Reza Nurrohman
Reza Nurrohman

manusia yang terus bertumbuh. tidur dan makan adalah hal yang lebih menyenangkan sebenarnya namun berkerja merupakan kewajiban saya

Selanjutnya

Tutup

Awal Mula Aku dan Adinda

18 Juni 2017   23:20 Diperbarui: 18 Juni 2017   23:55 2 1 0

Iseng-iseng buka catatan buku harian ketika mahasiswa tak sengaja kubuka halamanya dengan acak, 30 Juli 2013

Rencana ini begitu lama terbincangkan dalam pikiranku, Memang, perlu semacam kerja keras yang sangat keras hingga mungkin mampu merontokkan semangat mempersiapkan UTS/UAS untuk menkonkritkan rencana ini. Tak lain hal ini disebabkan banyaknya aktivitas mahasiswa-mahasiswi di dalam kerumunan uas/uts ini. Maklum semuanya adalah mahasiswa super-sibuk, walaupun ada juga yang hanya berpura-pura sibuk agar conform dengan yang lain. Begitulah susana Fakultas Manusia Universitas Pahlawan Jawa Tengah.


Berlanjut dengan rencana tadi. Awalnya saya sebenarnya ingin melakukan perjalanan seperti yang dilakukan Pocahontas di Amerika dengan settingnya  pulau Jawa dan rute berakhir di Jogjakarta. Hanya saja seiring dengan berjalannya waktu, tampaknya terjadi revolusi besar-besaran terhadap rencana itu. Perjalanan ini akhirnya berubah menjadi perjalanan menuju Jogjakarta dengan menggunakan modal sekecil-kecilnya. Lalu di akhir cerita menyatakan cinta pada salah satu wanita dalam organisasi mahasiswa yang saya ikuti.


Setelah semua terlihat beres maka disusunlah sasaran siapa saja kandidat wanita yang bakal menjadi duta pedamping menuju Jogjakarta. Maka lepas dari silang pendapat di antara otak saya, sedikit seleksi alam, terpilihlah  kandidat 3 wanita yang akan menuju Yogyakarta. Siapa saja orang-orang itu? 


Dik Ade

Begitu aku memanggilnya. Memiliki postur ideal membuatnya banyak dilirik pria di kampus. Tenang saja dia bukan tipe wanita yang suka di lirak-lirik, cukup suat-suit saja. He he… kalau yang ini becanda. Di perjalanan kali ini tampaknya secara tidak langsung ialah primadonanya. Ini juga, mungkin, salah satu dari curhatanya tempo hari: “Mas aku kangen adiku yang kuliah di Jogjakarta, Masnya kan orang magelang, klo pulang sekali-kali aku ikutan dong”. 

Di perjalanan kali ini pun tampaknya dia yang memberi stimulus tentang apa yang akan dilakukan, ke mana arah perjalanan, bahkan hingga di mana tempat makan. Selain itu, dengan bantuan dan koneksi yang ia miliki, kita semua dapat menghemat pengeluaran selama 3 hari di Jogjakarta. Maklum saja. Dik Ade merupakan bendahara organisasi tempatku menjadi wakil ketuanya. 


DIk Dinda

“Seterong Mas Setrong!!” adalah quote terpenting orang ini dalam perjalanan. Di antara yang lain ia adalah orang yang paling Indonesia. Ia sudah kemana-mana maklum ia orang Mapala (mahasiswa pecinta alam). Walau masih memiliki trah raja mataram dengan gelar raden roro, tak tampak rasa tinggi hatinya. Dengan tampang yang khas Mongoloid, yang ketika tertawa hanya menyisakan gingsul manisnya membuat dia banyak diduga saudari kembar salah satu artis ibukota. 

Malangnya ia adalah wanita pertama dan satu-satunya yang mungkin paling cepat bosan dalam perjalanan ini. Maklum saja rumahnya sama di Magelang seperti saya. Jogja ibarat halaman rumah kami. Sudah jadi makanan sehari-hari. 

Hati kecil saya berkata akan lebih mudah mengajak sekaligus menembaknya nanti di Jogjakarta sebab kita sudah sering pulang kampung bersama.


Dik Cintya

Ingin melihat prototype kalimat “cewek kekinian” lihatlah orang ini. Dengan tampilan senantiasa mengesankan, khas anak-anak Jakarta, aku bisa menyatakan ia yang paling modis diantara 3 wanita ini. Namun, entahkan ada hubungannya dengan daarah ibukota yang kental mengalir di badannya, dalam perjalanan ini ia adalah satu-satunya orang yang memiliki penanganan tersulit. 

Maklum ia dikenal sebagai wanita satu-satunya dalam keluarganya yang kaya raya yang terakhir dalam melakukan apapun. 

Saat melakukan perjalanan, Mungkin saja dia akan lebih memilih pusat-pusat perbelanjaan daripada wisata alam yang menjadi target liburan sekaligus penembakan yang bernuansa romantis itu.


