PILIHAN HEADLINE

Kita Semua Rentan Depresi

18 Maret 2017 07:11:48 Diperbarui: 18 Maret 2017 17:39:16 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Kita Semua Rentan Depresi
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

Saat menuliskan tulisan ini saya sedang berada di Malang, Jawa Timur dalam rangka menghadiri Konfrensi Nasional Psikoterapi yang ke-VI. Semalam saat baru saja hendak pulang menuju hotel, saya membaca "mention" di Twitter saya @mbahndi yang mengatakan ada kasus bunuh diri yang disiarkan langsung lewat Facebook Live oleh pelakunya. Video FB Live tersebut menjadi tontonan baik di Facebook dan Youtube. Link dari salah satu harian online yang memuat berita tersebut juga ditautkan pada "mention" tersebut. Saya kemudian langsung berinisiatif segera. Saya langsung menuliskan status di Twitter dan Facebook saya menghimbau agar teman-teman di lingkaran pertemanan dan follower saya tidak ikut menonton dan menyebarkan video tersebut disertai peringatan hati-hati bagi yang sedang tidak sehat jiwanya untuk menonton video tersebut. Kabar terakhir video tersebut tidak lagi bisa ditonton di Facebook. 

Pemberitaan mengatakan pelaku bunuh diri ini sedang mengalami kesusahan sejak ditinggal istrinya. Dia meniatkan video ini sebagai kenang-kenangan untuk istrinya. Bunuh diri bisa terjadi pada beberapa kasus gangguan kejiwaan terutama sekali adalah gangguan depresi. Gejala depresi yang utama adalah mood atau suasana perasaan hati yang menurun dan tidak adanya harapan akan kehidupan atau rasa putus asa. Kondisi ini ditambah dengan gejala lain seperti susah konsentrasi, perasaan malas dan tidak bertenaga, tidak napsu makan atau sebaliknya berlebihan makan, gangguan tidur dan sering ada ide bunuh diri. Gejala ini berlangsung sekurangnya dua minggu yang mengganggu fungsi sosial dan pribadi yang mengalaminya maka diagnosis depresi bisa ditegakkan. 

Angka kejadian depresi secara global berkisar antara 10-20% dari berbagai penelitian. Kondisi depresi meningkat dua kali lipatnya pada pasien yang juga mengalami gangguan medis kronis dan juga lansia. Perempuan dikatakan dua kali lipat lebih rentan depresi dibandingkan pria. Indonesia sendiri berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dikatakan ada sekiat 6% penduduk atau sekitar 16 juta jiwa (dari 236 juta responden riset) mengalami gangguan mental emosional (depresi dan cemas). Ini hanya yang dilaporkan dari data yang masuk sedangkan kita sering mengetahui bahwa masalah gangguan jiwa seperti fenomena gunung es yang kelihatannya kecil tapi sebenarnya menyimpan potensi yang besar di dalamnya yang tidak terlihat. 

Badan Kesehatan Dunia WHO sendiri pun menyadari hal ini sehingga pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 7 April 2017 nanti tema yang dipilih adalah Depression: Let's Talk. Ini dikarenakan karena masih banyak orang di luar sana yang mengalami depresi tetapi tidak mau bicara. Mereka sering kali malu untuk mengungkapkan perasaan depresi mereka dan sering kali menyimpannya sendiri. Beberapa kesulitan dalam mengungkapkan perasaan depresinya karena stigma yang melekat bahwa depresi artinya lemah. Beberapa di antara kita memang sering menganggap orang yang depresi artinya orang yang tidak bersyukur, kurang iman dan kurang sabar. Padahal, depresi adalah gangguan medis yang bisa terjadi pada siapa saja karena bebagai macam faktor pencetus terutama masalah di otak orang yang mengalami. Penelitian telah membuktikan adanya kadar zat kimiawi di otak yang berkurang serta kelainan kondisi terkait otak. 

Depresi perlu dikenali sejak awal. Bunuh diri terkait depresi juga perlu dikenali gejalanya. Sering kali kita khawatir menanyakan apakah ada keinginan mengakhiri hidup karena takut malah dianggap memicu depresi. Dokter dan profesional di kesehatan jiwa seperti psikiater dan psikolog perlu menanyakan semua pasien depresi tentang adanya ide bunuh diri pada pasien depresi. Walaupun pada beberapa pustaka dikatakan bunuh diri tidak dapat diprediksikan tetapi mungkin dengan membicarakan ide bunuh diri kepada pasien depresi bisa setidaknya memberikan pandangan yang lebih baik kepada pasien. Kita semua rentan depresi. Kehidupan yang ketat dan penuh dengan stres bisa memicu terjadinya depresi. Mari jaga kesehatan jiwa kita dan jika mengalami gejala depresi jangan ragu untuk berobat. Semoga artikel ini membantu. Salam Sehat Jiwa 

Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik Omni Hospital Alam Sutera. Twitter : @mbahndi) 

Andri,dr,SpKJ,FAPM

/psikosomatik_andri

TERVERIFIKASI

Psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik Medis. Lulus Dokter&Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society dan Academy of Psychosomatic Medicine sejak tahun 2010. Anggota dari American Psychosomatic Society dan satu-satunya psikiater Indonesia yang mendapatkan pengakuan Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine dari Academy of Psychosomatic Medicine di USA. Dosen di FK UKRIDA dan praktek di Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang (Telp.021-29779999) . Twitter : @mbahndi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana