Cerbung Islami

24 Maret 2013 22:28:59 Dibaca :

Potongan-Potongan Mimpi

(Makhluk Luar Bumi)

Pagi ini adalah pagi yang cerah. Sinar matahari terasa hangat dan kicauan burung di pepohonan terdengar begitu merdu. Pagi seperti inilah yang sangat disukai oleh Fikrul Ilmi, remaja 17 tahun yang duduk di kelas XII SMA yang selalu bersemangat dengan kehidupannya. Ia sedang dalam perjalanan ke sekolah ketika tiba-tiba temannya, Hasan Al-Bana memanggil-manggil namanya dari belakang. Fikrul menoleh dan berhenti untuk menunggu temannya mendekat. "Assalamu'alaikum" sapa Hasan. "Wa'alaikumsalam" sahut Fikrul. "Wah, wah, wah... apa yang membuatmu berangkat ke sekolah sepagi ini?" Hasan tersenyum. "Tidak ada. Hanya saja aku tidak bisa tidur semalaman sehingga aku memutuskan untuk berangkat ke sekolah lebih awal" jawab Hasan. "Oh ya? Apakah ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Fikrul sambil memberi tanda pada temannya untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah. "Aku tidak yakin apakah aku harus menceritakannya padamu atau tidak..." jawab Hasan dengan ragu. Ia diam untuk beberapa saat, begitu juga dengan Fikrul. "Tapi ... Baiklah akan kuceritakan" lanjutnya. "Kau tidak perlu menceritakannya jika kau merasa ragu." "Ah, tidak... Aku tadi hanya bercanda. Sebenarnya aku memang berencana untuk menceritakan hal ini padamu, sekaligus meminta tanggapanmu mengenainya" ujar Hasan. "Well... kalau begitu apa yang ingin kau ceritakan?" "Tadi malam aku memimpikan sesuatu. Mimpiku terbagi dalam tiga potongan mimpi yang membingungkan. Dalam mimpi yang pertama aku melihat ada sebuah planet, mirip dengan bumi, tapi aku tahu itu bukan bumi karena ada lebih banyak daratan dibanding lautan. Setelah itu mimpiku terputus, dan berlanjut ke mimpi yang kedua. Di dalam mimpi yang kedua ini aku melihat sebuah satelit. Bukan satelit alam, namun satelit buatan. Lebih tepatnya, satelit buatan yang tidak dibuat oleh manusia!" cerita Hasan dengan penuh gairah. "Kalau bukan manusia yang membuatnya, lalu siapa?" tanya Fikrul kebingungan. Hasan menggelengkan kepala. "Entahlah... aku juga tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah bahwa pertanyaanmu salah. Bukan 'siapa' yang membuatnya, tapi 'apa' yang membuatnya?" Fikrul terlihat semakin bingung. "Apa maksudmu?" katanya. ''Yang membuat satelit itu adalah sekumpulan makhluk yang tidak pernah kita jumpai di bumi. Mereka memiliki 4 lengan dan 2 kaki yang panjang. Di pundaknya ada semacam sayap. Kelihatannya seperti sayap kupu-kupu, hanya saja jumlahnya yang berbeda. Kupu-kupu biasanya memiliki 4 sayap, sedangkan mereka memiliki 8 sayap." Hasan berhenti sebentar, memperhatikan ekspresi wajah kawannya yang memperlihatkan ketertarikan yang besar atas ceritanya. Kemudian ia melanjutkan, "Kurasa mereka bukan malaikat, dan bukan juga dari bangsa jin..." "Mungkinkah mereka dari bangsa peri?" tanya Fikrul. "Karena aku pernah mendengar bahwa ada seekor peri hutan yang bertubuh kecil tertangkap di wilayah barat, entah Amerika atau Eropa, aku tidak begitu ingat." "Ya, aku juga pernah mendengar tentang hal itu, dan kemungkinan itu memang ada. Tapi aku lebih menduga bahwa mereka adalah ras alien atau semacamnya" ujar Hasan. "Setelah itu apa lagi yang kau lihat di dalam mimpimu?" Hasan baru hendak menjawab ketika ia menyadari bahwa gerbang sekolah sudah terlihat di depan mereka. "Hanya itu yang aku lihat di dalam mimpiku yang kedua. Setelah itu mimpiku terputus dan berlanjut ke mimpi yang ketiga. Tapi kurasa aku tak bisa menceritakannya sekarang karena hari ini adalah giliranku untuk piket kelas. Sudah beberapa kali aku tidak melakukan tugas piketku, jadi sebaiknya aku menggantinya sekarang... biarlah aku membersihkan kelas sendirian karena kelalaianku beberapa minggu ini" ucap Hasan. "Hahaha, tetap semangat ya!" tawa Fikrul. "Ya, baiklah... Sampai nanti." Kemudian Hasan berlari kecil menuju kelasnya (kelas XII-IPA 2) yang berseberangan dengan kelas Fikrul (kelas XII-IPA 1). Belum terlalu jauh ia berlari, ia berhenti sejenak dan membalikkan badannya ke arah Fikrul di belakang, "By the way... aku akan menemuimu lagi di kelasmu jika jam istirahat sudah tiba!" teriak Hasan. Fikrul mengangguk setuju. Ia memperhatikan Hasan yang berbalik kembali menuju kelasnya, kemudian ia sendiri pergi ke kelasnya. Sambil berjalan perlahan ia bergumam, "Kurasa Hasan terlalu banyak menonton film-film yang berhubungan dengan alien atau sebangsanya" pikir Fikrul. "Tapi menarik juga apa yang diceritakannya itu. Aku kagum ia bisa menceritakan kembali mimpinya sejelas itu... " Saat itu pelajaran bahasa Inggris, mata pelajaran yang paling disukai Fikrul. Tapi rupanya mimpi yang diceritakan oleh Hasan terus dipikirkan oleh Fikrul. Hal itu terlihat dari perilakunya di kelas yang tidak seperti biasanya. Saat guru menerangkan materi, ia hanya memandang dengan pandangan kosong ke arah papan tulis, mencatat materi pelajaran seperlunya, dan tidak mengajukan pertanyaan apapun. Hal ini benar-benar merupakan sesuatu yang tidak lazim terjadi, sehingga sang guru menjadi penasaran dan bertanya, "I sense something strange... Is there anything bothering your mind, Fikrul?" Fikrul tersentak kaget. "Ah... n-no, sir!" jawabnya terbata-bata. "Hmm... baiklah jika kamu berkata begitu." kata sang guru, seraya menambahkan "Shall we proceed our lesson, Fikrul?" "Please do" jawab Fikrul disertai anggukan yang mantap, menandakan bahwa ia sudah menguasai pikirannya kembali. Setelah bel yang menandakan pergantian pelajaran berbunyi, Fikrul bangkit dari tempat duduknya dan cepat-cepat pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku astronomi dan kemudian kembali ke kelas sebelum pak Rahmat, guru mata pelajaran Fisika masuk untuk mengajar. Ia masih punya cukup banyak waktu untuk membaca buku yang dipinjamnya itu, karena pak Rahmat memang selalu masuk agak terlambat. Ia membalik halaman-halaman buku itu dengan cepat. Nampaknya ia sedang mencari suatu pengetahuan tertentu di buku itu, namun tak mendapatkannya. Akhirnya ia menutup buku itu. Ekspresi ketidakpuasan nampak jelas terlihat di wajahnya. "Percuma," desahnya "aku sudah menduga dari awal bahwa aku tak mungkin menemukan hal seperti itu di buku ini." Tak lama kemudian pak Rahmat masuk dan menyapa murid-murid dari ambang pintu dengan wajah riang seperti biasanya. "Halo, anak-anak... hari yang indah untuk belajar fisika, bukan?" Murid-murid yang tadinya duduk tidak beraturan dan keasyikan mengobrol langsung kembali ke tempat duduk masing-masing dan mengeluarkan buku dari tas mereka. Pak Rahmat tersenyum melihat hal itu, kemudian melangkah dengan mantap menuju mejanya. Ia membuka pelajaran dengan mengajukan pertanyaan sederhana. "Nah, sampai di mana materi kita minggu lalu? Apakah ada yang masih ingat?" Salah seorang murid menjawab, "Minggu lalu kita belajar tentang gelombang bunyi." "Benar, gelombang bunyi. Kalian sudah memahami materi itu dengan sangat baik, itu artinya sekarang kita akan pindah ke bab selanjutnya. Bab ini akan membahas tentang tata surya" kata pak Rahmat. Murid yang lain menyahut, "Pak, apakah nanti kita akan mengadakan praktek? Misalnya meneropong bulan atau semacamnya?" "Tidak, itu tidak mungkin. Kita hanya sekolah di pagi hari, jadi tak ada benda langit yang bisa dilihat kecuali matahari. Dan ingatlah satu hal... jangan pernah mencoba meneropong matahari dengan teleskop secara langsung, karena bola mata kalian bisa terbakar dan kalian akan menjadi buta!" Anak-anak merasa ngeri mendengarnya. Kemudian seorang murid memecahkan perasaan ngeri itu dengan pertanyaannya, "Pak, tadi bapak mengatakan bahwa tidak ada benda langit yang bisa dilihat kecuali matahari di pagi hari, tapi saya juga terkadang melihat bulan." Anak-anak yang lain mengangguk setuju. Pak Rahmat tersenyum lembut dan berkata, "Memang benar bahwa bulan juga terkadang nampak di pagi hari, tapi kegiatan meneropong itu hanya akan bekerja dengan baik bila dilakukan di malam hari." Ia mengelus-elus dagunya dan terdiam untuk beberapa saat. Kelihatannya ia sedang menimbang-nimbang sesuatu. Akhirnya ia mengatakan, "Baiklah, kalau kalian memang benar-benar menginginkannya... Nanti kita akan mengadakan praktek meneropong benda langit. Kebetulan bapak juga punya sebuah teropong bintang sederhana di rumah. Tapi pertama-tama bapak harus meminta izin dari kepala sekolah dan orang tua kalian dulu. Karena kita akan melakukan praktek ini di malam hari... dengan kata lain, di luar jam sekolah." "Horeeeeee..." seru murid-murid kegirangan. Pak Rahmat tertawa bahagia melihat ekspresi murid-muridnya. Kemudian ia mulai membuka bukunya, tanda bahwa ia sudah mulai serius untuk memberikan materi. Murid-murid mengikutinya dengan membuka buku tulis mereka. Fikrul yang sejak awal ingin mengajukan satu pertanyaan penting -walaupun tidak mendapatkan kesempatan- segera menggunakan kesempatan emas ini untuk bertanya, "Pak, sebelum bapak memulai pelajaran, bolehkah saya menanyakan satu hal?" "Tentu saja. Apa yang ingin kamu tanyakan?" kata pak Rahmat seraya tersenyum. "Saya terus memikirkan hal ini sejak jam pelajaran pertama tadi" kata Fikrul. "Menurut bapak, mungkinkah ada bentuk kehidupan lain di planet selain bumi?" "Kemungkinan itu selalu ada. Jagat raya terdiri dari milyaran galaksi yang mengisinya. Sementara galaksi sendiri dibentuk dari triliyunan bintang. Dan kita juga tahu bahwa bintang-bintang itu dikelilingi oleh planet-planet. Nah, bumi hanyalah satu dari sekian banyak planet yang bertebaran di jagat raya. Tidak mustahil jika di planet-planet lain terdapat bentuk kehidupan seperti halnya di bumi. Hanya saja, menurut seorang astronom bernama Stephen Hawking, bentuk kehidupan di planet lain itu mungkin tidak seperti bentuk kehidupan yang biasa kita lihat di bumi. Bentuk kehidupan makhluk luar bumi mungkin masih terbilang primitif. Tidak seperti makhluk bumi yang sangat cerdas, contohnya manusia." Pak Rahmat mengambil napas sebentar, kemudian melanjutkan "Itulah sebabnya kita tidak pernah benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri adanya alien atau UFO. Kebanyakan kita hanya mendengar hal ini dari media massa. Dan kita tahu bahwa media massa itu dapat dibeli dengan uang, asalkan punya uang yang banyak. Media massa sudah dikuasai oleh segelintir orang... Dan mereka meraup keuntungan yang besar dari media massa yang mereka miliki. Mungkin saja berita-berita tentang alien atau UFO adalah salah satu kebohongan terbesar mereka, sama seperti ramalan kiamat suku Maya yang sudah terbukti tidak benar. Ramalan kiamat itu hanyalah sebuah omong kosong yang dibesar-besarkan agar masyarakat percaya dan terus mencari informasi mengenainya. Dan tahukah kalian bahwa sumber untuk mendapatkan informasi yang dianggap paling akurat oleh masyarakat adalah media massa? Itu artinya, para penguasa media massa ini mengelabui kita agar mereka mendapatkan uang yang banyak melalui berita-berita di media massa mereka." Fikrul dan siswa yang lain terdiam mendengarkan penjelasan gurunya yang sangat panjang dan agak membingungkan itu. Bagi Fikrul, apa yang telah dijelaskan oleh pak Rahmat sudah menjawab pertanyaannya untuk sementara waktu. Sebenarnya ia mempunyai pertanyaan yang lain untuk ditanyakan, tapi setelah ia memikirkannya lebih jauh, ia memutuskan untuk mencari jawabannya pada sumber yang lain saja. Karena jika ia menanyakannya pada pak Rahmat lagi, kemungkinan gurunya itu akan menjelaskannya dengan penjelasan yang panjang seperti yang baru saja ia lakukan, dan itu akan sangat menyita waktu pelajaran hanya untuk membahas masalah alien yang keberadaannya pada hakikatnya masih belum jelas. "Oh, ya..." ucap pak Rahmat, "Hasan Al-Bana dari kelas XII-IPA 2 juga menanyakan hal serupa sewaktu bapak mengajar di kelasnya tadi." "Wah, berarti kami memiliki pemikiran yang sama" kata Fikrul. "Itu bagus... setidaknya bapak tahu bahwa murid-murid bapak nantinya bisa bekerjasama dengan baik meskipun kelas mereka berbeda" ujar pak Rahmat. Fikrul tersenyum pada pak Rahmat, kemudian sibuk dengan pikirannya kembali. "Sepertinya Hasan benar-benar memikirkan mimpinya dengan serius. Aku penasaran dengan potongan mimpi ketiga yang belum diceritakannya itu" pikirnya. Akhirnya bel yang menandakan waktu istirahat berbunyi. Fikrul duduk di dalam kelasnya untuk menunggu Hasan sambil membaca buku astronomi yang dipinjamnya. Lima menit ia menunggu, namun Hasan belum juga datang. "Tak apalah, akan kutunggu sebentar lagi" gumamnya. Setelah 12 menit menunggu, ia mulai gelisah karena waktu istirahat akan segera berakhir. Ia bangkit dan mendesah, "Baiklah, ini sudah cukup lama. Lebih baik aku yang menemuinya di kelasnya." Kemudian ia berjalan cepat menuju kelas Hasan, namun ia tak melihat Hasan di sana. Ia bertanya pada beberapa teman Hasan yang ada di dalam kelas, namun mereka juga tidak tahu kemana ia pergi. Fikrul menduga bahwa Hasan mungkin pergi ke perpustakaan seperti yang ia lakukan tadi, jadi ia memutuskan untuk pergi menyusulnya. Ia baru hendak melangkah ke perpustakaan ketika bel tanda