Matikan TV, Waktunya Belajar Lagi!

22 September 2010 02:06:00 Diperbarui: 26 Juni 2015 13:04:26 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :


Di zaman globalisasi, goblogisasi dan gombalisasi ini, manusia modern semakin tidak bisa bebas bergerak. Mereka sudah mulai tergantung, lebih tepatnya kecanduan, dengan produk-produk modern yang sebenarnya buatan mereka sendiri. Sebut saja TV, HP, game, alat-alat kosmetik (khusus para ladies), butik-butik kecantikan, internet, dan sederet produk lainnya. Peran media dalam hal ini sangat penting untuk menciptakan image pasar.




Ditambah lagi dengan masuknya pengaruh (negatif) budaya asing, mengakibatkan terjadinya pergeseran nilai dalam masyarakat kita. Kita justru telah menyerap nilai-nilai destruktif seperti malas, boros, hedonis (memuja kesenangan), tidak disiplin, tidak bertanggung-jawab, rendah-diri di mata bangsa lain, menerabas (mengambil jalan-pintas alias mementingkan hasil daripada proses), percaya takhayul, beringas (bahkan kejam), dan lain sebagainya. Sifat menerabas misalnya tercermin dalam banyaknya pejabat yang korupsi serta banyaknya orang yang membeli gelar akademis palsu. Dalam beberapa tahun terakhir Transparency International bahkanmenyebutkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara paling korup di dunia.

Kita dapat mengambil contoh mengenai budaya pop di lingkungan kita. Salah satunya ialah per-televisi-an. Apa menu yang setiap hari terhidang di TV saat ini? 1. Gosip; 2. Gosip; 3. Gosip;    4. Kekerasan; 5. Sinetron; 6. Iklan; 7. Berita yang isinya gosip (lagi), kekerasan (lagi), korupsi, dan topik-topik lain yang sedang ramai diperbincangkan. Repotnya acara-acara yang sebenarnya tidak boleh ditonton anak-anak, bebas tayang pada jam-jam anak-anak masih melek dan memelototi TV. Maka tidak heran kalau anak-anak sekarang banyak yang bergaya seperti artis, atau jadi korban iklan dan sinetron. Sebetulnya tidak jadi soal kalau figur yang mereka tiru memang pantas dicontoh. Masalahnya, apa yang tersaji di TV sekarang seringkali mengandung muatan negatif dan berlebihan. Lebay, kata anak muda sekarang.




Gosip? Untuk menbahas artis A berpacaran dengan artis B saja bisa ditayangkan berkali-kali. Belum saat A selingkuh dengan C, A putus dari B, A menikah dengan C, hingga akhirnya A harus bercerai dengan C.
Yang lucu, artis yang hamil di luar nikah, yang pada awalnya jadi bahan cemoohan, saking seringnya tayang di TV bisa berubah menjadi tokoh ibu teladan yang mendapat award bahkan akhirnya simpati penonton. Haha!
Sinetron? Kalau suatu sinetron ratingnya sedang bagus, pasti bakal dibuat berseri sampai tak terhingga. Sehingga yang tadinya masuk kategori sinetron ‘agak bermutu’ menjadi ‘gak mutu’. Setting dan adegannya seringkali tak masuk akal. Ada pemeran yang diceritakan sangat-sangat kaya, sangat-sangat kejam, atau sangat-sangat menderita. Atau ada anak kecil ajaib yang bisa mengalahkan apa saja dengan kekuatan supernya. Halah! Kalaupun, mengatasnamakan imajinasi, menurut saya jangan terlalu mengkhayal. Apalagi kalau dikisahkan seolah-olah itu kisah nyata. Anak-anak yang masih polos pasti bingung.
Berita? Sekarang yang sedang naik daun adalah para koruptor dan anggota legislatif yang banyak maunya. Tapi, biasanya, setelah diberitakan panjang lebar, berbelok-belok, hingga berbuih-buih, tak jelas bagaimana akhir ceritanya, diganti dengan topik yang lebih panas. Ah, capek deh…
Dimana keteladanan untuk pemirsa TV yang kebanyakan generasi muda?  Dimana acara-acara yang membangkitkan nasionalisme, solidaritas sosial, kesalehan, kemandirian, dan daya juang? Hhh…

Itulah yang disebut budaya pop. Budaya yang kini telah berubah wujud menjadi berhala yang disembah-sembah. Berhala itu kini bukan ditakuti, tapi justru disenangi dan digandrungi menjadi pujaan hati.


Mari kita batasi pemakaian TV kita. Seperti saya, yang hanya akan menyetel TV jika jamnya Kick Andy, Mario Teguh atau acara-acara layak tonton lainnya sedang tayang. Dengan maksud, agar saya tidak tertular virus ganas 'Sinetronisasi'. Mari kita kampanyekan pada generasi muda kita, dengan slogan "Matikan TV, waktunya belajar lagi!"



Susanna Bahri

/susannabahri

Public Relations - Aktivis - Muda, Berkarya, Berjaya | @susanbahri
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana