PILIHAN HEADLINE

Tahukah Anda Santri pun Bisa Jatuh Cinta?

17 Maret 2017 19:09:21 Diperbarui: 18 Maret 2017 13:39:23 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Tahukah Anda Santri pun Bisa Jatuh Cinta?
Sumber: Dokumentasi foto pribadi sahabat santri, abdul hakim siregar

Ada pandangan yang agak bertolak belakang dan berlebihan dalam memandang atau menilai santri pondok pesantrenan. Terutama, tamatan pondok pesantren yang masih mengaji kitab kuning sebagai kitab daras (buku teks) dalam belajar-mengajar. Yang utamanya, dibimbing kiai atau tuan guru pesantren. 

Pandangan pertama beranggapan seluruh santri adalah manusia shaleh, alim, wara, dan baik. Tanpa salah sedikit pun. Sehingga, kalau ada kesalahan di pesantren, sedikit pun itu dianggap tidak manusiawi.

Sebaliknya, pandangan kedua yang menatap santri pesantren seluruhnya buruk. Secara nasional dianggap sumber kemeresotan. Dalam lingkup internasional, pesantren dicurigai kamp "teroris(?)" Pandangan yang memburuk-burukkan pesantren berlebihan tidak hanya orang luar pesantren. Bahkan, sebagian oknum yang pernah menyantri, tapi berhenti di tengah jalan. Atau sama sekali tak dapat mengambil sisi positif pesantren.

Malahan seorang santriwati pesantren pernah menunjukkan kepada saya tentang novelnya, kisah cinta di pesantren. Dia mengira, aku akan kaget membacanya. Padahal, bagiku apa yang diceritakan bisa saja terjadi. Apalagi itu di masa remaja. Meski tentunya, saya tak setuju dengan kelakuannya.

Dua pandangan di atas agak berlebihan dalam memandang santri pesantren. Kurang proporsional. Jadi, agak kita lebih adil dalam memandang santri pondok pesantren yang lebih manusiawi. Bukan malaikat, bukan pula iblis. Tapi, manusia biasa yang berpotensi baik-buruk, sekaligus. Ada ruang, waktu, kedaan, lingkungan, dan pilihan hidup yang tersedia. Apalagi, santri sebagai makhluk yang ber-Tuhan.

Jadi, agar bahasan sedikit agak mudah dirasakan, marilah kita ambil contoh tentang cinta atau jatuh cinta di pesantren. Umumnya, para santri remaja yang sedang bertumbuh dan berkembang secara psikologis. Satu di antara ciri remaja dalam buku psikologi perkembangan ialah mulai menyukai lawan jenis.

Saya kira, setiap orang remaja-dewasa, minimal sekali dalam seumur hidupnya pernah mengharapkan lawan jenisnya. Tak terkecuali orang pesantren. Tentu saja, dalam batas-batas yang tidak menjurus pelanggaran moralitas agama, norma, dan hukum. Hal itu perlu diberi pemahaman kepada remaja bahwa masalah remaja, bukanlah khas kini. Melainkan, dari dulu maupun kini, bisa mendatangkan efek positif maupun negatif.

Kadang, beberapa orang yang sudah dewasa, baik orang tua, guru, maupun agamawan memahami persoalan pergaulan remaja sekadar berdasar pengalamannya di masa lalu. Maksud saya begini: seorang agamawan dapat berapi-api menyatakan pergaulan remaja kini kelewat batas dan pergaulan bebas, tetapi sambil mengutip berita gosip. Aku kadang berpikir, bagaimanakah ia dulu semasa remajanya? Kalau ia berbicara dengan rendah hati kepada para remaja dan berupaya memberikan pemahaman yang lebih menyentuh hati, tentu itu adalah hal yang sangat dianjurkan, karena banyak remaja pun butuh bimbingan.

Tapi kadang juga tidak. Kita yang sudah dewasa seakan lupa masa lalu ketika menegur dan memperlakukan remaja. Atau sebaliknya, orang tua kadang berlebihan memberi kebebasan tanpa mengendalikan remaja melalui dialog yang membawa kebaikan. Remaja dibiarkan begitu saja atau dibebaskan seperti umumnya di Eropa Barat yang maju.

Aku rasa, kita perlu mengambil jalan tengahnya. Dengan rendah hati. Serta pasrah kepada Tuhan. Berdoa. Agar kita dapat memperlakukan remaja atau melewati masa remaja secara positif. Terutama perihal ketertarikan mereka terhadap lawan jenis.

Suatu kali seorang ibu pernah agak menyombongkan kealiman putrinya kepada saya. Putrinya itu tamatan pesantren. Alim, katanya. Tak seperti kebanyakan gadis. Putrinya, tidak berpacaran. Ya lalu, aku tanya, apakah Ibu tahu, ia pernah menaksir pria, sejak dari SLTP-SLTA? Jawabnyam "Setahuku, tidak sama sekali." Kalau benar itu yang terjadi, jelasku, mungkin, putri Ibu belum dewasa atau mungkin ia sedikit agak kurang normal. Si Ibu spontan menimpali, "Bukan begitu maksudku. Memang, semasa SLTA ada pria sebaya yang berupaya mendekatinya. Namun, ia menolak." Nah, itu baru agak umum.

Pasalnya, aku menyantri 6 tahun. Aku ketahui, umumnya kami yang santri pria ini minimal sekali seumur hidup menyantri, pernah jatuh cinta pada lawan jenis. Persoalannya, apakah diterima atau ditolak, itu persoalan lain.

Dari situlah, aku berupaya memahami gejolak "cinta" remaja. Tak terkecuali santri. Tentu saja, dalam ketertarikan lawan jenis itu, kita berupaya, berharap, dan berdoa masih terpelihara kehormatan mereka. Tanpa menodai atau dinodai harga diri mereka. Apalagi sebagai umat beragama.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article