Ris Sukarma
Ris Sukarma

Pensiunan pegawai negeri, sekarang aktif dalam pengembangan teknologi tepat guna pengolahan air minum skala rumah tangga. Ingin berbagi dengan siapa saja dari berbagai profesi dan lintas generasi.

Selanjutnya

Tutup

Dongeng Sebelum Tidur (1)

24 November 2009   23:34 Diperbarui: 26 Juni 2015   19:12 2188 0 0

Taurus menurut legenda Yunani kuno (Wikipedia) Pleiades adalah tujuh wanita bersaudara yang cantik, mereka adalah Maia, Electra, Alcyone, Taygete, Asterope, Celaeno dan Merope. Ayah mereka adalah Atlas, si pemanggul bumi, sedangkan ibu mereka adalah peri laut Pleione, pelindung para pelaut. Apabila kita tengok langit malam bulan Januari, Pleiades yang terletak di rasi Taurus, merupakan obyek langit yang menarik dan menakjubkan. Gugusan bintang ini merupakan subyek mitos dan legenda yang dapat ditemui pada hampir semua budaya yang ada di muka planet ini. Karena gugusan Pleiades dekat garis edar matahari (dalam jangkauan 4°) di rasi Taurus, ia merupakan obyek ‘musiman' pada musim semi dan gugur bagi pengamat di bagian utara maupun di selatan khatulistiwa. Karena letaknya di ekliptik, gugusan bintang ini sering berokultasi dengan bulan dan planet-planet. Dan kejadian ini tidak diragukan lagi memesona nenek moyang dahulu. Setelah pertemuan dengan Orion si pemburu, tujuh bersaudara Pleiades dan ibu mereka menjadi sasaran Orion yang mabuk kepayang oleh kecantikan mereka. Jatuh cinta pada wanita-wanita muda itu, dia mengejar mereka ke seluruh muka bumi. Karena kasihan melihat mereka dikejar-kejar, Zeus mengubah mereka menjadi sekawanan angsa, yang ia letakkan di surga. Hanya enam dari tujuh bintang yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Mitos Yunani kuno menjelaskan menghilangnya bintang ke tujuh dalam berbagai versi. Menurut salah satu versi, semua Pleiades adalah abdi setia dewa, kecuali Merope. Dia mempermalukan saudara-saudaranya dengan perkawinan abadinya dengan Sysyphus, Raja dari Corinth. Versi lain mengenai 'hilang'-nya bintang adalah mitos Electra, nenek moyang bangsawan Troya. Setelah Troya hancur, Electra yang bersedih meninggalkan saudara-saudara perempuannya dan berubah menjadi komet - yang untuk seterusnya dipercaya sebagai pemberi tanda akan adanya bencana. Dalam versi lain, Pleiades adalah perawan-perawan yang mendampingi Artemis, dewi pemburu dan bulan dalam kepercayaan Yunani kuno. Diam-diam Orion si pemburu mengendap-endap dan memergoki tujuh bersaudara yang sedang bersenang-senang. Kaget oleh pemunculan Orion yang tiba-tiba, mereka lari berterbangan. Terpesona dengan kecantikan para gadis, Orion memburunya dengan semangat berapi-api pemburu sejati. Artemis sangat terganggu dan meminta bantuan Zeus, yang lalu menyelamatkan mereka menjadi sekawanan angsa yang terbang ke surga untuk menghidari sang pemburu, tapi yang juga memisahkan mereka dari dewi yang selama ini mereka temani. Artemis yang masih merasa terganggu meminta bantuan saudaranya Apollo, yang menciptakan kalajengking raksasa untuk menyerang Orion. Legenda yang sama juga terdapat pada suku Indian Kiowa di Amerika Utara. Ke tujuh gadis tersebut dibawa ke langit oleh Roh Agung untuk menyelamatkan mereka dari kejaran beruang besar. Indian Mono Barat menganggap Pleiades sebagai kelompok para isteri yang sangat suka dengan bawang dan kemudian diusir oleh suami mereka yang marah. Menyesali perbuatannya, ia kemudian berusaha mencari isteri-isterinya, tapi tidak berhasil karena para isteri sudah berada di langit dan berubah menjadi Pleiades. Pleiades juga memiliki berbagai nama dan pengertian yang berbeda di berbagai peradaban, seperti Kartikeya, dewa agama Hindu untuk kejantanan dan kegagahan; Mao, bintang-bintang yang berkembang dan berbunga (Cina); Kimah (Yahudi); Al-Thurayya (Arab); Subaru, yang artinya ‘berkumpul bersama', digunakan sebagai merk mobil; atau Hoki Boshi, cat di langit atau bintang sikat (Jepang); Kungkarungkara, nenek moyang (Aborigin suku Pitjantjatjara); Makara, isteri-isteri dari bintang di rasi Orion (Aborigin suku Adnyamathanha); Khuseti. Bintang-bintang Pembawa Hujan (suku Khoikhoi di Afrika Selatan); Tianquiztli, Pasar atau Tempat Berkumpul (Aztec); Penabur Benih (Inca); Dewi Net atau Neith (Mesir kuno); Kumpulan Anggur dan Perawan Musim Panas (Romawi); Induk Ayam dan Anak-anaknya ( Inggeris kuno, Jerman kuno, Rusia, Czech dan Hungaria); Ayam Freva (Viking). Suku kuno di Paraguay, Abipones, bahkan menyembah mereka sebagai asal tempat nenek moyang, pilihan yang kurang tepat karena bintang-bintang ini bukan tempat yang sama sekali nyaman untuk ditinggali.

Penemuan arkeologi otentik di utara Jerman menunjukkan bahwa Pleiades telah dikenal oleh nenek moyang kita. Ditemukannya cakram bintang Nebra atau Sangerhausen (Die Himmelsscheibe von Nebra) yang dipercaya berasal dari suatu masa 3.600 tahun yang lalu telah mengubah pengertian kita atas pengetahuan astronomi di utara Eropa pada awal Abad Perunggu. Sebagai persembahan yang unik kepada dunia kemanusiaan, cakram ini sekarang dipamerkan di Landesmuseum für Vorgeschichte di Halle, Jerman.

Pleiades (M45) merupakan bintang-bintang yang pertama kali disebut dalam literatur, muncul dalam dokumentasi Cina kira kira 2350 SM. Belakangan, bangsa Eropa mencatat keberadaan kumpulan bintang ini dalam puisi Hesiod pada 1000 SM dan dalam Odyssey dari Homer.

Credit: NASA/ESA/AURA/Caltech.

Ketujuh bersaudara itu kini dapat dilihat di langit malam dalam kumpulan bintang yang terlihat sayup-sayup. Tanpa bantuan teleskop-pun, meskipun jaraknya 440 tahun cahaya dari bumi, Pleiades bisa terlihat samar-samar pada langit cerah dan gelap. Dengan bantuan binokular, bintang-bintangnya terlihat lebih jelas. Untuk bisa mengabadikan Pleiades dengan nebula yang mengitarinya diperlukan peralatan astrofotografi yang lebih cangggih.

Dikumpulkan dari berbagai sumber.