istirahat berakhir berbunyi. Dengan langkah lesu ia kembali ke kelasnya dan menghabiskan sisa waktu sekolahnya dengan rasa ingin tahu yang besar memenuhi pikirannya. Setelah jam pelajaran terakhir usai, Fikrul cepat-cepat menyimpun alat tulisnya dan terburu-buru keluar kelas dengan harapan menemui Hasan di kelas XII-IPA 2. Karena tergesa-gesa, ia tidak sadar kalau tali sepatunya terlepas. Baru beberapa langkah, ia sudah tersandung tali sepatunya sendiri. Ia sudah pasti terjatuh kalau saja Hasan tidak menangkap lengannya. Rupanya Hasan sudah menungguinya di luar kelas. "Wow, hati-hati, kawan..." kata Hasan seraya membantu temannya berdiri tegak. "Hasan!" teriak Fikrul kegirangan. "Hahaha... maaf, tadi aku tidak menemuimu sewaktu jam istirahat karena ada sesuatu yang harus kulakukan." "Apakah tadi kau pergi ke perpustakaan?" "Ya, rencananya begitu. Tapi aku mengurungkan niatku, karena aku ingin menemui pak Abdul Malik." "Pak Abdul Malik? Untuk apa? Bukankah beliau guru agama kita? Kalau ingin menanyakan tentang alien mestinya kau pergi ke guru Fisika. Tapi kau tidak perlu melakukannya karena kau sudah menanyakan hal itu di kelas, bukan?" kata Fikrul seraya mengikat kembali tali sepatunya yg lepas. "Ya, tapi ada sesuatu yang lain yang ingin aku tanyakan pada pak Malik. Ini juga berhubungan dengan mimpiku." "Oh... apakah hal itu berhubungan dengan mimpimu yang ketiga?" "Ya dan tidak." "Apa maksudmu?" tanya Fikrul kebingungan. "Aku masih bingung dengan potongan mimpiku yang ketiga" jawab Hasan dengan lesu. "Ceritakanlah padaku potongan mimpimu yang ketiga itu. Aku sangat penasaran akan hal itu sejak tadi pagi" desak Fikrul. "Baiklah, tapi ayo kita bercakap-cakap sambil berjalan pulang. Aku ingin cepat-cepat beristirahat di rumah karena aku punya rencana untuk dilakukan sore ini. Kau boleh ikut kalau kau mau" kata Hasan. Ia menerawang ke langit sejenak, lalu berkata, "Aku melihat Al-Qur'an di dalam mimpiku yang ketiga." Setelah diam beberapa saat ia melanjutkan, "Al-Qur'an ini melayang-layang di ruang angkasa tanpa gravitasi. Aku bisa melihatnya melayang dengan latar belakang bintang-bintang serta benda-benda langit lainnya seperti nebula, galaksi, komet, dan lain-lain. Namun aku tak mengerti apa hubungannya dengan dua potongan mimpiku yang lebih awal." Hasan terdiam sejenak, memperhatikan kebingungan yang juga terpancar dari wajah temannya. Ia melanjutkan kembali, "Maksudku, Al-Qur'an memang tidak diciptakan di bumi. Melainkan diturunkan Allah dari langit, sebagian demi sebagian melalui perantara malaikat Jibril. Jadi kurasa tidak ada yang salah atau aneh jika Al-Qur'an melayang-layang di langit seperti itu. Tapi aku tetap merasa bahwa ketiga potongan mimpi ini saling berhubungan, entah dengan cara apa, yang jelas ketiganya memiliki hubungan yang erat" jelas Hasan. Selama Hasan bercerita, Fikrul nampak berpikir keras. Ia sedang berusaha mengaitkan ketiga potongan mimpi itu namun sepertinya ia juga tidak melihat hubungan antara mimpi yang ketiga dengan dua mimpi sebelumnya. Jadi ia hanya menanyakan, "Lalu apa yang ingin kau tanyakan pada pak Abdul Malik? Dan apa rencanamu untuk sore ini?" "Tadi aku ingin menanyakan pada beliau bagaimana pendapat Islam mengenai kemungkinan adanya kehidupan di planet selain bumi. Tapi aku tak dapat menemukan beliau, padahal aku sudah menghabiskan jam istirahat untuk mencarinya keseluruh sudut sekolah, termasuk ke kelasmu juga." "Aku tidak melihatmu datang ke kelasku... mungkin kau datang ke kelasku sewaktu aku pergi ke kelasmu" kata Fikrul dengan suara pelan yang hampir tidak dapat didengar oleh Hasan. "Nanti sore aku berencana menemui ustadz Syarif Anwar di masjid Al-Mubarak dan menanyakan padanya tentang eksistensi makhluk luar bumi bila ditinjau dari pandangan Islam" kata Hasan. "Baiklah, aku akan ikut denganmu. Jam berapa ia biasa ada di masjid? Aku tak tahu karena aku biasanya shalat di musholla Nurul Iman." "Ia biasanya sudah ada di masjid sekarang untuk bersiap-siap mengimami shalat dzuhur, tapi kita tak bisa menemuinya hingga ba'da shalat ashar karena ia masih harus mengajar anak-anak mengaji." Tanpa terasa, rumah Fikrul sudah tinggal beberapa langkah lagi di depan. Fikrul segera berpamitan pada temannya dan masuk ke rumahnya. Setelah makan siang, ia pergi ke musholla untuk shalat dzuhur berjamaah, kemudian kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak. Namun rupanya ia terus memikirkan tentang mimpi Hasan -khususnya potongan mimpi yang ketiga. Sambil berbaring ia mencoba mengait-ngaitkan antara potongan mimpi yang satu dengan yang lain. Lama sekali ia memikirkan hal itu -2 jam berlalu tanpa terasa- tetapi pada akhirnya ia berhasil menguak misteri dari mimpi yang ketiga. Ia segera menelepon Hasan dan menjelaskan hal itu padanya. Hasan terdengar kaget dan juga sependapat dengan penjelasan Fikrul. Ia mengatakan bahwa Fikrul memiliki kemampuan analisis yang tajam dan ia kagum dengan kemampuan temannya itu. Fikrul tertawa saja mendengarnya. Sebelum adzan ashar berkumandang, Fikrul dan Hasan sudah ada di masjid. Mereka menunaikan shalat berjamaah yang diimami oleh ustadz Syarif Anwar. Kemudian setelah sebagian besar jamaah sudah bubar, mereka mendekati sang ustadz yang masih duduk di tempatnya mengimami shalat tadi. "Assalamu'alaikum, ustadz Syarif" sapa Hasan. "Wa'alaikumsalam warahmatullah" jawab ustadz Syarif. "Bolehkah kami mengajukan beberapa pertanyaan pada Ustadz? Kami sudah memikirkan tentang masalah ini sejak tadi pagi dan juga sudah berusaha mencari jawabannya kesana-kemari, tetapi nampaknya kami masih bingung tentang beberapa hal" kata Hasan. "Silahkan... duduklah dan beritahukan pada saya apa yang ingin kalian ketahui" kata ustadz Syarif sembari tersenyum dan membetulkan posisi duduknya. Kedua anak itu langsung duduk di hadapan ustadz Syarif. Hasan segera membuka diskusi, "Begini, ustadz... ini tentang mimpi saya semalam yang terdiri dari tiga potongan mimpi yang membingungkan..." Hasan menjelaskan potongan mimpi yang pertama dan kedua sementara ustadz Syarif mendengarkan dengan seksama dan Fikrul sudah tidak sabar ingin berbicara juga. Kemudian Hasan bertanya, "Jadi tujuan kami menemui ustadz adalah untuk menanyakan bagaimana pandangan Islam mengenai keberadaan makhluk di luar planet bumi, tentunya bukan makhluk seperti jin dan malaikat, namun makhluk dengan wujud nyata dan memiliki pemikiran yang cerdas seperti halnya manusia." Ustadz Syarif menerawang sejenak kemudian berkata, "Penjelasan mengenai hal itu tidak secara