Ris Sukarma
Ris Sukarma

Pensiunan pegawai negeri, sekarang aktif dalam pengembangan teknologi tepat guna pengolahan air minum skala rumah tangga. Ingin berbagi dengan siapa saja dari berbagai profesi dan lintas generasi.

Selanjutnya

Tutup

Longsor, Bisakah Dicegah?

24 Februari 2010   12:19 Diperbarui: 26 Juni 2015   17:45 1083 0 0

[caption id="attachment_80855" align="alignleft" width="285" caption="Longsor di Desa Tenjolaya, Bandung Selatan (Foto detikcom)"][/caption]

Harian Kompas hari ini memuat berita tentang longsor di selatan Bandung yang menelan korban 70 orang tertimbun. Jumlah korban tewas yang ditemukan sudah empat orang pada waktu berita itu dimuat. Hingga pukul 14 siang ini, menurut detikcom, tercatat sudah 17 orang tewas. Tidak tertutup kemungkinan jumlah yang tewas akan lebih banyak lagi. Berita yang menjadi headlines tersebut mengenaskan sekaligus menyisakan pertanyaan, kenapa terjadi longsor dan apakah longsor bisa dicegah?

Longsor atau landslide adalah fenomena geologis dimana termasuk di dalamnya adalah pergerakan tanah atau longsornya tebing. Gaya tarik bumi adalah penggerak utama terjadinya longsor, meskipun ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi stabilitas kemiringan. Longsor terjadi apabila stabilitas kemiringan berubah dari kondisi stabil menjadi tidak stabil (Wikipedia). Kemiringan diatas 20 persen biasanya menyebabkan tanah menjadi tidak stabil.

Perubahan ini disebabkan oleh banyak faktor yang bisa atau tidak saling berhubungan. Penyebab alamiah dari longsor termasuk diantaranya adalah tekanan air tanah yang membuat tebing tidak stabil; hilangnya struktur akar tanaman, zat hara tanah dan struktur tanah itu sendiri; dan erosi akibat arus yang menggerus sungai atau gelombang laut.

Longsor yang diakibatkan oleh aktivitas manusia antara lain penggundulan dan perambahan hutan serta pembukaan lahan pada suatu kawasan. Gempa bumi dan hujan yang terus menerus juga merupakan pemicu longsor pada tanah yang tidak stabil.

Kompas memberitakan bahwa longsor tersebut terjadi pada pagi hari setelah malamnya hujan deras mengguyur, dan kawasan tersebut memang dikenal rawan longsor. Kenyataan ini membuka kemungkinan bahwa longsor di daerah Bandung Selatan itu disebabkan oleh berubahnya kestabilan tanah akibat hujan deras. Tanah yang longsor itu kebetulan berupa perkebunan teh seluas lima hektar.

Sebagaimana diketahui teh adalah pohonan perdu yang berakar tunggang tapi tidak banyak cabang, sehingga tidak cukup kuat untuk mengikat tanah. Diperlukan tanaman sela yang memiliki akar tunggang bercabang banyak, seperti pohon mangga atau kemiri, yang bisa mengikat tanah sehingga tidak mudah labil.

Faktor mana yang paling dominan menyebabkan longsor, apakah faktor alamiah atau akibat dari aktivitas manusia, masih harus diteliti. Akan tetapi bencana longsor - lain dengan bencana gempa bumi, mestinya bisa diprediksi sebelumnya.

Dengan bertambahnya kebutuhan akan lahan untuk perumahan, pembukaan lahan mestinya disertai dengan penanaman kembali pohon-pohon yang bisa mengikat tanah sehingga longsor bisa dicegah.

Menurut Hatma Suryatmojo,S.Hut. dari Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan, Fakultas Kehutanan UGM (http://mayong.staff.ugm.ac.id), lahan-lahan rawan longsor dapat dicegah dari bencana kelongsoran dengan berbagai upaya, antara lain menghindari atau mengurangi penebangan pohon yang tidak terkendali dan tidak terencana serta penanaman vegetasi tanaman keras yang ringan.

Bencana alam seperti tanah longsor adalah fenomena alam yang tidak perlu kita takuti, tapi bisa kita cegah dengan cara mengakrabi alam dan bukan memusuhinya. Setiap perubahan lahan untuk menunjang kegiatan dan kehidupan manusia perlu diimbangi dengan upaya untuk sedapat mungkin mengembalikan fungsi-fungsi penunjangnya kepada keadaan seperti asalnya. Penggundulan dan pembukaan hutan yang tak terkendali adalah perbuatan memusuhi alam, dan alam akan membalasnya dengan caranya sendiri.

Bencana tanah longsor bisa dicegah apabila kita mengerti bagaimana alam bekerja dan belajar untuk memahaminya, sehingga bencana longsor seperti yang terjadi di Bandung Selatan tidak terjadi di tempat lain.