Saat Si Putih Mulus Terlepas dari Sekapan Ketika Pingsan Demo

28 Maret 2012 17:03:09 Dibaca :

Demo itu begitu ramai, ribuan mahasiswa, buruh dan aktivis LSM berhadap-hadapan dengan aparat keamanan, saling dorong, tendang dan lempar membuat suasana gaduh dan mencekam.


"Au...Panas, gerah..."Teriak Iis terakhir kalinya sesaat sebelum pingsan. Dia yang bertubuh langsing, putih mulus dan lemah gemulai tak kuasa menahan dehidrasi panas cuaca bersuhu 34.6 derajad celcius.


"Waduh, Iis pingsan. Bawa ke pinggir saja."Empat teman dekatnya membawanya ke tepi jalan dan meletakkannya di bawah pohon rindang, dititipkan pada para pedagang asongan di sana.


"Dik, ini teman saya pingsan. Tolong kasih minum ya?"Aan memberi uang 5000 untuk sebotol air mineral.


"Kurang. sepuluh ribu bang."Kata remaja tanggung yang jual asongan.


"Masak air sebotol begituan mahal banget?"Aan melotot merasa dipermainkan.


"Ini harga demo bang. Resikonya besar jualan saat demo. Jadi harganya naik."Si asongers tak mau kalah ngotot.


Aan pun memberikan uangnya dan kemudian bersama temannya lanjut berdemo.


"Mbak, minum dong..."Si pedagang mulai kasih minum Iis yang lemas pingsan. Lumayan langsing, kulitnya putih agak kemerahan (terbakar kena sinar matahari mungkin ya), tetapi dadanya rata sekali.


Tak ada reaksi si asongers langsung menyiramkan setengah air mineral ke muka Iis, lalu meninggalkan sisanya di samping demonstran langsing nan mulus itu, sendiri.


Lalu ada 3 pemuda yang melihat-lihat aksi demo dari pinggir melihat Iis tergeletak sendirian mulai mendekati.


"Wuih, putih, mulus dan langsing. Kita bawak, yok?"Kata pemuda yang agak tegap dan wajahnya sangar.


"Bawa ke mobilmu dulu saja. Pura-pura mau dibawa ke rumah sakit."kata pemuda kedua yang agak kurus tapi banyak tattonya.


Ketiganya membawa Iis ke mobil minibus mereka dan kalau ada yang bertanya, mereka mengaku mau bawa ke rumah sakit. Agak aneh sih, preman-preman yang biasa malak orang di sekitaran sana kok peduli dengan demonstran?


"Wah, terlalu kurus,ya. Dadanya rata, tapi jadilah."Kata pemuda ketiga yang mukanya berewokan sesaat sesudah Iis dibawa ke mobil.


"Kamu mau menggerayanginya di sini? Ntar dulu,ah. Bawa ke ruko saja dulu."Kata si tegap.


Lalu, mereka bawa Iis dan disekap dalam ruko markas ketiganya dan entah bagaimana mereka mengatur undiannya, si pemuda bertatto banyaknya yang pertama menjamah Iis.


"Mulus, langsing, pakai make up bedaknya, lipsticknya, eyeshadownya, pas banget dan gak menor,tapi dadanya kok rata bener,ya? Kayak laki-laki."Keluh si tatto membuka baju Iis di kamar ruko lantai 2.


"Emang kamu perlu dadanya, langsung aja ke tempat yang penting, kalau sudah selesai, kami gantian!" Teriak yang lain dari luar.


Nah, ketika si preman ini mau ke tempat paling penting, Iis tiba-tiba bangun dan walau lemas masih bisa teriak, "Anjrit, Kambing luh ye! Akikah mau diapain ye?Dasar preman jelek. Akikah nanti lapor sama temen-temen di salon biar ente dibotakin. Pergi sana anjrit!"


"Busyet, bro. Nih demonstran bukan cewek....."Pekik si tatto.


"Waduh, yang bener?"Kedua teman yang lain masuk dan langsung tahu bahwa si putih mulus ternyata banci salon yang entah mengapa terjebak ikut-ikutan demonstrasi.


"Mirip banget cewek. Maaf, mas. Kami kirain cewek tadi. Jadi pada nafsu. Kami persilahkan pulang deh. Tapi saran kami sih, kalau gak kuat demo jangan ikut-ikutan ya? Kalau pingsan lagi dan kebetulan yang bawa kamu cowok-cowok yang suka banci, bahaya juga. Hehehe."Nasehat si preman brewokan.


"Awas ya. Jangan ganggu akika lagi. Nama akika, Iis, lengkapnya Ishak Narsis.....Dadah...Kiss bye yah.."Iis pun pergi dari ruko itu antara marah, cemas dan geram.


Dan dapat dipastikan mulai saat itu dia tidak akan berani ikut-ikutan demonstrasi lagi, karena takut disekap dikirain cewek asli.

Posma Siahaan

/posmasiahaan

TERVERIFIKASI (BIRU)

Bapak Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?