eksplisit diterangkan di dalam Al-Qur'an maupun Al-Hadits, namun bukan berarti makhluk luar bumi -yang sering disebut sebagai alien- itu tidak ada" ia berhenti untuk melepas sorbannya dan berdiri untuk menyalakan salah satu kipas angin. Ia berkata, "Ini akan menjadi pembicaraan yang menyenangkan, jadi lebih baik kita menciptakan suasana yang menyenangkan pula" setelah mengatakan hal itu ia kembali ke tempat duduknya tadi dan berkata, "Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Asy Syuura ayat 29 yang artinya: "Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya."" Fikrul angkat bicara, "Lalu apa maksud ayat itu, ustadz?" Ustadz Syarif membukakan Al-Qur'an beserta terjemahannya untuk mereka, kemudian menunjukkan ayat yang dimaksud. "Coba perhatikan kalimat "makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya."" Kedua anak itu langsung melihat ayat yang ditunjukkan ustadz Syarif. "Makhluk melata yang dimaksud disini bukanlah jin maupun malaikat, karena makhluk melata berarti makhluk yang memijakkan kakinya di tanah seperti manusia dan hewan. Dan Allah menyebarkan makhluk-makhluk seperti itu pada langit dan bumi. Itu artinya, makhluk hidup mungkin tidak hanya terdapat di bumi saja namun juga terdapat di langit, di planet lain. Hanya saja teknologi dan pengetahuan manusia masih terbilang sangat kurang, sehingga kita tidak pernah menjumpai ataupun hanya sekedar menemukan bukti kecil tentang keberadaan makhluk-makhluk itu. Mungkin di masa depan, insya Allah, saat teknologi manusia sudah sangat maju dan pengetahuan manusia berkembang sangat pesat, kita bisa menemukan bukti-bukti adanya kehidupan di planet selain bumi." Hasan nampaknya hendak menanyakan sesuatu, tapi Fikrul sudah mendahuluinya, "Ustadz, menurut ustadz bagaimana rupa makhluk hidup yang kemungkinan ada di planet lain itu?" Pertanyaan itu dijawab sederhana oleh ustadz Syarif, "Wallahu a'lam. Kita tidak mungkin tahu tentang rupa mereka selama kita belum benar-benar melihat mereka. Wujud mereka mungkin sama seperti manusia yang memiliki akal, atau mungkin seperti binatang yang hanya memiliki nafsu, atau..." ustadz Syarif berhenti dan berpikir selama beberapa saat. Karena tidak sabar, Fikrul mendesak, "Atau apa, ustadz?" "... atau tidak mirip sama sekali dengan makhluk-makhluk yang hidup di bumi. Mungkin saja wujud mereka seperti makhluk yang dilihat Hasan di dalam mimpinya." "Lalu bagaimana pendapat ustadz mengenai lingkungan tempat tinggal mereka? Maksud saya, mungkinkah mereka hidup di planet yang mirip dengan bumi? Menghirup oksigen, makan sesuatu dari jenis binatang maupun tumbuhan, dan melakukan sesuatu sama seperti yang dilakukan makhluk-makhluk bumi?" "Belum tentu seperti itu... Mungkin saja mereka menghirup gas selain oksigen dan makan makanan yang tidak pernah kita jumpai di bumi, tepatnya makanan yang bukan berasal dari jenis binatang maupun tumbuhan. Mungkin saja mereka hidup di lingkungan yang keras seperti di dalam gunung berapi atau di bawah lautan. Dan mungkin juga mereka melakukan hal-hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan sama sekali oleh makhluk yang hidup di bumi" jelas ustadz Syarif. Fikrul dan Hasan kagum mendengar penjelasan ustadz Syarif. Kemudian Fikrul melirik ke arah Hasan