Aku

Aku hanyalah mahasiswa semester tua yang kebetulan menjadi atasan mereka dalam suatu organisasi mahasiswa. Statusku yang sudah jomblo setahun membuat pimpinan organisasi ini meradang dan menyuruhku mendekati ketiganya. Tentu saja dengan catatan salah satu saja yang menjadi pendamping hidup selama mahasiswa 


H-3

Seperti yang sudah disepakati di awal (aku tidak tahu kapan juga di sepakatinya tanggal berikut tempat dan jam berkumpul awal, jadi untuk amannya aku kambing hitamkan saja si ‘di awal’ sebagai penentu otoriter di perjalanan ini). Seperti banyak-banyak tertulis di media Facebook dengan menggunakan fitur yang bernama “pesan terusan”. Lalu dengan semangat membara-bara pagi itu aku langsung menginbox mereka satu persatu lengkap dengan susunan acara selama di Jogjakarta. Aku yakin salah satu dari mereka pasti memiliki waktu luang.


H-2

Sampailah aku di Kampus. Sesuai dengan kebiasaan setiap pagi maka aku harus sarapan dulu. Singgahlah aku sebentar ke salah satu komputer dalam ruangan Pusat kegiatan mahasiswa. Cek e-mail dulu. Dan anda harusnya tahu bahwa cek e-mail hanyalah alibi karena sebenarnya yang kulakukan adalah mengganti status di Facebook. “Ananda siap sedia hehe”. Ah aku tidak sampai hati buka pesan mereka, aku ingin jadi kejutan saja siapa dari 3 itu yang berhasil muncul kemudian. Apabila satu saja yang muncul maka rencana penembakan jadi dilanjutkan. Jika lebih dari satu terpaksa adiku cowok dari Fakultas Alam kugaet buat menemani kami selama perjalanan ke Jogjakarta.


H-1

Akhirnya yang membalas umpan dariku hanya satu, siapa lagi kalau bukan Adinda. Sesuai dugaan dari 3 wanita tadi dia yang paling mungkin menerima ajakan dariku.


Aku tersadar bahwa aku belum packing barang-barang. Sebagai orang yang terbilang jarang naik berpetualang apalagi membawa-bawa carrier yang super berat itu maka bertanya kepada ahlinya adalah salah satu keputusan yang tepat.Ya, sebagai seorang yang taat peraturan dan sangat teoritis, aku percaya bahwa ada teorinya dalam memasukkan barang-barang ini. Dan aku tidak mau salah dalam menerapkan teori itu.


Kebetulan adinda adalah anak MAPALA yang sudah kenyang malang-melintang di dunia perkempingan. Dengan semangatnya dia mulai memberikan ceramah kepadaku.


“Jadi Mas, untuk barang-barang yang jarang dipakai letakkan di tempat paling bawah. Untuk jaket dan barang-barang yang akan terus digunakan letakkan di paling atas. Barang-barang semuanya harus diletakkan ke dalam plastik. Jangan sampai tembus air.”

Ia belum selesai. Kalimat lanjutannya ini perlu aku pisahkan karena membuat aku terkaget-kaget karena terdengar tidak masuk akal.

“Kalau bisa bahkan jangan sampai udara bisa masuk.”

Berlebihan memang. Emang pakaian bisa basi apa. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati apa yang disampaikan ini sebenarnya kuliah tentang packing barang-barang apa kuliah tentang “standar operasional pelaksanaan” agar makanan kaleng yang anda produksi tidak mengalami kerusakan. Ah entahlah sebagai manusia awam aku mengangguk-angguk saja. Temanku yang satu ini memang agak di luar patron manusia normal kalau sedang bicara, jadi aku ambil yang logis-logis saja dari nasihat-nasihatnya.


Hari H

Aku berangkat menuju kos adinda dengan menggunakan pakaian yang paling gembel. Asumsiku, hal ini memperkecil probabilitas terjadinya perampokan atau pencurian di jalan. Face validity haruslah mampu meyakinkan orang-orang bahwa gerombolan ini tidak memiliki apa-apa untuk diambil. Pikiran yang sesat memang. Sebodoh-bodohnya orang di dunia ini pastinya tahu kalau orang yang ingin melakukan perjalanan jauh mestinya membawa bekal uang yang cukup. Dan satu hal penting lainnya, harusnya yang menjadi perampok ataupun pencuri bukanlah orang bodoh. Terbukti ia masih di luar, belum tertangkap.


Menuju TKP

Akhirnya semua komplit. Maka berangkatlah kami berdua menuju parkiran. 


Agar cepat dan tidak sempit digunakanlah sepeda motor lama yang kumiliki agar mudah menjelajah alam Jogja.


Inilah awal mula kisah kami berdua yang kemudian hanya terjalin 7 bulan lamanya karena saya sudah keburu wisuda dan diterima bekerja di salah satu perusahaan di luar Jawa