Konstalasi Politik Jelang Pilkada Bupati Ciamis 2018

02 Juni 2017 18:38:39 Diperbarui: 02 Juni 2017 19:19:34 Dibaca : 41 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :
Konstalasi Politik Jelang Pilkada Bupati Ciamis 2018
Dokumen Pribadi

Diakui atau tidak, suka atau tidak, secara figur Calon Bupati Ciamis periode 2018-2023 mengerucut pada dua nama; Incumbent diwakili oleh Iing Syam Arifin dan penantang diwakili Asep Herdiat Sunarya. Kondisi ini tidak lepas dari peran keduanya dalam memainkan situasi politik untuk terjadi head to head pertarungan Pilkada.

Kondisi tersebut diyakini akan lebih memudahkan keduanya untuk melakukan pemetaan dan konsolidasi kekuatan politik, karena jika ada poros baru akan menambah energi untuk membuat kekuatan baru tidak menggerogoti basis pemilih masing masing.

Wisata Politik

Kecenderungan politisi dalam satu bendera parpol/Orpol (kader partai dan pegiat organisasi politik) untuk berbeda dalam memberikan dukungan politik tidak lepas dari dua hal, pertama upaya pro aktif yang dilakukan oleh kandidat bakal calon bupati dalam mendekati politisi, dan kedua adanya upaya pro aktif dari politisi untuk mendekati bakal calon bupati. Kedekatan dan upaya dukungan yang nampak secara kasat mata, suka atau tidak, percaya atau tidak ini sebagai bagian dari “Wisata Politik” yang dilakukan oleh politisi.

Kenapa demikian, karena ini ruang yang paling mungkin dilakukan saat partai politik belum menentukan pilihannya berupa rekomendasi partai untuk mengusung salah satu pasangan calon. Karenanya kedekatan dan dukungan politik menjadi sangat cair dan rentan untuk terjadi perubahan.

Bakal calon bupati sangat memahami situasi ini, namun demikian upaya upaya untuk memastikan dukungan politik tidak mungkin tidak dilakukan, karena intensitas komunikasi, keseriusan lobby dan partisipasi kandidat dalam kerja kerja politik partai akan menjadi catatan-catatan yang akan disampaikan kepada pimpinan partai di atasnya sebagai bahan pertimbangan menjatuhkan pilihan usungan/dukungan.

Sebagai incumbent, Iing melakukan lobby politik dengan cara yang lebih soft dan sebaliknya Herdiat lebih sedikit terbuka. Kedua metode ini memiliki keunggulan masing-masing, dengan caranya dapat mengukur sejauhmana konsistensi partai politik dalam memberikan arah dukungan politik.

Politisi Kembali Ke Barak

Setelah berwisata dan berpetualang selama setahun lebih dalam upaya untuk memberikan dukungan politik, politisi pada ahirnya akan melakuan kajian dan melakukan kalkulasi politik untuk menentukan sikap ahir kepada siapa dukungan politik akan diberikan.

Pada saat inilah, dukungan politik akan kembali ke titik nol, politisi akan ditarik paksa untuk memasuki “barak” masing masing untuk mengkaji, membaca berbagai kemungkinkan, hitung untung rugi memberikan dukungan politik.

Sejatinya parpol akan menimbang kepada siapa dukungan politik akan diberikan bersandar pada beberpa hal, terkait konstitusi dan platform partai, kesamaan koalisi politik ditingkat pusat dan propinsi, arah perjuangan politik partai ditingkat lokal dan kalkulasi keuntungan politik dalam menghadapi kontestasi pemilu legislatif dan pemilu presiden yang akan datang.

Dalam Pilkada masih mungkin ada partai politik yang cenderung cari aman dan akan berdiri di pasangan calon yang paling berpeluang untuk memenangkan kontestasi dengan tetap mendesakan berbagai tawaran politik sebagai upaya rasional untuk tetap berada pada posisi saling menguntungkan, bahkan masih mungkin ada partai politik yang dengan caranya memberikan dukungan formal dan informal kepada kedua kandidat sesuai dengan strategi dan taktik partai politik.

Kondisi ini tidak terlepas dari arahan strategi yang dimainkan oleh pengurus partai politik di tingkat wilayah dan ditingkat pusat. Disini, komitmen, konsistensi dan kejujuran politik akan diuji, memilih memperjuangkan platform partai politik sekaligus menegaskan garis perjuangan dan garis koalisi di daerah atau melepaskan semua kepentingan itu untuk lebih rasional mengambil pilihan aman untuk mendukung pasangan yang secara survey diyakini dapat memenangkan pilkada.

Kemungkinan Poros Baru

Lahirnya poros baru dalam pilkada Ciamis bukan sesuatu yang tidak mungkin, tentu banyak syarat yang harus dipenuhi; pasangan calon yang memiliki gabungan elektabilitas tidak kurang dari 25%, ada partai yang siap menjadi perahu politik dan ada potensi biaya politik yang dinilai mengimbangi kedua pasangan calon yang terlebih dahulu diasumsikan memiliki pesyaratan perahu dan biaya politik yang memadai.

Jika syarat minimal tersebut tidak terpenuhi maka, proses membangun opini adanya poros baru harus diyakini sebagai langkah politik yang lahir dari kepentingan politik salah satu kandidat terkuat dengan tujuan untuk memecah peta kekuatan salah satunya.

Yang paling rentan terganggu dengan adanya poros baru adalah pasangan yang secara elektabilitas memiliki pemilih paling rentan. Pada umumnya strong voter yang banyak dimiliki oleh pasangan incumbent. Bukan dari seberapa banyak kekuatan partai politik yang mendukungnya, karena terbukti dari beberapa pilkada, kekuatan partai politik tidak selalu linier dengan megguatnya dukungan pemilih.

***

Sebagai incumbent tentu Iing tidak mau kontestasi pilkada terlalu sulit untuk dimenangkan, pilihan untuk melanjutkan pasangan menjadi lebih rasional untuk diambil, terlepas dari upaya mengkapitalisasi Jakarta Effect (konsekuensi dari parpol pengusung) yang dilakukan oleh kelompok yang berseberangan, Iing- Oih adalah pasangan yang tepat untuk mengaplikasikan strategi menyerang yang hebat adalah dengan pertahanan yang baik.

Di posisi berlawanan, konsolidasi mayoritas partai politik untuk menarik sebanyak-banyaknya dukungan pemilih oleh penantang adalah pilihan yang paling rasional untuk membuat peluang kemenangan menjadi berimbang, kompetitif dan tidak berat sebelah.

Bagaimana agar kekuatan penantang menjadi sangat besar, kuncinya adalah dalam proses menetapkan siapa kandidat cawabup yang akan menjadi pasangannya, jika kekuatan parpol dan personal kandidat penantang diasumsikan akan mampu mengimbangi kekuatan pasangan incumbent, maka cara yang tepat dan paling masuk akal untuk memenangkan kontestasi adalah menghadirkan calon wakil bupati yang memiliki kekuatan personal, jaringan politik yang tidak memiliki irisan langsung dengan modal politik yang sudah ada.

Siapa kandidat tersebut, tentu salah satu ukurannya adalah kandidat yang bukan datang dari partai politik, ia memiliki keunggulan kompetitif secara jaringan dan personality yang dibuktikan dari hasil survey yang secara trend dikategorikan positif, sehingga dengan dukungan parpol yang banyak dan kuat, ditambah kekuatan bakal calon bupati dengan segala potensinya, ditambah dengan kekuatan bakal calon wakil bupati dengan segala potensinya akan mendekatkan pada peluang kemenangan yang sama besar dengan peluang pasangan incumbent.

(Beranda Demokrasi, Bandung 3 Juni 2017)

Sopwan Ismail

/sopwanismail

● Muslim ○ Urang Sunda ● Nasionalis - Religius
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana