Mohon tunggu...
Ria Mi
Ria Mi Mohon Tunggu... Guru - Menulis memotivasi diri

Guru

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Perjalanan Malang-Blitar-Ponorogo, Apa yang Kucari

17 Februari 2020   00:55 Diperbarui: 17 Februari 2020   01:08 365
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Perjananan kami menuju ponorogo dipenuhi semangat "Saya Supriadi!" Seperti yang dipekikkan di monumen PETA Blitar. Kemana tujuan kami selanjutnya? Tentu saja menuju Komunitas Sutejo Spectrum Center. Rasanya tak sabar menunggu pagi untuk berjumpa dengan orang-orang hebat.

Pukul 01.00 pagi kami tiba di Masjid R.M.A.A Tjokronegoro, kabupaten Ponorogo. Ternyata salah satu pengurus masjid masih ada yang terjaga. Kami langsung dibukakan pintu, dipersilakan masuk masjid dengan ramah. 

Saya kira sudah dilobi pengurus masjidnya ternyata jawaban pak Aguswin ketua rombongan begitullah Tuhan menyayangi kita. Subhanallah. Kami sempat juga solat malam, lalu istirahat dan terbangun saat adzan subuh berkomandang.

Jam enam pagi sampailah kami di tempat Komunitas Sutejo Spectrum Center. Sambutan hangat penuh senyum keramahan dari Bapak DR. Sutejo, istri beliau, luar biasa. Setelah dipersilakan masuk, minum teh hangat dan pisang goreng hangat, dan aneka camilan aku ke belakang, dilanjut sarapan pagi.  Saya sangat menikmati tempat komunitas ini. 

Benar-benar rumah buku. Rumah luas yang dipenuhi buku. Wow, ada dapur, kamar mandi, wifi yang well come pasword. Aku pribadi merasa tamu yang sangat dimanjakan. 

Ngobrol-ngobrol dan saling berkenalan dengan tiga mbak-mbak cantik, yaitu mbak Sri Wahyuni, Mbak Suci Ayu Latifah, Mbak Iin Rismawati. Lebih lega lagi ternyata mereka bertiga adalah Kompasianer. Aku foto aku kirim ke bu Anis di Malang, terasa mendapat angin segar karena guru kompasianerku memberiku semangat juga.

Berikut ini kajian penuh ramah ini saya share fotonya di group WA Kompasianer. Kata Bu Anis " idolaku" dan Mas Ahmad Fathur menyaut  " Itu ayahku." Wah senang sekali rasanya hatiku. 

Kami semua serius mendengar apa yang disampaikan orang-rang hebat di sini. Antara lain hadir di sini selain Bapak DR. Sutejo, hadir pula ibu Peni NH, guru berprestasi, pengalaman mengajar di pedalaman Irian Jaya, Penulis Novel "Tempat Paling sunyi" Mas Arafat, juga Wartawan Jawa Pos Mas Saiful.

Dari keempat orang hebat ini saya mendapatkan ilmu yang saya ringkas seperti ini. Menulis itu yang penting semangat ada dan lakukan. Jika ingin menulis berkumpulah dengan orang-orang yang sudah sukses menulis. Segala sesuatu yang memberi sugesti itu suara alam. Jadilah yang berbeda. 

Rumusnya 3N, Niteni, nirokne, nambahi ( bahasa Jawa ini artinya, amati, tirukan, modifikasi). Rumus KM= N X L, yaitu kemahiran menulis adalah jumlah tak terhitung kali latihan. 

Begitu disampaikan oleh Bapak DR. Sutejo. Hal senada disampaikan oleh mas Arafat penulis novel, bahwa sembilan kali membaca satu kali menulis harus dilakukan sesering mungkin.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun