Pilih Mana, Yatim atau Berayah Tapi Ga Pernah Pulang ?

10 Agustus 2012 20:07:21 Dibaca :

Akhir pekan ini OSIS di sekolah tempat saya mengajar akan mengadakan buka puasa bersama anak yatim. Kegiatan ini memang sudah menjadi tradisi filantropis yang ditunggu-tunggu. Dalam acara ini, selaian memberikan bingkisan lebaran kepada 150 orang anak yatim, juga akan diserahkan uang beasiswa kepada sepuluh orang diantaranya.


Uang beasiswa ini akan diberikan untuk satu tahun dengan rincian : siswa yang bersekolah di SD akan mendapat bantuan Rp. 50.000,00 per bulan, siswa SMP akan mendapat Rp. 75.000,00 perbulan dan siswa SMA akan mendapat Rp. 100.000,00 per bulan. Jadi untuk satu tahun, siswa asuh SD akan mendapat Rp. 600.000,00, siswa asuh SMP mendapat Rp. 900.000,00 dan untuk yang SMA mendapat Rp. 1.200.000,00.


Yang luar biasa, uang yang terkumpul ini adalah hasil infaq anak-anak peserta didik saya selama satu tahun selepas sholat dhuha, dzhuhur, dan ashar mereka di sekolah. Sebuah kebanggaan tersendiri tentu saja buat saya sebagai salah seorang guru mereka. Mudah-mudahan kedermawanan dan kepedulian pada anak-anak yatim tetap menyala hingga mereka dewasa nanti.


Beberapa hari sebelum acara dimulai, siswa dan guru sibuk mencari anak-anak yatim yang akan diundang. Kriterianya tentu saja : yatim yang miskin. Kenapa harus yatim dan miskin? Ada satu cerita dari Mama Ariel yang turut mendata anak-anak ini, ternyata ada anak yatim kaya yang kekeuh harus mendapatkan bingkisan lebaran dan beasiswa ini. Anak seorang juragan kontrakan ini memang yatim walau dengan penghasilan orang tuanya yang tetap mengalir dari puluhan rumah kontrakan yang berjejer. Mama Ariel terpaksa harus berdebat dengan orang tua si yatim yang merasa anaknya punya hak mendapatkan bingkisan lebaran tersebut. Akhirnya, sesuai kesepakatan panitia dan demi kedamaian warga kampung, si yatim tetap mendapatkan bingkisan tanpa harus melihat siapa orang tuanya.


Fenomena biasa pada saat pembagian sembako dan bingkisan lebaran. Semua orang jadi mendadak merasa miskin.


Terlepas dari fenomena yatim tapi kaya ini, beberapa anak yatim dan miskin lain terlihat sumringah. Di ramadhan ini, kecintaan orang lain terhadap mereka menjadi bertambah. Kiriman uang dan bingkisan lebaran mengalir deras. Beberapa keluarga mampu tentu saja sudah mendaftarkan nama-nama mereka ke dalam deretan calon penerima infaq dan sodaqoh. Sebuah imbalan dari sebuah kehilangan.


Tapi ada cerita lain. Cerita ini agak memilukan. Tentang seorang anak yang ayahnya tak pernah pulang. Dia hidup bersama nenek dan ibunya dalam keadaan miskin. Berdasarkan cerita si nenek, ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga serabutan. Dari rumah ke rumah menjajakan jasa mencuci dan menyetrika baju. Kehidupan keluarganya hanya tergantung pada penghasilan si ibu. Saking miskinnya, kadang sehari hanya makan dua kali saja.


Karena bukan yatim, anak ini jarang mendapat sumbangan dari orang lain. Namun melihat keadaan keluarga ini, panitia jadi bingung. Bantu atau tidak ya? Kategorinya bukan yatim namun sangat miskin. Si nenekpun lalu mengeluh,” mendingan jadi yatim aja deh neng banyak yang ngasih”.


Panitia tambah bingung sambil bertatap-tatapan. Status seperti ini memang membingungkan. Membuat nasib anak semakin tidak jelas. Akhirnya, berdasarkan kesepakatan panitia anak inipun dibantu karena statusnya yang dhuafa.


Tentu saja, menjadi yatim adalah sesuatu hal yang menyesakkan dada di mana sosok ayah sebagai tempat kekuatan materi berlabuh tak lagi ada. Namun, jika memang tak pernah pulang seperti itu pastilah jadi status yang mengecewakan. Tanpa jelas di mana rimbanya, sang ayah membiarkan keluarga terlantar namun bantuan jadi terhambat karena bukan yatim.


Akhir cerita, panitia lalu menghangatkan kisah ini dalam percakapan. Semoga saja menjadi pembelajaran untuk menjadi ayah yang bertanggungjawab.

Siti Mugi Rahayu

/sitimugirahayu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Saya seorang guru yang tertarik pada pendidikan yang humanis.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?