Akhirnya Sepakat "Demo" Ditunda Hingga Lebaran...

30 November 2016 22:21:22 Diperbarui: 30 November 2016 22:32:33 Dibaca : Komentar : Nilai :
Akhirnya Sepakat "Demo" Ditunda Hingga Lebaran...
Demo Dokumen Pribadi

Diera (yang katanya) demokrasi ini mengeluarkan pendapat bahkan berbeda pendapat, sah-sah saja. Akan tetapi kita sering lupa bahwa kita berada pada sebuah negara yang (katanya lagi) berazaskan Pancasila yang didalam butir-butirnya ada kalimat yang berbunyi “ Tidak memaksakan kehendak.” Artinya, berpendapat atau berargumentasi boleh, tapi bukan dengan cara memaksa—terlebih dengan cara kekerasan—bahwa pendapatnya yang paling benar.

Tak hanya pada negara, pada sebuah komunitas atau organisasi sekecil apapun, mengambil keputusan sebaiknya dilakukan dengan musyawarah atau dialog untuk mendapatkan kesapakatan yang baik.

PERDEBATAN PANJANG

Setelah melalui perdebatan panjang dan melelahkan akhirnya mereka sepakat menerima saran saya bahwa demo dicari momen yang tepat. Sepertinya momen yang pas adalah dilaksanakan saat lebaran idul fitri 1438 nanti.

Demo atau meluncurkan atau memamerkan, istilah kerennya launching  suatu produk itu tujuannya adalah pertama agar masyarakat mengenal produk atau hasil karya kita. Setelah mengenal maka bagaimana caranya agar mereka tertarik.

Demikian juga dengan paguyuban kita. Tentunya tak ingin hanya ditonton kalangan sendiri. Pasti ingin dikenal dan ditonton oleh khalayak ramai, yang ujungnya—lantaran Jaran Kepang kita bagus—mereka ingin nanggap pada saat khitanan atau mantu anaknya, atau pada acara-acar lainnya. Namun demikian, dari anggota yang lebih dari 20 orang itu, pro-kontra pasti ada. Maksudnya ada yang ingin cepat-cepat tampil, dan ada juga yang sabar, nunggu pintar dulu.

“Wah terlalu lama itu Pak Dhe, delapan bulan lagi, bosen nunggunya” celetuk beberapa anggota penari pada suatu musyawarah kecil-kecilan, yangkebelet njoget.

“Pokonya  tahun baru (2017) kita harus membuat kejutan masyarakat sini, tak disangka-sangka ternyata baru latihan beberapa bulan sudah mampu tampil menghibur masyarakat”, sambung anggota yang lain penuh semangat.

JALAN TENGAH

Karena saya sudah terlanjur diminta bantuan—awalnya hanya nglaras/menala gamelan—untuk membuat gamelan dan sekaligus melatih karawitan, makanya saya berani memberi saran, atau paling tidak mencarikan solusi bagaimana mereka bisa segera tampil, tetapi tidak terlalu mengecewakan.


Saya tak hanya mendukung bahkan mendorong mereka segera tampil tapi dengan beberapa syarat, mereka pun semangat menyanggupi syarat yang  saya minta:

  1. Membantu melengkapi kekurangan gamelan.
  2. Segera menyelesaikan jaran kepang(kuda yang dibuat dari anyaman bambu)nya
  3. Mempersiapkan kostum atau asesoris lainnya
  4. Harus betul-betul hafal—dalam kepala, kalau pakai not yang ada dibuku itu baru luar kepala—paling tidak 10 gending gending sederhana yang sering dipergunakan untuk mengiringi jaran kepang.

“Gamelan kita masih kurang, seperti peking, slenthem, kenong dan beberapa kempul, sanggupkah sampeyan membantu?”

“Sangguuuuppp.....”jawab mereka serempak.

belum-jadi-583ee999f97a61ed048b4587.jpg
belum-jadi-583ee999f97a61ed048b4587.jpg

bikin-bonang-583ee9f61397738b0a2a88e7.jp
bikin-bonang-583ee9f61397738b0a2a88e7.jp

bilah4-583eea20e1afbd320bf2ad07.jpg
bilah4-583eea20e1afbd320bf2ad07.jpg

“Yang tak kalah pentingnya”, sambung saya, “ Harus hafal gending-gending seperti Giro Manyar Sewu, Giro Singo Nebah, Reno-Reno, Ayak-ayakan, Srepeg atau Sampak. Lha selama ini yang hafal baru Gangsaran, Jhatilan dan Pegon. Apakah bisa hafal dalam tempo satu bulan?” tantang saya.

Tiga gending yang saya sebut terakhir memang mudah dihafal, lha wong cuma satu not atau nada. Gangsaran cukup memukul nada 2 (ro/loro), Jathilan nadanya 6 (nem/enem). Kalau itu saja nggak hafal  ya ora usah dadi panjak, keterlaluan!!!Hehehehe....

“Bisaaa....”, jawab mereka lebih semangat.

latihan-2-583eea99f97a6166058b457d.jpg
latihan-2-583eea99f97a6166058b457d.jpg

latihan-583eebea64afbd7f048b457d.jpg
latihan-583eebea64afbd7f048b457d.jpg

“Baiklah, sebagai tambahan, organisasi atau paguyuban kita belum punya nama, mari kita beri nama terlebih dahulu, kalau sudah punya nama dan segala sesuatunya sudah rampung kalau mau peresmian atau kepyakan(ada yang menyebut gebyagan) silakan.”

Itulah “Demo” yang saya maksud. Kepyakan atau peresmian gladhi resik sekalian memperkenalkan diri kepada masyarakat bahwa disini telah berdiri sebuah perkumpulan atau paguyuban Jaran Kepang yang bernamaaaaa............................tunggu postingan berikutnya.  

PAK DHE SAKIMUN

/pakde-sakimun

TERVERIFIKASI

Sedang menapaki sisa usia. Mencari teman canda di dunia maya. Hobi apa saja termasuk membaca dan (belajar) menulis. Bagi saya belajar itu tak berbatas usia. Menuntut ilmu dari ayunan hingga liang lahad. Motto : Seribu orang teman sangat sedikit, dan satu orang musuh terlalu banyak.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article