dan mengangguk, memberikan isyarat pada Hasan untuk segera menceritakan potongan mimpinya yang ketiga. Hasan berkata, "Ustadz, bolehkah saya menceritakan mimpi saya yang ketiga?" "Ya, saya sudah menunggu hal itu dari tadi. Silahkan..." Maka Hasan pun menceritakan potongan mimpinya yang ketiga. Kemudian ia berkata, "Menurut Fikrul, hubungan mimpi saya yang ketiga dengan dua mimpi sebelumnya adalah; apakah mungkin makhluk-makhluk yang hidup di luar bumi ini memiliki agama? Dan kalau ya, apa agama mereka? Apakah mereka memiliki Al-Qur'an? Kalau ya, bagaimana cara Al-Qur'an bisa sampai pada mereka sementara Al-Qur'an diturunkan di bumi dan tak ada yang pernah membawanya ke luar bumi?" Ustadz Syarif nampak berpikir lebih dalam. "Itu pertanyaan yang sulit" katanya kemudian. "Saya tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang hal itu. Tapi saya yakin bahwa semua makhluk telah diperintahkan untuk bersujud hanya kepada Allah. Jadi, kalau benar ada kehidupan di planet lain, pastilah mereka juga sudah mendengar perintah Allah tersebut. Dan mungkin mereka juga memiliki Al-Qur'an. Entah dengan cara apa Al-Qur'an bisa sampai ke sana, yang jelas kita tahu bahwa Al-Qur'an disampaikan oleh Rasulullah SAW yang merupakan rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam, jadi pastilah ada suatu cara yang tidak mungkin kita ketahui bagi Al-Qur'an untuk menjangkau seluruh alam semesta dengan cahayanya." Akhirnya rasa penasaran yang sejak tadi pagi berurat akar di hati Fikrul dan Hasan sekarang telah sirna. Mereka merasa sangat puas dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh ustadz Syarif. Mereka kemudian berpamitan padanya dan berjalan pulang. Dalam perjalan pulang mereka bercakap-cakap tentang ilmu yang sudah mereka dapatkan dari ustadz Syarif. "Sekarang aku merasa sangat lega dan terbebas dari rasa penasaran yang sejak tadi pagi menggangguku" ujar Fikrul. "Ya, dan aku juga terbebas dari rasa penasaran yang sejak tadi malam menghantuiku" balas Hasan. "Ustadz Syarif memang seorang yang sangat cerdas, ia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang kemungkinan adanya alien ini dengan penjelasan yang luar biasa, meskipun kita tahu bahwa beliau tak pernah belajar sama sekali tentang hal ini." "Ya, itu karena beliau berpegang pada Al-Qur'an. Ia mendapatkan pengetahuannya itu berdasarkan pemahamannya mengenai Al-Qur'an." Hasan tersentak mendengar pernyataan Fikrul. Ia kemudian berkata dengan nada kagum, "Ternyata potongan mimpiku yang ketigalah yang memberikan jawaban atas rasa penasaranku. Itu benar-benar di luar dugaanku sama sekali." Fikrul tersenyum mendengar perkataan sabahatnya. "Kurasa aku ingin mempelajari Al-Qur'an dengan lebih serius mulai saat ini. Karena aku ingin mendapatkan hikmah dari mempelajari Al-Qur'an seperti yang didapatkan oleh ustadz Syarif." Hasan mengangguk setuju. Kemudian mereka menghabiskan sisa perjalanan pulang mereka dalam kesunyian -sibuk dengan pikiran mereka masing-masing mengenai segala hal yang sudah mereka alami pada hari itu.

Rega Anantyo Rinaldy

/regadelionheart

I am a writer. I will publish nothing but my own writings. Well, actually I'm still learning to be a good writer...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?