Ronny Noor
Ronny Noor Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Komodo Berpotensi sebagai Wisata "Eco-medical" Terunik di Dunia

9 Agustus 2017   15:21 Diperbarui: 9 Agustus 2017   15:29 126 5 1
Komodo Berpotensi sebagai Wisata "Eco-medical" Terunik di Dunia
Associate Professor Bryan Fry salah satu peneliti bersama komodo. Photo: Bryan Fry, ABC

Komodo memang merupakan salah satu satwa liar  unik yang diduga sudah hidup di era dinosaurus.  Bahkan di beberapa film dokumenter komodo disebutkan sebagai "living fossil" yang banyak menarik perhatian ilmuwan dunia.

Disamping ukurannya yang digolongkan sebagai kadal raksasa, sudah banyak film dokumenter yang berhasil mendokumentasikan  kehidupan komodo yang unik sehingga  satwa liar ini dapat bertahan hidup  sampai sekarang.

Dengan ukuran tubuhnya yang besar dan gerakannya yang lambat, para ilmuwan berhasil mengungkapkan bahwa air liur mengandung bakteri berbahaya sehingga mangsa yang digigitnya dalam beberapa hari akan mati.

Namun justru ada hal yang menarik dari proses kematian mangsa komodo setelah digit, yaitu luka gigitan tidak akan pulih, sehingga disamping mangsa  komodo ini akan kehabisan darah, juga terjadi infeksi akibat lukanya yang akan berujung pada kematian.

Pengetahuan akan adanya  spesies kadal yang mengandung bisa  baru dapat diungkap oleh para ilmuwan sekitar 11 tahun yang lalu.  Sebelumnya tidak banyak pengetahuan terkait dengan bisa ini kecuali kenyataan bahwa gigitan kadal akan menyebabkan sakit dan pembengkakan.

Berdasarkan hasil analisa dari bisa berbagai spesies kadal termasuk di dalamnya komodo, para ilmuwan gabungan dari Australia, Hong Kong, Macau, UK dan  USA yang dikoordinir oleh para peneliti dari  University Queensland berhasil mengungkap bahwa bisa komodo berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai obat anti pembekuan darah atau yang dikenal dalam bidang kedokteran sebagai antiblood clots.  Penemuan ini baru saja dipublikasikan di the Journal Toxins.

Pembekuan darah merupakan masalah tersendiri dalam bidang kesehatan karena mengakibatkan  stroke, heart attack, dan  deep-vein thrombosis yang berujung pada  kematian jutaan orang setiap tahunnya di seluruh dunia.  Bisa komodo ternyata  mekasisme kerjanya   serupa dengan kerja obat pengencer darah yang selama ini ada.

Para peneliti ini  selama tiga tahun terakhir berhasil mengembangkan teknik bagaimana memanen bisa komodo.  Dapat dibayangkan betapa berbahaya nya jika teknik pengambilan bisa dilakukan dengan cara yang sama dengan pengambilan bisa ular.

Ternyata teknik yang dikembangkan cukup sederhana namun berfungsi dengan baik, yaitu dengan menggunakan  ayam yang terbuat dari karet dan juga hewan lain yang biasa dimangsa oleh komodo yang  juga terbuat dari karet.

Dengan mengkondisikan ayam atau hewan kecil lain yang terbuat dari karet dengan aroma alamiah hewan yang biasa dimangsa, komodo akan tertarik untuk menggigitnya.  Pada saat menggigit komodo akan melepaskan bisa nya dan masuk ke dalam mangsa yang terbuat dari karet tersebut.

Bisa inilah yang selanjutnya diteliti dan dikembangkan sebagai salah satu materi pembuatan zat anti pembekuan darah.  Walaupun masih memerlukan waktu sampai obat anti pembekuan darah ini tersedia di pasaran, namun tampaknya potensi bisa komodo sebagai obat anti pembekuan darah sangatlah besar.

Jika hal ini terjadi maka Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan legal standingdari penemuan ini karena Indonesia adalah negara yang memiliki  populasi terbesar di dunia dan komodo ini termasuk sebagai hewan yang dilindungi. Tentunya para peneliti Indonesia sudah saatnya aktif ikut serta dalam pengembangan obat anti pembekuan darah ini.

Pola pemikiran ke depan dengan menggabungkan manfaat medis, manfaat wisata alam  dan pelestarian satwa langka akan sangat relevan dalam membangun ekowisata yang paling unik di dunia dengan tetap menjaga kelestarian komodo.