam, kami mengalami kemacetan hampir 7 km dan berhenti total (arus kendaraan tidak bisa bergerak) selama 3 jam di jalur tengkorak.

Jangan sampai rakyat kita yang tujuannya ingin berwisata dan menambah pendapatan asli daerah malahan harus menghantarkan nyawa keluarganya karena jalur tengkorak yang sudah puluhan tahun tidak pernah berubah.

Salam Kompasiana